Hapus Prasangka, Tokoh NU dan Muhammadiyah Blitar Bersatu di Majelis Sholawat

Penulis: Sulkhan Z

Insani Media

 

BLITAR, INSANIMEDIA.ID – Perbedaan afiliasi organisasi kemasyarakatan terbukti bukan penghalang dalam merajut tali persaudaraan umat. Semangat kebersamaan ini tercermin jelas dalam peringatan Dzikro Maulidurrosul di Karang Tengah, di mana para tokoh dari tradisi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah duduk bersama dalam satu majelis selawat untuk mengikis prasangka sosial.

​Inisiatif dialog kultural inklusif tersebut digagas langsung oleh Tokoh Penggerak Majelis Burdah, Gus Ulul Azmi.  Secara khusus, ia mengundang Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Blitar sekaligus Korbid Majelis Tabligh dan LP2, Al-Ustadz Ariefudien, untuk menyampaikan tausiah keagamaan guna mempererat kohesi sosial masyarakat di tingkat akar rumput.

​”Ternyata faktanya NU dan Muhammadiyah itu sama saja. Tidak ada perbedaan yang prinsipil dalam konteks mencintai Rasulullah,” ujar Gus Ulul Azmi, selaku Ketua MDS Rijalul Ansor Kecamatan Sananwetan dalam sambutannya.

​Merespons inisiatif tersebut, Al-Ustadz Ariefudien, menegaskan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah mandat universal umat Islam yang tidak dibatasi oleh sekat keorganisasian. Kehadirannya dengan mengenakan sarung turut menjadi simbol rekonsiliasi budaya, sekaligus mempertegas pesan bahwa perbedaan teknis ibadah tidak sepatutnya memicu perpecahan.

​”Kewajiban kita kepada Rasulullah adalah iman dan mahabbah. Saya mendukung penuh majelis seperti ini karena menjadi bukti bahwa cinta kepada Nabi adalah fondasi yang menyatukan kita semua,” tegas Ariefudien di hadapan para jemaah.

​Kegiatan keagamaan yang sarat kehangatan ini ditutup dengan doa bersama, menandai komitmen lintas ormas untuk terus merawat kerukunan melalui pendekatan moderat.

​”Yang penting kita istikamah dalam kebaikan. Kita tunjukkan bahwa Islam yang berkemajuan dan Islam yang berbudaya bisa berjalan beriringan,” pungkas Gus Ulul Azmi.

Baca Juga :  Solidaritas Lintas Pulau, Ikhtiar NU Blitar dan Aceh Tamiang Pulihkan Mental Korban Banjir