Pecah! Aksi Santri Ponpes Nurul Iman Garum Menari Reog, Disambung Guyonan Edukatif Cak Percil

Penulis: Sulkhan Z

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Panggung Malam Hiburan dan Bazaar PPNI pecah oleh riuh tepuk tangan penonton saat santri MTs kelas 9 menarikan reog dan jaranan, Minggu (14/6/2026). Aksi atraktif santri Pondok Pesantren Nurul Iman Garum, Blitar ini menjadi sajian pembuka yang spektakuler. Mereka membuktikan bahwa santri juga piawai merawat kesenian tradisional.

​Pertunjukan seni ini merupakan bagian dari acara “Guyon Santri & Budayawan”. Agenda tersebut memeriahkan rangkaian Haflatut Tasyakkur pesantren yang berlangsung sejak 12 hingga 15 Juni 2026.

​Lathif Najibulloh, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Nurul Iman Garum, merespons positif antusiasme penonton. Ia mengapresiasi kreativitas santri yang sukses memadukan nilai syiar Islam dengan pelestarian budaya adiluhung lokal.

​Usai kemeriahan jaranan dan barongan, atmosfer panggung seketika berubah penuh gelak tawa. Komedian kondang Cak Percil mengambil alih acara lewat sesi Guyon Maton yang sangat interaktif.

​Bersama rekan-rekannya, Cak Percil tak sekadar melontarkan banyolan khas dan bernyanyi. Ia cerdik menyelipkan pesan-pesan edukatif dan motivasi hidup bagi ribuan santri yang memadati area pesantren.

​Di hadapan para santri, seniman Jawa Timur ini membagikan kisah inspiratifnya. Ia menegaskan bahwa puncak kesuksesan selalu dibangun di atas fondasi kerja keras dan perjuangan panjang.

​”Ora enek ceritane wong sukses yang tidak dimulai dari sebuah kesulitan. Mas Percil iso terkenal, duite akeh, saiki ning YouTube rame, itu pasti berawal dari sebuah penderitaan atau kesulitan,” tandasnya.

 

​Keseruan berlanjut pada sesi Dialog Budaya dan Refleksi. Cak Percil berdiskusi santai dengan KH Khoirul Yasak, membahas pengalaman hidup serta pentingnya harmoni agama dan budaya.

​Dalam dialog yang sarat makna tersebut, Khoirul Yasak menitipkan pesan tajam. Nasihat ini secara khusus ditujukan untuk meredam ego anak muda yang kerap terlena akan usia. ​”Perkoro loro sing ora bakal langgeng: siji syababuhu (masa muda), loro kekuatan kita. Mulane wong enom ki aja sok kemelet (sombong),” tegas Khoirul Yasak penuh wibawa.

Baca Juga :  Kala Mitos Angker Lebih Ampuh Jaga Kelestarian Pohon Beringin Dibandingkan Kesadaran Cinta Lingkungan

 

​Rangkaian acara guyon santri dan budayawan ini ditutup dengan penampilan musik yang syahdu. Momen ini meninggalkan kesan mendalam tentang wajah pesantren yang adaptif dan inklusif.

​Kolaborasi apik antara seni tradisional, komedi edukatif, dan petuah ulama malam itu membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi instrumen pendidikan akhlak yang efektif dan menghibur.