Blitar, insanimedia.id – Paguyuban pedagang kawasan Makam Bung Karno Kota Blitar bertemu dengan Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin untuk menyampaikan aspirasi terkait kebijakan pembukaan akses makam selama 24 jam.
Pertemuan tersebut membahas dampak kebijakan itu terhadap aktivitas pedagang, terutama mereka yang berjualan di area belakang kawasan Makam Bung Karno.
Ketua Paguyuban Pedagang Putra Samg Fajar, Joko, mengatakan pertemuan dengan wali kota menjadi tindak lanjut dari aspirasi pedagang. Sebelumnya, sejumlah pedagang mengaku tidak menerima pemberitahuan terkait penerapan kebijakan tersebut.
“Awalnya teman-teman itu kan tidak ada pemberitahuan. Makanya kami inginnya bertemu langsung seperti ini,” ujar Joko.
Dalam pertemuan itu, kata Joko, Wali Kota Blitar menjelaskan alasan serta tujuan pemerintah membuka kawasan Makam Bung Karno selama 24 jam. Para pedagang memahami penjelasan tersebut, tetapi mereka tetap meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya.
“Hasilnya, apa yang disampaikan Pak Wali itu setidaknya sudah kami pahami. Beliau sendiri akan menampung dan mendengar harapan-harapan dari teman-teman semua, nanti akan dievaluasi untuk ke depan. Barangkali ada yang kurang cocok, nanti tetap dipertimbangkan,” katanya.
Joko menyebut terdapat sekitar 15 hingga 16 paguyuban pedagang yang menjalankan aktivitas usaha di kawasan wisata religi Kota Blitar. Area tersebut membentang dari Makam Bung Karno hingga Istana Gebang.
Khusus di sekitar Makam Bung Karno, terdapat sekitar 10 paguyuban yang menaungi berbagai jenis pedagang. Mereka antara lain pedagang bunga dan pedagang yang berjualan di bagian belakang makam.
Ia memperkirakan jumlah pedagang yang beraktivitas di kawasan Makam Bung Karno mencapai lebih dari 1.000 orang. Namun, pedagang di bagian belakang menjadi kelompok yang paling merasakan dampak perubahan jam operasional makam.
“Khususnya yang di belakang, karena dibukanya itu pagi hari. Di sana kalau siang sudah sepi, kalau malam biasanya di sini pasti terbuka. Tapi ya orang itu enggak buka terus, kadang-kadang mesti tutup, ada jedanya,” jelasnya.
Joko mengatakan para pedagang berharap pemerintah tetap mempertimbangkan pola kunjungan wisatawan dalam mengatur operasional kawasan. Menurutnya, pedagang sebelumnya terbiasa membuka lapak pada siang hari dan menutup aktivitas pada waktu tertentu di malam hari.
Meski menyampaikan aspirasi tersebut, Joko memastikan para pedagang tetap mendukung program pemerintah. Ia menilai kebijakan tersebut memiliki tujuan yang baik dan masih terbuka untuk dievaluasi.
“Kita sebenarnya ikut program pemerintah, itu sangat baik. Semua itu baik. Makanya sampai saat ini saya dan teman-teman pedagang menerima, sebab semua itu masih berjalan, masih ada pertimbangan atau akan dievaluasi ulang,” pungkasnya.







