Menuju Tatanan Dunia Baru

oleh : Ropingi el Ishaq, Dosen Dakwah dan Komunikasi UIN Syekh Wasil Kediri

Insani Media

insanimedia.id- Dunia sedang menyambut tatanan baru. Kekuatan negara besar mulai bergeser. Cina mengalami kemajuan yang pesat di bidang teknologi termasuk militer. Rusia menunjukkan perkembangan dominasinya. Iran menunjukkan kekuatan secara konsisten.

Peradaban manusia terus mengalami perubahan. Naik turun dan silih berganti. Fritjof Capra mengatakan, peradaban manusia mengalami transformasi perkembangan dalam dua-tiga dasawarsa. Selanjutnya menuju puncak kejayaannya. Dan kemudian turun. Di akhir kejayaan suatu peradaban biasanya diawali dengan krisis multidimensi. Krisis lembaga, moral, spiritual, serta dehumanisasi.

Arnold Toynbee mencatat, siklus peradaban manusia ditentukan oleh tantangan dan tanggapan. Peradaban tumbuh ketika tanggapan terhadap tantangan berhasil membangkitkan budaya equilibrium, sehingga menghasilkan sistem keseimbangan. Tentu keseimbangan di sini menyangkut banyak dimensi kehidupan. Keseimbangan sistem, keseimbangan dinamika sosial, dan keseimbangan lahir dan batin.

Dunia Kini

Mengacu pada dua tesis di atas, tatanan dunia saat ini, kiranya dapat dianalisis sebagai berikut.   Pertama,  tatanan dunia modern saat ini jika dihitung dari perang dunia ke-2 belum genap 100 tahun. Mengacu pada siklus peradaban yang rata-rata berkisar antara 3 sampai lima abad, maka peradaban modern ini masih akan berjalan panjang. Mungkin dunia masih akan dikendalikan oleh barat, dalam hal ini Amerika dalam dua atau tiga ratus tahun ke depan.

Namun, jika dihitung dari mulai munculnya revolusi industri maka peradaban modern saat ini sudah mencapai lebih dari tiga abad.  Usia yang tentu relatif.  Bisa dikatakan masih muda jika dibandingkan dengan peradaban Islam yang dimulai sejak kenabian Muhammad pada abad ke-7 masehi hingga abad ke 16 Masehi.  Dan kemudian dilanjutkan dengan Kristen Ortodok yang dimulai pada abad 17 Masehi. Dari usia ini, peradaban modern di bawah dominasi Amerika sebenarnya sudah berada di ambang kehancuran. Karena tanda-tanda krisis multidimensi sudah tampak.

Kedua, dunia modern saat ini menghadapi tantangan-tantangan yang berbeda dengan dunia di abad pencerahan, yang menjadi embrio peradaban modern. Dunia modern saat ini menghadapi tantangan yang disebut dengan gelombang informasi di berbagai belahan dunia.  Di era ini, informasi diproduksi secara massif, hingga sulit untuk memastikan informasi yang valid dan bisa dijadikan sebagai pijakan di dalam mengambil keputusan. Banjirnya informasi ini pernah diprediksi oleh Alvin Eugene Toffler seorang penulis independen dari New York City. Dalam bukunya Future Shock  ia memprediksi bahwa manusia akan mengalami benturan masa depan.  Dalam buku berikutnya yang berjudul  The Third Wave atau gelombang ketiga. Ia membagi gelombang peradaban manusia menjadi tiga, yakni pertanian, industry, dan informasi.

Pada fase ketiga ini masyarakat tidak hanya mengkonsumsi media, tetapi mereka juga memproduksi informasi. Berkat teknologi komunikasi, masyarakat dapat memanfaatkan beragam media informasi. Sehingga era ini disebut juga dengan konvergensi media yakni penggunaan media secara bersama, baik untuk menyerap maupun menyampaikan informasi.  Karena setiap orang mampu memproduksi informasi dan menyebarkannya melalui berbagai saluran media komunikasi, maka terjadilah ledakan informasi. Informasi berseliweran dan meluber ke mana-mana. Bahkan akses informasi tidak terbatas pada ruang public. Ruang-ruang privatpun menjadi obyek informasi yang dapat tersebar ke ranah public. Sehingga hampir tidak ada fakta dan peristiwa yang dapat disembunyikan.

