INSANIMEDIA.ID – Ada satu hal yang seharusnya tidak boleh hilang dalam setiap perdebatan mengenai Makan Bergizi Gratis (MBG), yaitu: keselamatan penerima manfaat. Program ini lahir dari niat yang baik. Justru karena niatnya baik dan skalanya besar, maka setiap persoalan yang muncul harus dibicarakan dengan serius.
Bukan untuk mencari-cari kesalahan. Bukan pula untuk menyerang program pemerintah. Tetapi karena program yang menyangkut makanan dan kesehatan ribuan, bahkan jutaan orang, tidak boleh hanya dinilai dari seberapa banyak makanan berhasil dibagikan. Tapi juga harus dinilai dari seberapa aman makanan tersebut dikonsumsi.
Kasus di Kalitengah, Sidoarjo, menjadi salah satu pengingat penting mengenai hal itu. Ratusan siswa dan santri dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG. Angkanya bukan kecil. Ketika jumlah penerima yang mengalami keluhan mencapai ratusan orang, persoalannya tidak lagi cukup dilihat sebagai insiden individual.
”Dari kasus ini kita bukan lagi layak bertanya, tetapi wajib mempertanyakan: Apakah sistem kita benar-benar siap mengelola makanan dalam skala sebesar itu?”
Dalam pemberitaan mengenai kasus ini, muncul penjelasan bahwa proses pengolahan makanan telah mengikuti prosedur yang berlaku. Makanan dipersiapkan sejak dini hari, kemudian didistribusikan kepada penerima manfaat.
Penjelasan semacam itu tentu perlu didengar. Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting: Apakah mengikuti SOP secara administratif otomatis berarti makanan tersebut aman?
Dalam keamanan pangan, kita tidak cukup hanya bertanya apakah prosedur telah dilakukan. Kita juga harus melihat apakah prosedurnya efektif, apakah pelaksanaannya konsisten, apakah pengawasannya berjalan, dan apakah setiap titik kritis dalam rantai produksi benar-benar terkendali.
Makanan dalam program berskala besar pasti melewati perjalanan yang panjang. Mulai dari pemilihan bahan baku, penerimaan bahan, penyimpanan, pencucian, pemotongan, pemasakan, pengemasan, penyimpanan sementara, pengangkutan, hingga akhirnya dikonsumsi. Jika ada satu saja titik kritis gagal dikendalikan, maka risikonya dapat menjalar kepada banyak orang sekaligus.
Karena itu, ketika terjadi dugaan keracunan massal, pertanyaan kita tidak boleh berhenti pada: “Apakah SOP sudah dijalankan?”. Tetapi kita harus melangkah lebih jauh: “Di titik mana sistem pengendalian risiko mungkin gagal?”
Makanan yang Terlihat Baik Belum Tentu Aman
Ada pula penjelasan mengenai pemeriksaan makanan sebelum dibagikan, termasuk pemeriksaan secara organoleptik. Secara sederhana, makanan dilihat, dicium, dan dicicipi untuk memastikan kondisinya dianggap layak.
Langkah semacam itu tentu memiliki fungsi. Namun, kita juga harus memahami keterbatasannya. Tidak semua kontaminasi pangan dapat dikenali melalui mata, hidung, atau lidah.
Makanan dapat terlihat normal, berbau normal, bahkan terasa normal, tetapi tetap berpotensi mengandung mikroorganisme atau toksin tertentu. Maka pencicipan bukanlah pengganti sistem keamanan pangan. Itu hanya salah satu bagian dari pengendalian. Di sinilah pentingnya membedakan antara “tidak ditemukan masalah secara kasatmata” dengan “telah terbukti aman secara ilmiah.” Keduanya bukan hal yang sama.
Ketika Korban Mencapai Ratusan
Inilah bagian yang paling sulit untuk diabaikan. Jika hanya satu orang yang mengalami gangguan kesehatan, tentu banyak kemungkinan yang harus dipertimbangkan. Tetapi ketika ratusan orang yang mengonsumsi makanan dari sumber yang sama mengalami keluhan dalam periode yang berdekatan, pendekatan kita harus berubah.
Ini bukan lagi semata-mata pertanyaan: “Siapa yang sakit?” Melainkan: “Apa yang terjadi pada sistem?”
Investigasi harus bergerak dari hulu ke hilir:
- Bahan apa yang digunakan?
- Kapan bahan diterima?
- Bagaimana penyimpanannya?
- Kapan makanan dimasak?
- Berapa lama makanan berada pada suhu tertentu?
- Bagaimana makanan dikemas dan transportasinya?
- Berapa lama perjalanan menuju sekolah?
Dan yang tidak kalah penting: Apakah sampel makanan dan sampel biologis korban telah diperiksa secara memadai untuk mengetahui penyebabnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada hanya mencari siapa yang harus disalahkan.
Permintaan Maaf Itu Penting, Tetapi Tidak Cukup
Kita patut menghargai ketika pihak yang bertanggung jawab menunjukkan sikap terbuka dan meminta maaf. Permintaan maaf adalah bentuk tanggung jawab moral. Tetapi dalam sebuah program publik, tanggung jawab tidak boleh berhenti pada permintaan maaf.
Masyarakat membutuhkan penjelasan. Apa penyebabnya? Apa yang gagal? Mengapa kegagalan itu bisa terjadi? Mengapa sistem pengawasan tidak mendeteksinya lebih awal?
Dan yang paling penting: Apa yang akan diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang? Sebab tujuan utama investigasi bukan sekadar menemukan pihak yang salah, tetapi mencegah korban berikutnya.
Keberhasilan MBG tidak semestinya hanya dihitung dari berapa juta porsi makanan yang berhasil disalurkan. Ada ukuran kedua yang sama pentingnya, yaitu: berapa aman makanan itu sampai ke meja penerima manfaat. Karena makanan bergizi yang tidak aman bukan lagi menjadi solusi. Ia justru dapat berubah menjadi sumber persoalan kesehatan.
Maka mungkin sudah waktunya kita memperluas cara pandang terhadap MBG. Jangan hanya bertanya berapa banyak makanan yang sudah dibagikan, tetapi juga:
- Berapa banyak makanan yang diproduksi dengan standar keamanan yang terukur?
- Berapa banyak insiden yang terjadi dan seberapa cepat itu terdeteksi?
- Seberapa transparan hasil investigasinya?
- Dan apakah setiap kejadian menghasilkan perbaikan sistem?
Kasus Kalitengah memang belum boleh menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh program MBG bermasalah. Tetapi kasus ini juga tidak boleh dikecilkan hanya karena penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan.
Di antara dua sikap ekstrem itulah sikap kritis seharusnya berdiri. Tidak membenci programnya. Tidak pula menutup mata terhadap kelemahannya.
Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak selalu mencerminkan kebijakan redaksi insanimedia.id.







