BLITAR, insanimedia.id — Pengurus Cabang Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PC LPBI NU) Kabupaten Blitar menggelar program Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) di Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud, Garum, pada Sabtu (24/10/2026). Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini memberikan edukasi sekaligus simulasi langsung penanggulangan bencana kepada jajaran pengasuh, kiai, dewan guru, hingga para santri.
Tingkat Kerentanan Santri
Alasan utama santri menjadi kelompok yang rentan terhadap bencana adalah durasi waktu mereka beraktivitas di satu lokasi. Ketua PC LPBI NU Kabupaten Blitar, Muhammad Safinun Naja, menyoroti bahwa santri menghabiskan waktu 24 jam penuh di lingkungan pesantren.
”Kalau di sekolah, di pendidikan luar, itu hanya 7 atau 8 jam tinggal di sekolah, tapi kalau di pesantren 24 jam anak-anak berada di pesantren,” kata Safinun.
Kondisi tersebut dinilai menjadi kerentanan tersendiri bagi seluruh penghuni pesantren apabila terjadi bencana yang datang tiba-tiba. Oleh karena itu, edukasi kesiapsiagaan menjadi langkah krusial. “PESTANA ini bertujuan untuk meningkatkan ketangguhan pesantren dalam menghadapi bencana,” tambahnya.
Rangkaian Peringatan Hari Santri 2026
Pelatihan di Ibnu Mas’ud ini merupakan bagian dari rangkaian PESTANA yang menyasar tiga pondok pesantren dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Dua pesantren lainnya yang menjadi lokasi pelaksanaan adalah Pondok Pesantren Nurus Salam di Lodoyo dan Pondok Pesantren Nurul Iman Banat di Garum.
Hingga saat ini, LPBI NU Kabupaten Blitar telah berhasil mengimplementasikan program PESTANA di 15 pondok pesantren lintas wilayah. Safinun berharap dukungan dan kerja sama dari masyarakat luas agar program ini terus berlanjut dan membawa manfaat yang lebih luas.
Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud, Umul Fata Afidah, menyambut positif kegiatan ini karena tidak sekadar berhenti pada teori penyuluhan di dalam ruangan. Menurutnya, program ini tidak hanya bermanfaat secara wawasan, tetapi juga memfasilitasi praktik langsung bagaimana santri bisa memahami penanggulangan bencana dengan nyata dan penanganan yang tepat. Ia pun menutup sambutannya dengan seruan semangat, “Pesantren tangguh, tangguh, tangguh!”
Sinkronisasi dengan Data Kebencanaan Nasional
Urgensi pembentukan pesantren tangguh ini sangat sejalan dengan realita kebencanaan nasional. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 3.176 kejadian bencana sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 99,02 persen didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor.
Di sisi lain, jumlah komunitas pesantren yang harus dilindungi sangatlah masif. Data Kementerian Agama tahun 2024/2025 menunjukkan ada 42.433 pondok pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pentingnya penguatan kesiapsiagaan di lingkungan pesantren ini juga telah disuarakan oleh pemerintah daerah di tingkat provinsi. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, secara terpisah menyatakan bahwa edukasi kesiapsiagaan merupakan instrumen penting dan mendesak untuk melindungi seluruh warga pesantren dari risiko bencana.







