Kediri, insanimedia.id – Fenomena udara dingin atau bediding pada musim kemarau membawa dampak besar bagi para pembudidaya ikan cupang di Kota Kediri. Salah satunya dialami Andriyansah, peternak asal Kelurahan Ketami, Kecamatan Pesantren, yang harus menanggung kerugian hingga Rp50 juta setelah sekitar 10 ribu ekor ikan cupang miliknya mati dalam waktu singkat.
Cuaca yang seharusnya menjadi keuntungan saat musim kemarau justru berubah menjadi ancaman bagi usaha budidaya yang telah lama ia tekuni. Ratusan toples dan kolam yang biasanya dipenuhi ikan cupang berwarna-warni kini banyak yang kosong akibat kematian massal.
“Kalau orang lain mungkin senang udara sejuk begini. Tapi buat saya, suhu dingin ini seperti mimpi buruk,” ujar Andriyansah dengan nada berat, sambil menatap sisa-sisa kolam budidayanya.
Ia menjelaskan, ikan cupang berkembang lebih baik ketika suhu air berada dalam kondisi hangat. Namun, selama musim kemarau, suhu air di kolam budidayanya turun cukup tajam. Pada pagi hari, suhu air hanya berkisar 21 hingga 22 derajat Celsius, sedangkan pada siang hari berada di kisaran 27 hingga 30 derajat Celsius.
“Sebenarnya tidak ada penyakit yang menyerang. Tapi suhu yang terlalu rendah ini bikin metabolisme ikan kacau. Mereka jadi malas makan, pencernaannya terganggu, lama-lama tubuhnya makin lemah dan akhirnya mati,” cerita bapak yang sudah bertahun-tahun menekuni budidaya ini.
Menghadapi kondisi tersebut, Andriyansah mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi risiko kerugian. Ia mengurangi jumlah ikan yang dipelihara sekaligus memodifikasi kolam agar suhu air tetap stabil dan lebih hangat.
Meski mengalami kerugian besar, ia mengaku tetap berkomitmen mempertahankan usaha budidaya ikan cupang yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
“Saya harus berusaha sekuat tenaga. Ini bukan sekadar soal uang, tapi juga cinta saya pada ikan cupang dan harapan bisa terus berbagi keindahan ikan khas Indonesia ini,” tutupnya dengan senyum tipis yang penuh harap.







