Bagian I Membaca Masa Depan Episode 2 Tahun 2045: Indonesia Akan Diisi oleh Manusia Seperti Apa?

Oleh: Ulul Albab

SURABAYA, insanimedia.id – Setiap pembicaraan tentang masa depan bangsa, pada ujung-ujungnya kita akan kembali kepada pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu: “manusia seperti apa yang sedang kita siapkan hari ini?” Pertanyaan ini penting karena Indonesia Emas 2045 tidak akan ditentukan hanya oleh pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau megahnya pembangunan fisik. Tetapi juga pada ujungnya kualitas sebuah bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

Karena itu, jika kita sungguh ingin berbicara tentang Pendidikan 2045, maka kita tidak bisa menghindar dari tugas besar, yaitu: “merumuskan profil manusia Indonesia 2045 yang ingin kita lahirkan.” Pendidikan tidak boleh berjalan tanpa gambaran yang jelas tentang manusia seperti apa yang sedang dibentuknya. Tanpa itu, sekolah hanya akan sibuk mengajar, kampus hanya sibuk meluluskan, dan negara hanya sibuk mengelola sistem tanpa arah yang benar-benar jelas dan terang.

Menurut saya, setidaknya ada lima kualitas besar yang harus menjadi arah pendidikan Indonesia menuju 2045.

Pertama: “kita harus melahirkan manusia yang kuat secara intelektual.” Mereka harus mampu membaca persoalan dengan jernih, berpikir logis, memahami sains dan teknologi, memiliki literasi yang baik, serta sanggup memecahkan masalah nyata.

Indonesia tidak akan maju jika pendidikan hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal tetapi lemah bernalar. Di tengah dunia yang semakin kompleks, manusia Indonesia 2045 harus memiliki kemampuan belajar yang tinggi, rasa ingin tahu yang sehat, dan keberanian berpikir mandiri.

Mereka tidak cukup hanya mengetahui banyak hal, tetapi juga harus mampu memahami hubungan antar-hal, menimbang dampak keputusan, dan menemukan jalan keluar ketika berhadapan dengan persoalan yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya.

Kedua: “kita harus melahirkan manusia yang tangguh secara moral.” Mereka harus jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, mencintai keadilan, dan berani menolak korupsi dalam bentuk apa pun. Sejarah menunjukkan bahwa kemunduran sebuah bangsa seringkali tidak disebabkan oleh kurangnya orang pintar, tetapi oleh merosotnya integritas.

Baca Juga :  Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi melalui Kolaborasi dan Inovasi

Kita bisa memiliki lulusan yang cemerlang secara akademik, tetapi jika mereka tumbuh tanpa kejujuran, tanpa rasa malu ketika menyalahgunakan amanah, dan tanpa kepedulian terhadap kepentingan bersama, maka pendidikan justru sedang melahirkan ancaman bagi masa depan bangsa. Karena itu, Indonesia 2045 tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang “dapat dipercaya.”

Ketiga: “kita harus melahirkan manusia yang adaptif terhadap perubahan.” Dunia 2045 akan ditandai oleh perubahan yang cepat, ketidakpastian yang tinggi, dan pekerjaan yang terus bergeser. Karena itu, manusia Indonesia 2045 tidak boleh menjadi generasi yang mudah panik ketika dunia berubah. Mereka harus siap belajar ulang, siap berpindah peran, siap bekerja lintas disiplin, dan siap hidup berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Dalam dunia seperti itu, kemampuan yang paling penting bukan sekedar menguasai satu bidang ilmu secara sempit, tetapi juga harus memiliki daya lenting untuk terus bertumbuh. Pendidikan harus membentuk manusia yang tidak rapuh ketika berhadapan dengan perubahan, tetapi justru mampu membaca perubahan itu sebagai tantangan untuk terus belajar.

Keempat: “kita harus melahirkan manusia yang memiliki kepekaan sosial dan kebangsaan.” Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan individu yang mengejar sukses pribadi tetapi abai terhadap penderitaan sosial di sekitarnya. Indonesia 2045 memerlukan warga negara yang peduli pada bangsanya, peka terhadap ketimpangan, sadar akan nasib kelompok yang tertinggal, dan bersedia memikul tanggung jawab bersama.

