Pelajaran dari Iran

Oleh : Ropingi el Ishaq - Dosen dakwah dan Komunikasi UIN syekh Wasil Kediri

Insani Media

insanimedia.id – Saat ini negara-negara muslim sedunia berada di belakang negara-negara barat, khususnya Amerika. Sistem politik, ekonomi, budaya, dan bahkan sistem pendidikan barat menjadi role model negara-negara muslim. Mereka tidak berdiri di atas kekuatan dan peradabannya sendiri. Tidak hanya mengikuti secara sukarela, negara-negara muslim berada di bawah kontrol Amerika. Sebagai contoh, negara-negara di Kawasan Arab banyak yang menyediakan diri untuk menjadi pangakalan militer Amerika.

Semenjak revolusi, Iran menjadi negara yang yangdikucilkanoleh dunia. Secara ekonomi diembargo oleh negara-negara barat. Secara politik dianggap sebagai negaraaneh“, karena tak ikuti madzhab barat. Secara teologis dianggap sebagai minoritas yang membahayakan muslim. Bahkan kampanye anti Syi’ah secara terus menerus berjalan. Muslim Sunni tak henti mengecam dan memberikan stereotip berbahaya.

Meski demikian, seolah Iran tak peduli. Iran dengan sistem politik yang dianutnya terus berjalan, meski berbeda dengan negara-negara muslim lainnya.  Ada yang berpendapat bahwa Iran menganut sistem otoriter. Ada yang berpandangan bahwa Iran  ikuti sistem demokrasi perwakilan. Apapun pendapat orang, Iran berjalan dengan sistem yang telah disepakati dan berlandaskan pada identitas politik sendiri.

Perang Amerika-Israel (AI) dengan Iran membuka realitas yang berbeda. Iran selama ini dikenal sebgai negara yang tidak mau dikontrol Amerika. Pengayaan uranium yang disinyalir digunakan untuk membangun senjata nuklir dijadikan sebagai alasan Amerika untuk menekan Iran. Melalui tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahkan secara langsung melalui sikap otoritarianismenya, Amerika membatalkan perjanjian tentang uranium yang masih berjalan. Iran tak mau tunduk meski harus menerima resiko yang tidak ringan. Embargo. Iran di bawah tekanan dunia membangun negara dengan kemampuan sendiri, mengolah sumber daya yang dimilikinya, membangun kemandirian ekonomi, menjaga identitas budaya dan memperkuat struktur politik dalam negeri.

Iran sebagai Pewaris Peradaban Besar

Masruhan Samsuri, pegiat gerakan IsIam, dalam satu podcast mengatakan Iran memiliki sistem politik yang ideal saat ini. Iran dipimpin oleh ulama yang kharismatik dengan system kepemimpinan yang efektif. Jika satu ulama meninggal, akan muncul ulama lain yang memimpin. Sebagaimana dapat disaksikan saat ayatullah Ali Khamenei meninggal, dalamwaktu yang singkat diangkat pemimpin baru dari hasil musyawarah para ulama kharismatik. Dan di dukung oleh rakyat

Baca Juga :  Jalan Sunyi di Board of Peace: Antara Ijtihad Politik dan Paradoks Ekonomi

Philips K. Hitti dalam buku monumental yang ditulisnya“History of the Arabs” memberikan keterangan bahwa Iran yang dulunya adalah Persia adalah negara yang kuat.  UmatIslam saat dipimpin oleh Umar Bin Khattab menaklukkanPersia membutuhkan waktu yang lama. Perlawanan bangsa Persi saat itu terhadap pasukan muslim begitu gigih. Sejarah ini menunjukkan bahwa Iran bukanlah bangsa yang mudah ditaklukkan.  

Meskipun Iran berada di bawah embargo bertahun-tahun tetapi mampu membangun kekuatan militer yang tangguh. Iran sanggup menghadapi tantangan Amerika.  Mewakili dunia Islam, Iran menghadapi serangan dan ancaman Israel dan Amerika. Iran pun tidak menunjukkan sikap sektarianisme, meskipun dilabeli sebagai Syi’i (Syi’ah radikal pembenci Sunni). Iran justru membangun soliditas umat Islam secara keseluruhan dengan menunjukkan sikap egaliter di hadapan muslim yang lain.  Ali Khamenei dalam persan-pesan yang beredar menunjukkan sikap universalime Islam. Meski Syi’i, tetapi terbuka dan tidak fanatik, serta tidak alergidengan Sunni yang menjadi mayoritas muslim. Secara politik, sikap empati dan bantuan terhadap negara-negara muslim yang Sunni seperti perjuangan Palestina menjadi fakta yang mengkonfirmasi bahwa Iran memiliki pandangan dan sikap politik yang terbuka dan egaliter.

Sementara, mayoritas muslim yang menganut paham Sunni masih menjaga jarak. Di Indonesia, misalnya, yang mayoritas Sunni merasa tidak empati dengan Iran yang diserang oleh Amerika dan Israel dikarenakan Iran menganut Syi’ah. Muslim Indonesia merasa tidak berkewajiban membela -minimal simpatiterhadap Iran karena Syi’ah. Suatu sikap yang menunjukkan sektarianisme di kalangan Sunni. Sehingga muncul meme, ‘jika anda tidak membela Iran karena Syi’ah, memangnya Amerika dan Israel itu Sunni?”. Sungguh suatu pernyataan yang menukik bagi ummat Sunni, seharusnya. Karena tidak berempati bahkan tidak turun membela negara yang didhalimi dikarenakan Syi’ah.

