Blitar, insanimedia.id – Penghentian sementara distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cik Ditiro berdampak pada 17 satuan pendidikan dan 5 Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Blitar.
Kebijakan tersebut muncul setelah SPPG Cik Ditiro mendapat suspend menyusul dugaan kasus keracunan yang dialami sejumlah siswa di SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafizhoh.
Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Blitar Titik Nur Azizah menjelaskan, SPPG Cik Ditiro yang berada di Kelurahan Sentul sebelumnya memasok MBG untuk dua sekolah tersebut.
Sejumlah siswa di kedua sekolah itu sempat mengalami keluhan berupa mual dan muntah. Karena SPPG menghentikan sementara operasional distribusinya, satuan pendidikan dan ILP yang menjadi penerima manfaat dari SPPG tersebut ikut terdampak.
“Setelah SPPG Cik Ditiro di-suspend, secara keseluruhan terdapat sekitar 17 satuan pendidikan dan 5 ILP yang sementara tidak mendapatkan distribusi MBG,” ujar Titik.
Titik menegaskan, penghentian penyaluran MBG tersebut hanya bersifat sementara. Pihaknya masih menunggu penyelesaian evaluasi dan berbagai langkah tindak lanjut dari instansi terkait.
Sementara itu, penerima manfaat kelompok B3 yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sejauh ini belum menunjukkan laporan gejala serupa.
Pihak BGN Kota Blitar masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan MBG yang dibagikan pada Rabu (16/9/2026). Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi salah satu dasar untuk mengetahui penyebab keluhan yang dialami para siswa.
Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Kota Blitar Tri Iman Prasetyono menyampaikan bahwa pihaknya memberikan sanksi suspend sementara kepada SPPG yang menyalurkan makanan ke SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafizhoh.
Tri Iman mengatakan, penghentian sementara tersebut berlangsung selama dua pekan dan mulai berlaku sejak Kamis (17/9). Kebijakan itu menjadi bagian dari evaluasi setelah sejumlah siswa di kedua sekolah mengeluhkan mual dan muntah.
Hingga kini, pihaknya belum menetapkan penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan tersebut. Pemeriksaan terhadap sampel makanan masih menjadi bagian dari proses untuk mengetahui penyebabnya.
“Setiap orang memiliki sensitivitas tubuh yang berbeda terhadap bahan makanan tertentu. Terlebih, satu SPPG dapat melayani hingga sekitar 2.000 penerima. Karena itu, SPPG harus semakin berhati-hati dalam proses penyediaan makanan,” katanya.







