Sibuk Maulid Nabi, Sudahkah Kita Meneladani Nabi Saw?

oleh : Ropingi el Ishaq, Dosen Dakwah dan Komunikasi UIN Syekh Wasil Kediri

Insani Media

insanimedia.id -Setiap tahun umat Islam di Indonesia, serta beberapa negara lain yang serumpun dalam budaya, memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Berbagai acara digelar, mulai dari pengajian akbar, perlombaan yang sifatnya edukatif sampai perlombaan yang sifatnya menghibur menjadi rangkaian kegiatan peringatan Maulid Nabi.

Terlepas tentang perdebatan boleh dan tidaknya kegiatan peringatan Maulid Nabi, pada prinsipnya peringatan Maulid Nabi adalah ekspresi rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. Substansi dari peringatan ini adalah mengekspresikan suka cita, atas kelahiran Nabi Muhammad Saw, karena diutusnya rasul adalah untuk memberikan bimbingan kepada umat manusia menuju peradaban yang mulia. Dalam suatu ayat disebutkan:
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran (3): 164).

Mengacu pada ayat di atas, peringatan Maulid Nabi adalah ekspresi rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad yang membimbing umatnya sehingga terbebas dari kesesatan. Nabi membawa ajaran berupa kitab Allah serta Hikmah (pengetahuan) yang dapat dijadikan sebagai pijakan umat manusia untuk membangun peradaban mulia dan membebaskan dari kesesatan. Ayat di atas memberikan pengertian bahwa dengan mengikuti ayat-ayat Allah yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw akan menghantarkan umat manusia memperoleh pencerahan hidup dan terhindar dari kesesatan.

Nabi Muhammad Sebagai Role Model
Nabi Muhammad SAW diutus tiak hanya untuk menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah semata, tetapi juga menempatkan beliau sebagai referensi, role model, serta inspirasi tentang bagaimana seharusnya manusia menjalani hidup dan kehidupan. Bagaimana manusia harus bersikap dan bertindak sebagai individu di hadapan Allah dan di hadapan manusia. Bagaikan manusia secara kolektif harus membangun sistem sosial, politik, ekonomi, dan juga budaya. Muhammad Saw, baik sebagai Nabi maupun sebagai individu memberikan contoh.

Baca Juga :  Saatnya Kita Menghitung dan Mengeluarkan Zakat Maal: Agar Harta Kita Lebih Bersih dan Berkah

Dalam suatu ayat disebutkan, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allâh”. [QS. al-Ahzâb/33:21]

Kisah masyhur tentang sahabat Ukasyah yang ingin mencambuk Nabi Muhammad Saw untuk membalas cambukan cemeti Nabi yang mengenai dirinya, tentu harusd menjadi contoh bagi kita ummatnya. Sebagai pemimpin tertinggi, Nabi Muhammad Saw rela menyediakan diri untuk dicambuk demi membayar atau menerima qishah berupa cambukan dari seseorang yang dipimpinnya. Terlepas bahwa Ukasyah melakukan modus karena ingin memeluk Nabi Muhammad Saw, tetapi kesediaan Nabi Muhammad Saw bersedia menerima cambukan demi membayar atau menjalani qishash karena perbuatan pribadinya, adalah contoh yang tak patut diabaikan.
Muhammad SAW, sebagai role model bagi siapa? Bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Bagi orang-orang yang senantiasa mengingat Allâh. Sebaliknya, bagi orang yang tidak mengharapkan rahmat Allah, mereka tidak akan menjadikan Muhammad Saw. sebagai tauladan. Lalu, sudahkah kita sebagai ummat Nabi Muhammad Saw yang setiap tahun merayakan hari kelahirannya, senantiasa mengharap Rahmat Allah?

Mengacu pada keberadaan Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul, maka peringatan maulid nabi tak lain sebagai ikhtiar untuk menghidupkan spirit dan keteladanan atas perilaku nabi Saw. Dalam suatu dialog antara Sa’ad bin Hisyam bin Amir dengan Aisyah Ra dalam hadis Riwayat Imam Muslim disebutkan “Ia (Aisyah Ra) berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim, no. 746).

Maulid Nabi, Kini.
Realita yang ada, peringatan Maulid Nabi dilaksanakan semeriah mungkin, seheboh mungkin, sesemarak mungkin. Banyak fatwa atau saran dari muballigh disampaikan agar siapapun yang mengaku cinta Rasulullah, Muhammad Saw untuk partisipasi dalam peringatan maulid nabi. Banyak umat Islam yang tidak enggan mendermakan sebagian hartanya untuk mensukseskan acara Maulid Nabi Saw.

Baca Juga :  Antara Tanah Suci dan Tanah Bencana (Renungan Silaknas ICMI 2025)

Di sinilah kontradiksi itu mulai nampak. Kegiatan maulid nabi dilaksanakan, katanya sebagai ekspresi cinta nabi, tetapi perilaku tidak merujuk nabi. Nabi tegas dan keras kepada kaum kafir dan penuh kasih sayang dengan sesama muslim (QS. Al-Fath (48); 29)., yang terjadi justru saling bertikai sesama muslim dan mesra dengan kaum kafir. Allah menentukan syariat untuk diikuti (QS. Al-Jatsiyah (45); 18), yang terjadi justru gunakan ideologi lain di luar Islam sebagai pegangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem politik, ekonomi, budaya, bahkan Pendidikan tidakaa menjadikan al-Qur’an sebagai sumber nilai. Padahal Al-Quran telah menegaskan “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran ayat (3): 31).

Di sinilah pertanyaan Allâh di atas relevan untuk direnungkan. Sudahkah kita telah benar-benar mencintai Allâh? Benarkah kita memperingati maulid Nabi Muhammad sebagai representasi cinta kepada Nabi Muhammad Saw. Atau semua itu hanya sebagai ritual dalam beragama belaka? Atau bahkan semua hanya sebagai komodifikasi beragama, agar job manggung tetap mengalir? Manggung sebagai da’i. Manggung sebagai pembawa lagu. Manggung sebagai qari’. Dan lain-lainnya?

Sekali lagi, mari kita bertanya pada diri kita sendiri, sudahkah kita meneladani Nabi Muhammad Saw yang setiap Rabi’ul Awal kita rayakan hari lahirnya?