Blitar, insanimedia.id – Antrean layanan cuci darah atau hemodialisis di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar mencapai 272 pasien. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 pasien berasal dari Kota Blitar, sedangkan 243 pasien lainnya berasal dari luar daerah. Di sisi lain, rumah sakit hanya mengoperasikan 29 mesin hemodialisis untuk melayani pasien.
Plt Direktur Utama RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar, Bernard Theodore Ratulangi, menjelaskan bahwa rumah sakit memiliki total 32 mesin cuci darah. Namun, pihaknya menyiapkan tiga unit sebagai mesin cadangan sehingga hanya 29 mesin yang beroperasi aktif.
“Jumlah total mesin kita ada 32 mesin dengan 3 mesin cadangan, sehingga operasional aktifnya hanya 29 mesin,” ujar Bernard.
Sementara itu, jumlah pasien yang menjalani hemodialisis secara rutin terus bertambah. Pada 2025, rumah sakit melayani sekitar 132–135 pasien reguler. Jumlah tersebut meningkat menjadi 141 pasien pada 2026.
Bernard mengatakan, kapasitas pelayanan saat ini berada di kisaran 140–145 pasien. Kondisi tersebut membuat rumah sakit harus mengatur pelayanan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan pasien yang membutuhkan terapi cuci darah secara berkala.
“Tercatat saat ini terdapat antrean sebanyak 29 pasien dari warga Kota Blitar, sementara antrean dari pasien luar kota bahkan mencapai 243 orang,” paparnya.
Sebagian besar pasien yang membutuhkan layanan hemodialisis berusia di atas 45 tahun. Diabetes dan hipertensi menjadi sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal hingga menyebabkan pasien memerlukan terapi cuci darah.
Tingginya jumlah antrean di tengah keterbatasan mesin menjadi tantangan tersendiri bagi RSUD Mardi Waluyo. Pasalnya, pasien hemodialisis membutuhkan terapi secara rutin sehingga rumah sakit perlu menjaga ketersediaan fasilitas sekaligus mengatur jadwal pelayanan agar kebutuhan pasien dapat tertangani.
Bernard menegaskan, pihak rumah sakit terus memaksimalkan penggunaan mesin yang tersedia untuk mendukung pelayanan kepada pasien. Rumah sakit juga mengatur daftar antrean agar pelayanan tetap berjalan di tengah keterbatasan fasilitas.
“Pihak RSUD Mardi Waluyo terus berupaya mengoptimalkan operasional 29 mesin aktif tersebut sembari mengelola daftar antrean pasien secara ketat di tengah keterbatasan fasilitas yang ada,” tutupnya.







