insanimedia.id – Hari ini umat Islam merayakan Idul Kurban (Id al-adha). Hari raya ini juga disebut dengan Hari Raya Haji. Karena di hari raya ini umat Islam yang mampu diwajibkan untuk menjalankan ibadah haji. Bagi yang belum mampu atau sudah haji dan memiliki harta disunnahkan untuk berkurban. Yakni menyembelih hewan qurban dan dagingnya sebagian dikonsumsi bersama keluarga, sebagian bagikan dibagikan kepada sanak kerabat dan sahabat, serta sebagian lagi dibagikan kepada fakir dan miskin.
Dalam penyembelihan hewan qurban ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Hewan yang disembelih adalah hewan ternak. Artinya hewan yang diternak seperti domba, kambing, sapi, kerbau dan juga unta. Dalam penyembelihan hewan ternak ini ada makna dan hikmah yang dapat dipetik bagi ummat muslim.
Peristiwa penyembelihan hewan qurban dapat dipahami sebagai sutau proses komunikasi multidimensi. Mulai dari komunikasi intrapersonal, komunikasi transendental, komunikasi hewan, komunikasi sosial, dan bahkan komunikasi politik.
Komunikasi Intrapersonal dalam Kurban.
Secara normatif al-Qur’an menjelaskan alasan mengapa harus hewan ternak, yakni agar manusia menyebut nama Allah atas anugerah yang diterimanya (QS. al-Hajj (22): 34). Tetapi secara sosiologis hikmah qurban dapat diperluas. Hewan ternak menjadi syarat untuk dijadikan hewan qurban karena ada makna tersendiri. Status ternak mengandung makna kepemilikan. Artinya ternak itu dimiliki. Ada interaksi intensif antara hewan ternak dengan peternaknya. Dalam konteks ini ada unsur kedekatan. Selain itu ada unsur ikhtiar peternak terhadap hewan ternak, yakni merawat hewan ternaknya.
Dalam konteks ekonomi, merawat ternak mengandung aspek biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak. Ketika seseorang memiliki sejumlah ternak dan telah mengeluarkan biaya untuk merawatnya, ada kemungkinan peternak memiliki rasa ‘eman’ atau enggan untuk menyembelihnya secara cuma-cuma. Karena ada nilai material tertentu yang hilang ketika disembelih dan dagingnya dibagikan kepada sanak kerabat dan fakir miskin.
Di sisi lain interaksi peternak dengan hewan ternaknya dimungkinkan memiliki kedekatan psikologis dengan hewan ternaknya. Sehingga, ketika harus disembelih sangat mungkin peternak akan merasa sayang dan tak tega.
Dalam konteks ini menyembelih hewan korban dimungkinkan melalui proses komunikasi intrapersonal yang cukup mendalam. Seorang yang berqurban (mudlahi) hampir pasti mengalami dialog batin sebelum akhirnya memutuskan berkorban. Ada orang yang meneteskan air mata saat melepas ternaknya yang akan disembelih untuk qurban. Tetesan air mata adalah simbol kedekatan emosional antara peternak dengan ternaknya. Tetesan air mata sekaligus juga sebagai bentuk representasi komunikasi intrapersonal peternak saat melepas ternaknya untuk dijadikan sebagai qurban.
Komunikasi Transendental Kurban.
Ada kriteria dan mekanisme dalam menyembelih hewan qurban. Bahasa fiqihnya syarat dan rukun qurban. Syarat hewan qurban adalah sehat, dewasa, bukan hewan betina yang subur. Boleh hewan betina tetapi yang mandul. Seorang yang hendak berqurban harus memilih hewan yang memenuhi kriteria tersebut.
Secara umum, orang akan berupaya keras memenuhi kriteria ideal hewan qurban. Bahkan sebisa mungkin melebihinya. Sebab hewan qurban dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Seseorang berkurban setidaknya dilandasi oleh perintah Allah Swt. “ Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (QS. al-Kautsar (108): 2).
Pelaksanaan kurban sebagai jawaban atas pesan Allah dalam al-Qur’an. Dengan demikian, qurban merupakan proses komunikasi umat manusia (muslim) dengan Tuhannya. Allah berpesan melalui wahyu. Lalu manusia yang membaca, memahami, dan meyakininya menjalankan pesan tersebut dengan menjalankannya, yakni menyembelih hewan qurban. Nina Winangsih Syam, Guru Besar Komunikasi, mencatat penerimaan pesan al-Qur’an dan komitmen melaksanakannya adalah suatu bentuk komunikasi transcendental manusia.
Komunikasi dengan Hewan.
Menyembelih hewan qurban tidak sembarangan. Ada syarat-syarat tertentu dalam menyembelih hewan qurban. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu, hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya” (HR. Muslim).
