Mengungkap Relasi Kuasa Kiai Jebres: Bagaimana KH. Mochsin Wahab Menaklukkan Tata Ruang Blitar?

Penulis: Sulkhan Z

Insani Media

 

​insanimedia.id – Peringatan Haul KH. Mochsin Wahab pada 26 Juli 2026 di Graha NU Blitar bukan sekadar ritus komemoratif tahunan. Momentum ini merupakan ruang refleksi krusial untuk mendedah genealogi kekuasaan sang mu’assis NU Blitar Raya.

​Melalui kacamata Michel Foucault, kiprah Kiai Jebres memperlihatkan formasi pengetahuan yang terakumulasi menjadi otoritas. Pengetahuan dan kekuasaan ini adalah dua entitas yang saling memproduksi, atau power/knowledge.

​Otoritas tersebut lahir dari persilangan diskursus keilmuan kolonial dan tradisional pesantren. Beliau menempuh pendidikan di HIS dan MULO, sebelum disempurnakan dengan sanad keilmuan dari KH. M. Hasyim Asy’ari.

​Akumulasi pengetahuan hibrida ini melahirkan legitimasi dan kuasa sosial yang kukuh. Hal tersebut memungkinkannya mengartikulasikan kekuasaan secara struktural di berbagai medan jabatan.

​Beliau menduduki berbagai posisi strategis multi-sektor. Posisi ini meliputi Rais Syuriyah NU dua periode, Ketua Pengadilan Agama, hingga anggota Konstituante Pemilu 1955.

​Bagi Foucault, arsitektur adalah instrumen pendisiplinan sosial sekaligus manifestasi fisik kekuasaan. Visi ini diterjemahkan sang kiai secara nyata melalui intervensi atas arsitektur publik.

​Pada tahun 1933, beliau bertindak sebagai arsitek perancang serambi utara dan selatan Masjid Agung Kota Blitar. Masjid bertransformasi menjadi aparatus diskursif untuk meneguhkan identitas kaum santri.

​Dialektika kuasa memuncak pada resistensi sang kiai terhadap intervensi birokrasi negara. Beliau menolak keras kehendak Bupati Blitar yang ingin memindahkan pelaksanaan shalat Idul Fitri ke alun-alun.

​Teguran tegas beliau bahwa urusan shalat murni ranah kiai, bukan bupati, menjadi wujud nyata dekonstruksi kuasa birokrasi sekuler. Praktik pendisiplinan ini juga merambah pada penjagaan syariat.

​Sikap disiplin terlihat jelas ketika beliau secara konsisten menolak mengambil sistem bunga bank. Beliau juga memberlakukan larangan keras terkait percampuran gender di ruang kelas.

Baca Juga :  Silaturahmi di Graha NU, Langkah Jemput Bola KPU Blitar Pastikan Iklim Politik Bermartabat

​Rangkaian data historis membuktikan bahwa KH. Mochsin Wahab adalah arsitek peradaban sejati. Beliau sukses memadukan wacana intelektual, struktur politik, dan tata ruang untuk mengokohkan eksistensi agama.