Blitar. insanimedia.id – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memanfaatkan peresmian hasil renovasi Istana Gebang, rumah masa kecil Bung Karno di Kota Blitar, pada Senin (15/6), untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya kepedulian sosial. Presiden ke-5 RI tersebut menyoroti masih tingginya kasus perundungan atau bullying yang terjadi di lingkungan pendidikan.
Dalam pidatonya, Megawati menyampaikan keprihatinan terhadap anak-anak yang masih mengalami perundungan akibat kondisi ekonomi keluarga mereka. Menurutnya, tindakan tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat belum sepenuhnya menerapkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya sedih, kenapa sekarang banyak anak sekolah yang mengalami perundungan. Ada yang mengatakan jangan berteman dengan dia karena anak miskin, tidak punya apa-apa. Hal-hal seperti itu masih terjadi,” ujarnya.
Megawati menilai perilaku perundungan berawal dari pola pikir yang membedakan seseorang berdasarkan status sosial dan kondisi ekonomi. Ia juga menyoroti masih adanya orang tua yang membiarkan atau tidak menegur sikap diskriminatif tersebut.
“Ada kecenderungan sekarang orang membiarkan hal-hal seperti itu. Padahal kalau sejak kecil anak diajarkan membeda-bedakan temannya, bagaimana nanti dia bisa menghargai sesama manusia?” katanya.
Menurut Megawati, masyarakat tidak boleh menganggap bullying sebagai kenakalan biasa. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental anak sekaligus melemahkan semangat persatuan yang menjadi kekuatan bangsa.
Pada kesempatan itu, Megawati menghubungkan persoalan perundungan dengan penerapan nilai-nilai Pancasila. Ia menilai banyak orang hanya menghafal Pancasila tanpa mengamalkan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia mempertanyakan sejauh mana masyarakat memahami dan menjalankan nilai kemanusiaan.
“Pertanyaan saya, perikemanusiaan itu ada di mana? Apakah hanya seperti tulisan di atas kertas atau benar-benar ada di dalam hati kalian?” tegasnya.
Megawati menjelaskan bahwa kebiasaannya mengajak peserta berdiri saat mengucapkan Salam Pancasila bukan sekadar bagian dari acara seremonial. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pengingat bahwa bangsa Indonesia berdiri di atas keberagaman yang harus dijaga melalui sikap saling menghormati.
“Ini bukan sekadar formalitas. Saya ingin kita semua menyadari bahwa kita berbeda-beda, tetapi tetap satu. Kalau nilai kemanusiaan tidak diajarkan kepada anak-anak kita, lalu siapa yang akan menjaga bangsa ini ke depan?” ujarnya.
Megawati kemudian mengajak orang tua, tenaga pendidik, dan masyarakat untuk menanamkan nilai toleransi, empati, serta kepedulian sosial kepada anak-anak sejak usia dini. Ia berharap setiap sekolah dapat menjadi lingkungan yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang ekonomi, suku, maupun agama.
“Jangan sampai ada anak yang merasa rendah diri atau dikucilkan hanya karena keadaan keluarganya. Semua anak berhak mendapatkan perlakuan yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang,” pungkasnya.