Baca Juga :  Pemkot Blitar Blitar Ingin Transportasi Berbenah dan Ikuti Teknologi

Konsekuensi dari gelombang informasi ini adalah masyarakat sulit untuk memvalidasi dengan cepat mana informasi yang benar dan mana informasi yang salah. Masyarakat juga kesulitan memilah informasi resmi dan informasi yang tidak resmi. Bahkan sulit juga untuk memilah informasi yang seharusnya dikonsumsi oleh public dan mana informasi yang privat yang tidak boleh meluber ke ruang public.

Melalui media umat manusia mengkonsumsi berbagai macam informasi. Apa yang terjadi di satu benua dapat diketahui dengan cepat bahkan real time di benua lainnya.  Kita di Indonesia bisa menyaksikan bagaimana benturan politik terjadi antara Amerika-Israel dengan Iran.  Hampir semua bisa diketahui oleh publik.  Dan sulit bagi para pemangku kepentingan untuk menutupi informasi atau peristiwa yang terjadi agar tidak diketahui oleh dunia.

Melalui media yang ada dan informasi yang berkembang warga dunia bisa menyaksikan krisis kemanusiaan yang terjadi saat ini. Apa yang dilakukan oleh negara super power Amerika Serikat. Bagaimana perilaku politik luar negerinya. Bagaimana Amerika mem-veto aspirasi negara-negara dunia di forum PBB. Termasuk veto Amerika atas aspirasi kemerdekaan Palestina. Bagaimana Amerika menganak-emaskan Israel, meski melanggar tata tertib dunia yang telah disepakati bersama.

Sementara, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diharapkan bisa menjadi juru damai dunia ternyata tidak sanggup melakukannya.  PBB membiarkan Amerika sebagai negara adidaya berlaku seenaknya.  PBB tidak sanggup untuk menghentikan genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Palestina.  Bagaimana negara-negara yang berbasis agama yang diharapkan bisa mengawal moral umat manusia ternyata tidak punya kuasa. Ditambah lagi krisis moral yang saat ini ramai dengan istilah Epstein Files yang baru saja menyeruak dan konon melibatkan tokoh-tokoh internasional seperti presiden Amerika Trump. Inilah krisis kemanusiaan yang terjadi pada saat ini.

Ketiga, mengacu pada tesis Capra, krisis multidimensi ini sebagai tanda hancurnya peradaban modern yang dikomandani oleh Amerika pada saat ini. Barat mulai kehilangan kepercayaan karena mereka mengajarkan tentang kedamaian tetapi diskriminatif dan anarkhis. Mereka mengajarkan tentang demokrasi tetapi menginjak-injak negara yang menjalankan praktik demokrasi. Mereka mengkampanyekan hak asasi manusia tetapi mereka menindas nilai-nilai kemanusiaan.

Barat, khususnya Amerika, mulai kehilangan kepercayaan bahkan dari para penganutnya sendiri. Mereka mulai terpecah dan tidak solid lagi. Buktinya ketika Donald Trump berkeliling menyodorkan proposal untuk mendapatkan dukungan atas serangannya terhadap Iran ternyata tidak ada yang menyambutnya. Bahkan beberapa negara di Eropa, seperti Spanyol, Perancis, dan Italia, menolak ditempati pangkalan militer maupun pesawat Amerika yang akan digunakan untuk menyerang Iran.

Peradaban Baru, Tatanan Baru.

