Purworejo, insanimedia.id – Regenerasi petani menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan komunitas pertanian yang berlangsung di Pendopo Khasnu, Desa Sambeng, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Sabtu malam (26/9/2026).
Pertemuan tersebut mempertemukan sejumlah pelaku dan pemerhati pertanian untuk membahas masa depan sektor pertanian. Mereka menyoroti semakin rendahnya minat generasi muda untuk meneruskan profesi orang tua sebagai petani.
Keinginan anak muda untuk mencari pekerjaan di sektor lain serta anggapan bahwa profesi petani kurang menjanjikan menjadi tantangan bagi keberlanjutan regenerasi pertanian.
Kegiatan diawali dengan tausiah Ustaz Ali. Dalam penyampaiannya, ia mengisahkan cerita yang disebut bersumber dari hadis qudsi mengenai percakapan antara Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.
Kisah tersebut menggambarkan pembahasan mengenai manusia, bumi, dan kepemilikan. Pada bagian akhir, cerita itu menyampaikan pesan mengenai kecintaan manusia kepada Nabi Muhammad SAW.
Ustaz Ali kemudian menghubungkan pesan tersebut dengan kehidupan para petani. Menurutnya, petani mempunyai kedekatan dengan bumi karena mereka terus mengolah, menanam, dan merawat lahan meskipun hasil panen belum tentu sesuai harapan.
“Orang yang paling cinta terhadap bumi adalah petani. Menanam terus-menerus, baik ada hasil maupun tidak, tetap menanam,” demikian pesan yang disampaikan.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengantar mengenai pentingnya menjaga regenerasi petani. Berkurangnya generasi penerus berpotensi membuat pengetahuan dan pengalaman bertani yang diwariskan antargenerasi ikut terputus.
Tidak Hanya Mengolah Sawah
Muhammad Musyafa selaku moderator kemudian mengarahkan diskusi pada berbagai persoalan yang dihadapi sektor pertanian saat ini.
Ia membahas perubahan kondisi pertanian, mulai dari kebutuhan sarana produksi hingga bergesernya pandangan generasi muda terhadap pekerjaan sebagai petani.
Menurutnya, generasi sebelumnya justru sering mendorong anak-anak mereka untuk mencari pekerjaan lain demi mendapatkan kehidupan ekonomi yang lebih baik.
“Besok ekonomi lebih baik, jangan jadi petani seperti bapak,” menjadi salah satu gambaran pesan tersebut.
Namun, perkembangan teknologi kini memberikan ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian. Kegiatan pertanian tidak lagi hanya berlangsung di sawah, tetapi juga dapat berkembang melalui edukasi digital, pembuatan konten, pemasaran, hingga pengolahan produk.
Pembicara dari Dwi Hore Farm menyampaikan keprihatinannya terhadap rendahnya ketertarikan sebagian anak muda terhadap dunia pertanian. Ia menilai generasi muda perlu mengetahui bahwa sektor tersebut mempunyai banyak peluang untuk dikembangkan.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya bertemu Citra, seorang sarjana pertanian yang tertarik membuat konten edukasi mengenai pertanian. Konten tersebut berkembang hingga mampu menghubungkan petani dari berbagai daerah melalui platform digital.
Menurutnya, media sosial dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pengetahuan sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan bagi pelaku pertanian.
Dwi Hore Farm juga menyebut telah memiliki sekitar 10 binaan yang tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jaringan tersebut tidak hanya bergerak dalam pembuatan konten, tetapi juga berlanjut pada pengenalan serta pemasaran produk.
Semangat yang dibawa dalam pengembangan tersebut adalah “Positive to Be Happy”. Semangat itu mendorong petani untuk tetap produktif, kreatif, serta mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Kembangkan Komoditas Kopi
Gusbi, seorang cucu petani yang kini menekuni sektor kopi, turut membagikan pengalamannya dalam pertemuan tersebut. Ia membahas proses budidaya kopi sekaligus peluang pengembangan komoditas tersebut dari sisi pasar. Menurutnya, bisnis kopi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menanam dan memanen, tetapi juga membutuhkan pemahaman mengenai kualitas, pengolahan, dan kebutuhan konsumen.
Pengalaman Gusbi menunjukkan bahwa keturunan keluarga petani tetap mempunyai banyak pilihan untuk meneruskan tradisi pertanian. Mereka dapat mengembangkan komoditas tertentu dengan memperhatikan nilai tambah dan kebutuhan pasar.
Pulang dari Perantauan, Kembali Garap Lahan
Cerita lain datang dari Anton, warga asli Bener, Purworejo. Ia sebelumnya merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah pabrik. Selama berada di perantauan, Anton memanfaatkan waktunya untuk mencari pengetahuan serta berbagai referensi yang bisa diterapkan setelah kembali ke kampung halaman.
Kini, ia kembali menekuni pertanian. Anton melihat sektor tersebut masih mempunyai potensi besar, terutama karena sejumlah lahan yang sebelumnya dikelola orang tuanya mulai tidak produktif.
Ia juga mencoba berbagai jenis komoditas untuk mengembangkan lahannya. Ketika tanaman padi yang ia tanam mengalami kegagalan akibat serangan tikus, Anton tidak berhenti. Ia kemudian mencoba menanam bawang merah sebagai alternatif.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa petani membutuhkan kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi ketika menghadapi persoalan di lapangan.
Emping Melinjo Go Internasional
Regenerasi pertanian juga dapat berlangsung melalui pengolahan hasil pertanian. Hal itu disampaikan Latif Nurhidayatulloh, peserta kegiatan sekaligus Ketua PMII Kabupaten Purworejo.
Latif berbagi pengalaman mengenai pengolahan buah melinjo menjadi emping. Ia menyoroti semakin banyaknya pohon melinjo yang ditebang, padahal komoditas tersebut masih mempunyai peluang ekonomi untuk dikembangkan.
Menurutnya, melinjo memiliki nilai ekonomi yang cukup menarik, terutama setelah melalui proses pengolahan. Ia juga menilai kualitas melinjo Purworejo mempunyai keunggulan dibandingkan sejumlah daerah lain.
Latif kemudian mengembangkan bahan baku tersebut menjadi emping. Ia tidak hanya membidik pasar lokal, tetapi juga menyiapkan rencana untuk membawa produk emping melinjo Purworejo ke pasar internasional.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda tidak harus terjun ke sawah secara langsung untuk ikut menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Mereka juga dapat mengambil peran melalui pengolahan hasil, inovasi produk, pemasaran, hingga pengembangan jaringan pasar.
Regenerasi Petani
Pertemuan di Pendopo Khasnu memperlihatkan beragam cara generasi muda dalam memandang pertanian. Sebagian tetap bekerja di lahan, sebagian kembali dari perantauan, sementara lainnya mengembangkan komoditas dan mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.
Seluruh pengalaman tersebut bermuara pada persoalan yang sama, yakni bagaimana menjaga agar sektor pertanian tetap memiliki penerus.
Regenerasi petani tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang mencangkul atau menanam. Regenerasi juga menyangkut proses pewarisan pengetahuan, pemanfaatan teknologi, pengolahan hasil, serta kemampuan membawa produk pertanian menuju pasar yang lebih luas.
Ketika generasi muda melihat pertanian sebagai ruang untuk belajar, berinovasi, berusaha, dan membangun masa depan, keberadaan trah tani dapat terus berlanjut.
Warisan petani bukan sekadar lahan. Mereka juga mewariskan pengetahuan, ketekunan, serta kemampuan menjaga sumber kehidupan bagi generasi berikutnya.







