Lamongan, insanimedia.id – Wahai Guruh, Kau adalah gema terakhir dari suara Proklamator, Namun gema itu tak memantul di gedung parlemen, Ia memantul di panggung-panggung kesenian.
Jika Megawati menjaga bara politik ayahnya, Jika Rachmawati menjaga api idealismenya, Maka kaulah yang menjaga iramanya, Agar Indonesia tak lupa cara bernyanyi tentang dirinya sendiri.
Kau tak mengeja Trisakti dengan pidato, Kau mengejanya dengan karya: Berkepribadian dalam kebudayaan – itulah Swara Maharddhika, Berdikari dalam seni – itulah langkahmu yang tak pernah meniru Barat.
Lihatlah, Dari Bali kau ambil getar Kecak yang magis, Dari Sunda kau pinang lembutnya kecapi, Dari Jawa kau timang agungnya gamelan, Lalu kau jadikan satu, bukan sekadar kolase, Tapi sebuah kebangsaan yang harmonis.
Dan inilah yang kami pelajari darimu, wahai Maestro, Bahwa Dakwah tak harus selalu di atas mimbar, Adakalanya ia harus di atas panggung, Bahwa Syiar tak harus dengan khutbah yang menggelegar, Adakalanya ia dengan gending yang mengakar. Seperti itulah kami di Lamongan mencoba meneladanimu, Menjahit Islam dengan budaya, Merawat tradisi agar agama tetap berwajah ramah, Itulah Dakwah Kultural, jalan sunyi yang kau ajarkan pada kami.
Orang lain mewarisi nama besar untuk mencari kuasa, Kau mewarisi nama besar untuk memikul tanggung jawab kebudayaan, Sebab kau paham, Sebuah bangsa bisa kehilangan kekuasaan dan merebutnya kembali, Tapi jika sebuah bangsa kehilangan budayanya, ia punah selamanya.
Terima kasih, Guruh.
Hidup Guruh! Hidup Kebudayaan!