Di media sosial Iran menjadi negara yang favorit saat ini. Publik mengidolakan dan salut terhadapnya, karena berani dan sanggup menghadapi Amerika dan Israel yang congkak. Iran juga dipandang mampu menghadapi tantangan kemanusiaan yang akan terjadi. Pandangan itu muncul lantaran Iran telah diembargo ekonominya, ternyata mampu bertahan dan bahkan sanggup menghadapi serangan Amerika dan Israel. Iran tidak menyerah dan mengemis. Iran berdiri tegak menghadapi tantangan.

Baca Juga :  Ibnu Muljam dan Pelajaran Nuzulul Qur’an (Ketika Al-Qur’an Dibaca Tanpa Hikmah)

Iran yang selama ini dipandang negatif oleh masyarakat dunia ternyata menyisakan kisah lain yang sangat berbeda. Dari perspektif muslim, Iran dipandang sebagai penganut Syiah yang dianggap menyimpang oleh mayoritas muslim di duniayang Sunni. Sejarah politis perbedaan paham yang dianut oleh Iran menjadi sisi menarik bagi barat untuk dijadikan bahan propaganda. Amerika melakukan propaganda bahwa Iran memiliki senjata nuklir yang membahayakan keselamatan dunia.  Iran juga diframing mempunyai paham yang membahayakan umat Islam sedunia.  Dan sebagainya. Propaganda tersebut berhasil menyudutkan Iran. Sehingga hampir tidak ada negara yang membela Iran pada saat diserang oleh Amerika dan Israel. Bahkan dari negara-negara muslim sekalipun tak ada yang membelanya, termasuk Indonesia yang konon mayoritas muslim dan menganut politik non-blok.

Namun demikian performa Iran saat ini membuka mata dunia. Kemampuannya dalam menghadapi serangan Amerika serta kemampuannya membangun jaringan politik dengan negara-negara tertentu menjadikan Iran tampil sebagai negara yang mengejutkan.  Perkiraan Amerika bahwa serangan terhadap Iran cukup empat hari atau satu minggu, ternyata sampai satu bulan lebih. Iran masih sanggup membalas dan memukul balik gempuran Amerika-Israel.

Iran memang bukan negara “kemarin sore” seperti Amerika. Iran juga bukan negara yang lahir dari proses diskriminasi dan manipulasi politik. Iran sebagai peradaban tua yang memiliki basis sains yang kuat. Saat Islam muncul di Jazirah Arab, Iran yang sebelumnya bernama Persia telah berdiri sebagai negara besar, selain Romawi. Sehingga saat itu muncul istilah bahwa Islam berada di antara dua peradaban besar, yakni Persia di Timur dan Romawi di Barat. Bahkan saat ditaklukkan oleh Islam di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Persia tidak lantas luluh lantak. Persia justru tampil menjadi pusat peradaban Islam.

Iran memang sempat mengalami keterpurukan,  Yakni jatuh di bawah pengaruh Amerika di masa raja Reza Pahlevi.  Namun setelah revolusi Islam Iran berhasil menggulingkan raja Reza Pahlevi, Iran tampil dengan menghadapi tantangan baru dengan respon yang tepat. Menggunakan istilah Arnold Toynbee, Iran mampu menghadapi tantangan dengan membangun tanggapan yang membangkitkan budaya baru. Di bawah pengaruh Reza Pahlevi Iran menjadi negara yang sekuler dan hedonis.

Pasca Revolusi, masyarakat Iran membangun kembali kebudayaan baru yang solid, mandiri, dan tidak mudah diprovokasi. Serangan Amerika-Israel yang menargetkan memecah masyarakat Iran, ternyata tidak terwujud. Masyarakat Iran tetap solid mendukung pemimpinnya. Mereka tidak merengek dan mengemis untuk mendapatkan fasilitas perdagangan. Mereka memegang teguh prinsip kedaulatan bangsa.

Baca Juga :  Jawa Timur 1965: Saat Banser dan Pemuda Rakyat Berhadapan

Kualifikasi Kepemimpinan.