Mengacu pada hadis tersebut, menyembelih hewan kurban harus dilakukan secara baik (ihsan). Yakni menggunakan pisau yang tajam agar dapat memotong saluran nafas, saluran makanan, dan saluran darah dengan cepat, sehingga tidak menyakiti hewan. Selain itu hewan juga harus dibuat senang. Artinya hewan qurban harus diperlakukan yang tidak baik. Hewan harus disenangkannya. Hewan diberikan makan terlebih dahulu beberapa saat sebelum disembelih. Ada pemisahan tempat antara hewan yang akan disembelih dengan tempat penyembelihan. Sehingga hewan tidak menyaksikan penyembelihan hewan lainnya. Hal ini diperlakukan agar hewan tidak stress.
Perlakuan baik terhadap hewan dapat dilakukan melalui suatu prose komunikasi kehewanan (animal communication). Menurut Pakar Komunikasi, Deddy Mulyana, proses ini dilakukan melalui bahasa non-verbal, serta berbagai gejala yang dapat dipahami oleh manusia dan hewan yang terlibat dalam komunikasi. Yakni memahami perilaku hewan dan memperlakukannya sesuai dengan gejala yang ditunjukkannya. Komunikasi kehewanan diperlukan untuk bisa menjalankan perintah nabi “menyenangkan hewan sembelihan”.
Komunikasi Sosial.
Penyembelihan hewan kurban hampir pasti tidak dapat dilakukan sendirian. Butuh mitra dalam proses penyembelihan dan juga dalam pembagian. Mungkin saja menyembelih hewan qurban bisa dilakukan secara sendirian. Dengan kemampuan teknis dan teknologi yang memadai memungkinkan seseorang menyembelih hewan kurban sendirian.
Namun demikian, di tengah perkembangan masyarakat modern yang telah terderivasi dalam berbagai bidang pekerjaan, penyembelihan hewan kurban secara sendirian menjadi tidak mungkin. Penyembelihan hewan kurban bergeser dari pola individual menuju pola kolektif. Kurban tidak lagi dilakukan secara sendiri, tetapi dijalankan secara kolektif. Masjid dan mushalla membentuk panitia penyembelihan hewan dan distribusi daging qurban.
Dalam konteks ini komunikasi social menjadi sebuah keniscayaan. Pengurus masjid dan mushalla, panitia pelaksana penyembelihan hewan qurban, serta masyarakat niscaya terlibat proses komunikasi. Baik secara langsung maupun bermedia. Masing-masing dalam menjalankan tugasnya saling berbagai pesan antara satu dengan lainnya. Bahkan komunikasi social antar pihak menjadi penentu apakah tugas pelaksanaan penyembelihan dan pembagian daging qurban berjalan baik atau tidak. Miskomunikasi antar pihak dapat menyebabkan pelaksanaan qurban berantakan.
Komunikasi Politik.
Komunikasi politik di sini bukan bagaimana menyampaikan pesan heroism tentang nasionalisme, apalagi tentang fanatisme dan justifikasi kelompok tertentu tentang kebaikan. Juga bukan tentang bagaimana merancang penganggaran dan pembelian hewan kurban. Juga bukan bagaimana membangun citra di mata masyarakat melalui pelaksanaan kurban. Tidak pula mengidentifikasi konstituen mana yang harus diberi daging qurban untuk membetot simpati penerima daging kurban.
Komunikasi politik dalam pelaksanaan kurban dilakukan dalam konteks mendefinisikan tugas, mengidentifikasi pekerjaan, dan kemudian membaginya ke dalam divisi yang diperlukan. Tukar menukar informasi sebagai proses penyampaian kewenangan antara satu dengan lainnya. Proses pengambilan keputusan dalam kepanitiaan. Dan berbagai komunikasi yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan tanggungjawab di antara panitia kurban, adalah proses komunikasi politik dalam kurban.
Semua level kepanitiaan dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan baik. Menyampaikan, mengirimkan, menerima, dan memahami pesan dengan baik dibutuhkan dalam proses pelaksanaan tugas kepanitiaan. Lebih dari itu, panitia dituntut untuk melakukan kerja kolaboratif. Bekerja bersama dengan jenis pekerjaan yang berbeda untuk mencapai satu tujuan bersama.
Akumulasi Komunikasi.
Berbagai dimensi komunikasi tersebut terkandung dalam proses pelaksanaan qurban. Dimulai dari komunikasi intrapersonal dalam diri orang yang berqurban dan pelaksana penyembelihan hewan kurban. Lalu pertukaran pesan antar pihak yang terkait dalam kurban. Komunikasi penyembelih dan panitia penyembelihan dengan hewan kurban dalam rangka mewujudkan penyembelihan secara ihsan. Serta komunikasi transendental semua pihak dalam pelaksanaan kurban sebagai perwujudan dari ketaatan kepada Tuhan, Allah Swt.
Selamat berkurban, semoga mendekatkan diri kepada Tuhan.