Di tengah dunia yang semakin kompetitif, pendidikan harus tetap menanamkan kesadaran bahwa hidup bersama memerlukan solidaritas, empati, dan kesediaan melihat orang lain sebagai sesama manusia, bukan sebagai pesaing. Bangsa sebesar Indonesia tidak mungkin dibangun hanya oleh orang-orang yang sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Baca Juga :  Komnas PA Minta Pendidikan Karakter Diutamakan dalam Pendidikan, Cegah Bullying

Kelima: “kita harus melahirkan manusia yang berakar pada iman dan adab.” Ini sangat penting bagi Indonesia. Kita boleh berbicara tentang AI, robotika, sains data, ekonomi digital, dan inovasi tanpa batas. Tetapi jika generasi kita kehilangan kejujuran, kehilangan rasa hormat, kehilangan kesadaran bahwa ilmu adalah amanah, maka kemajuan itu bisa berubah menjadi ancaman.

Pendidikan yang tercerabut dari adab pada akhirnya hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa arah. Karena itu, manusia Indonesia 2045 harus tetap memiliki hubungan yang sehat dengan nilai, dengan tradisi moral, dengan agama, dan dengan kesadaran bahwa ilmu tidak boleh digunakan untuk merusak martabat manusia.

Lima kualitas tersebut—kuat secara intelektual, tangguh secara moral, adaptif terhadap perubahan, peka secara sosial-kebangsaan, dan berakar pada iman serta adab—bagi saya adalah fondasi manusia Indonesia 2045. Tentu daftar ini tidak menutup kemungkinan adanya kualitas lain yang juga penting. Tetapi setidaknya tanpa lima hal itu, saya khawatir Indonesia akan memiliki banyak lulusan, banyak gelar, bahkan mungkin banyak teknologi, tetapi tidak cukup memiliki manusia yang siap memikul masa depan bangsa.

Di titik inilah pendidikan harus berhenti merasa cukup hanya dengan mengejar angka kelulusan, rerata nilai, atau akreditasi. Semua itu memang perlu dan memang sangat penting, tetapi tidak boleh menutupi pertanyaan yang lebih besar, yaitu: apakah sekolah, kampus, keluarga, dan negara sungguh-sungguh sedang membentuk manusia dengan kualitas seperti yang tadi kita ulas di depan? Apakah ruang kelas kita melatih nalar sekaligus kejujuran? Apakah kurikulum kita membentuk daya adaptasi sekaligus kepedulian sosial? Apakah kampus kita menumbuhkan keberanian berpikir sekaligus tanggung jawab moral?

Jika jawabannya belum, maka berarti masih ada pekerjaan besar yang harus kita lakukan.

Baca Juga :  Arah Baru Kebijakan Sosial Jatim Rekomendasi ICMI Jatim Untuk Kebijakan Tematik Pemprov Jatim 2026

Saya percaya Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menata masa depannya. Kita memiliki bonus demografi, energi generasi muda, tradisi keagamaan yang kuat, dan keinginan besar untuk maju. Tetapi semua modal itu dapat berubah menjadi beban jika pendidikan gagal membaca arah zaman.

Karena itu, pertanyaan tentang manusia Indonesia 2045 tidak boleh dipandang sebagai pertanyaan yang terlalu idealistis. Justru sebaliknya, itulah pertanyaan paling praktis dan paling strategis. Sebab dari sanalah kurikulum disusun, guru disiapkan, sekolah dibenahi, dan masa depan bangsa ditentukan.

Jika kita ingin Indonesia Emas benar-benar berarti, maka ukuran utamanya bukan seberapa tinggi pendapatan per kapita, tetapi seberapa berkualitas manusia Indonesia itu sendiri: apakah kita berhasil melahirkan generasi yang cerdas tanpa kehilangan hati, modern tanpa tercerabut dari nilai, kompetitif tanpa kehilangan empati, dan religius tanpa kehilangan keluasan berpikir.

Dan jika itu yang ingin kita capai, maka jelaslah bahwa pendidikan bukan pekerjaan pinggiran, bukan pekerjaan sambilan menuju 2045, tetapi benar-benar menjadi pekerjaan inti yang menentukan wajah Indonesia di usia seabadnya.