Soliditas dan ketahanan (resilience) masyarakat Iran tentu tidak terwujud oleh satu dua faktor. Setidaknya ada dua faktor yang menentukan. Pertama, kualifikasi pemimpin. Para pemimpin Iran tampil sebagai pemimpin yang sederhana dan mengedepankan etika. Di media social banyak membahas bagaimana Ali Khamenei dan pemimpin-pemimpin lainnya tampil tanpa gemerlap materi. Pakaiannya, fasilitasnya dari negara, serta gaya hidupnya. Mereka justru menampilkan kharisma spiritualitas yang kuat. Kualifikasi pemimpin seperti ini yang dibutuhkan oleh suatu bangsa. Karena pada prinsipnya pemimpin adalah kompas pemberi petunjuk bagi rakyatnya. Sehingga pemimpin dituntut mampu menjadi referensi sosial bagi rakyatnya.

Kedua, untuk menghasilkan kepemimpinan yang berkualitas, Iran membangun sistem birokrasi yang tidak instan. Syarat pemimpin harus memenuhi kualifikasi pendidikan tertentu, memiliki etika moral yang disaksikan oleh rakyat, serta terbukti berkontribusi bagi negeri. Kisah yang beredar bagaimana Ali Khamenei berproses secara tidak instan sampai menduduki jabatan sebagai pemimpin tertinggi Iran. Ia tidak hanya dituntut mampu menjalanakan tugas birokrasi, tetapi juga memiliki basis keilmuan yang mendalam dan luas.

Ketiga, Iran menggunakan dua jalur pemilihan pemimpin. Pemilihan presiden dengan pemilihan Pemimpin Agung. Presiden dipilih oleh rakyat secara langsung melalui pemilihan umum. Sementara Pemimpin Agung dipilih melalui musyawarah para ulama senior. Presiden menangani urusan teknis birokratis. Sementara Pemimpin Agung menentukan hal-hal yang lebih srategis, meliputi kekuasaan di bidang militer serta arah kebijakan nasional.

Melalui dua system pemilihan tersebut Iran mampu menjaga nilai-nilai ideal dalam berbangsa dan bernegara. Pemilihan pemimpin dilakukan dengan standar ideal dan menghasilkan pemimpin yang berkualitas. Mereka terhindar dari pemimpin populis yang profokatif. Di sisi lain, Iran tidak ketinggalan tren demokrasi yang sedang berkembang. Di sinilah kunci Iran tidak mudah terjebak pada arus global dunia.

Tawaran Global Iran.

Dalam konteks global, secara tak langsung, Iran menawarkan tatanan dunia yang damai dan setara. Konsep persatuan ummat (Islam) menjadi satu isu yang ditawarkan kepada masyarakat dunia. Konsep negara bangsa menjadi salah satu konsen Iran untuk bisa didefinisikan ulang. Karena terbukti memecah belah dunia. Mungkin konsep ini yang menjadikan Amerika-Israel gerah dengan Iran.

Kini dunia sedang melirik tatanan baru yang dicontohkan oleh Iran. Kepemimpinan yang harismatik, spiritualis, tidak tergoda oleh materialisme, dan tidak terjebak pada hedonisme. Ulama’nya, para pemimpin birokrasinya, bahkan masyarakatnya yang solid.

Iran sebagai bukti bahwa negeri ini menawarkan hal baru, tatanan kepemimpinan baru, yang bisa diharapkan menghadirkan kedamaian dunia. Di media sosial publik banyak membahas keunggulan negeri ini. Bahkan ada yang mengaitkan dengan salah satu ayat al-Qur’an (QS. 47; 38) bahwa Persia disebut sebagai bangsa yang unggul.

Terlepas dari klaim apapun yang muncul, Iran membuka perspektif baru dalam tatanan politik dunia saat ini. Perang Amerika-Israel melawan Iran membuka fakta-fakta politik baru. Tentu akan menghasilkan peta perpolitikan yang baru.