Muslim dan Kepemimpinan Global

Saat ini muslim di seluruh dunia membutuhkan kepemimpinan global yang sanggup untuk menyatukan serpihan-serpihan kepentingan kelompok. Muslim Sunni di awal kemunculannya memproklamirkan diri sebagai kelompok yang mengakomodir semua lapisan dan aliran dalam Islam. Sunni muncul untuk mempersatukan ummat yang terpecah dalam banyak aliran. Secara politik ada Syi’ah, Khawarij, dan kelompok netral. Muslim yang secara politik mengambil posisi netral ini kemudian memproklamirkan dirisebagai Sunni dan mendukung pemerintahan yang ada agar tercipta kedamaian di kalangan muslim.

Baca Juga :  Kenapa Kelompok Islam Paling Keras Kecam Gelar Pahlawan Soeharto ? Ini kata Sejarawan Muda Blitar

Namun ternyata Sunni yang netral ini pada akhirnya tidak mampu mempersatukan umat muslim yang telah terpecahdalam berbagai aliran. Muslim Sunni gagal menyatukan muslim di dunia. Muslim Sunni lebih memilih untuk tetap tampil netral dan pragmatis dengan mendukung pemerintahan yang berkuasa. Di era modern Sunni tampil dengan mengakomodir dominasi barat atas dunia muslim sendiri. Bahkan banyak yang menjadi agen dan pengikut peradaban barat di bawah dominasi Amerika.

Ummat Muslim saat ini tidak hanya gagal merepresentasikan diri sebagai satu kekuatan global. Secara internal, negara-negara muslim gagal membangun kekuatan diri secara mandiri. Secara ekonomi, politik, budaya, bahkan pendidikan mengacu pada system yang dijalankan di negara-negara barat. Konsep-konsep Islam tidak menjadi acuan dalam system ketatanegaraan di dunia muslim. Konsep ekonomi justru tidak tumbuh, kalah dengan ekonomi kapitalis. System politik yang berbasis pada kepemimpinan religius tersingkir oleh sistemdemokrasi sekuler. System pendidikanpun juga demikian, mengekor pada pendidikan barat yang sekuler.

Ropingi el Ishaq dosen komunikasi dan dakwah UIN Syekh Wasil Kediri
Ropingi el Ishaq, dosen komunikasi dan dakwah UIN Syekh Wasil Kediri

Dalam politik praktis, Muslim justru terbelah oleh kepentingan-kepentingan kelompok dan pemikiran keagamaan secara sempit. Al-Qur’an menggambarkan bahwa jika ummat Islam mampu mengelola diri dan tunduk dalam satu kepentingan agama yang sama (QS. al-Anbiya‘ (21): 92-93), maka akan menjadi ummat yang terbaik. (QS. Ali Imran (3): 110). Gambaran itu belum memantik umat muslim di dunia untuk membangun satu pandangan yang sama. Umat muslim sibuk dengan kepentingan kelompoknya. Konflik antar aliran senantiasa muncul sehingga energi ummat Islam habis untuk kepentingan kelompok.

Iran dengan kekuatan dirinya dan sikap universalismenya memantik simpati muslimtentu yang telah tercerahkanuntuk membangun kekuatan baru demi menghadapi dominasi Amerika yang arogan. Agar arogansi Amerika tidak membabi-buta dan menyengsarakan penduduk dunia. Dalam konteks ini, muslim perlu berpikir untuk membangun kepemimpinan yang bersifat lintas negara, meski secara administratif masih berbentuk negara bangsa, tetapi secara ideologi berjalan lintas negara. Sebagaimana barat di bawah Amerika, kepemimpinan global berjalan melalui konsep ideologi yang melampaui batas-batas teritorial kenegaraan.

Baca Juga :  Peran Puasa dalam Meningkatkan Ketahanan Mental dan Emosional

Iran, Representasi Peradaban Islam Saat ini.

Samuel Hutington mengemukakan tesisnya bahwa selepas perang dunia kedua, perang antar wilayah dan negara tidak lagi terjadi. kapitalisme dan sosialisme tidak lagi saling berhadapan -hadapan. Yang menjadi tantangan baru adalah munculnya konflik terkait dengan keagamaan. Dan Islam menjadi satu peradaban yang tampil membawa pengaruh baru dalam peradaban global saat ini. Tesis ini memberikan makna politis bahwa Islam menjadi kekuatan baru yang dapat menghadang dominasi peradaban kapitalisme dan sosialisme yang telah melebur menjadi satu.

Tak heran jika saat ini negara yang merepresentasikan peradaban Islam menjadi musuh baru negara-negara barat.Saat ini, Iran menjadi satu negara yang merepresentasikan peradaban Islam saat ini. Sistem kepemimpinan, ekonomi, pendidikan, bahkan budaya dibangun di atas konsep sendiriyang berbasis Islam. Iran masih konsisten untuk mewujudkan sistem pemerintahan yang merujuk pada sistem pemerintahan Rasulullah. Salah satu poin yang menarik untuk dicermati lebih dalam adalah konsistensi terhadap dua syarat utama bagi pejabat negara untuk dipilih yaitu kedalaman pengetahuan (faqih) dan kemampuan untuk bertindak adil.

Selain dua syarat utama tersebut, ada hal lain yang secara konsisten dipegang oleh para pejabat negara, yakni negara adalah alat untuk mencapai tujuan mulia. Tujuan itu adalah menjalankan prinsip-prinsip agama dan menciptakan kemaslahatan di muka bumi. Dan untuk itu pemerintahan harus dikelola oleh orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas dan adil, agar tidak menyesatkan ummat atau rakyat. Secara maknawi jabatan sebagai suatu amanah yang harus dijalankan sebagaimana Muhammad Saw memegangamanah sebagai pemimpin negara.

Jika negara-negara muslim menjalankan prinsip seperti inisecara konsisten, tentu akan menjadikan muslim sebagaiummat terbaik secara nyata dan peradaban Islam rahmatan lilalamin dapat terwujud.