Blitar, insanimedia.id – Pemerintah Kota Blitar terus menjalankan Program Berkah Bumil hingga pertengahan tahun 2026. Sejak penyaluran perdana pada April lalu, pemerintah telah mendistribusikan sekitar 1.300 paket bantuan kepada ibu hamil yang menjadi sasaran program tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar, Dissie Laksmonowati Arlini, mengatakan bantuan diberikan kepada ibu hamil yang berdomisili di Kota Blitar dan tercatat dalam program pelayanan kesehatan ibu dan anak.
“Dari distribusi awal tahun bulan April sampai sekarang sekitar 1.300 paket sudah diterima. Rata-rata setiap bulan kurang lebih sebanyak 460 penerima,” ujarnya, Jumat (19/6).
Dinas Kesehatan tidak hanya menyalurkan telur dalam program tersebut, tetapi juga memberikan susu khusus ibu hamil, pendampingan kesehatan, serta pemantauan kondisi penerima selama masa kehamilan. Selain itu, kader kesehatan turut membantu mengawasi pelaksanaan program agar bantuan diterima dan dimanfaatkan sesuai tujuan.
“Di dalam program ini ada telur, susu ibu hamil, kemudian pembinaan serta administrasi yang harus disiapkan untuk pemantauan dan evaluasi. Jadi ada kader yang ikut mengawasi,” jelasnya.
Dissie menjelaskan bahwa seluruh ibu hamil berhak menerima program tersebut tanpa melihat kondisi gizi yang dimiliki. Menurutnya, setiap ibu hamil memiliki kemungkinan mengalami perubahan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kebutuhan asupan nutrisi selama kehamilan.
“Baik yang kurang gizi maupun yang sudah cukup tetap mendapatkan program ini. Dalam proses kehamilan bisa saja muncul kondisi tertentu yang memengaruhi kebutuhan nutrisi ibu,” katanya.
Meski program berjalan dengan baik, Dinas Kesehatan menemukan satu kasus penerima yang tidak dapat melanjutkan bantuan karena mengalami alergi terhadap telur. Kondisi tersebut diketahui setelah petugas melakukan pemantauan kesehatan secara berkala.
Dissie menerangkan bahwa penghentian bantuan dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan rekomendasi tenaga kesehatan. Keputusan tersebut diambil untuk mencegah dampak yang dapat membahayakan kesehatan ibu hamil.
“Sudah ada satu kasus yang dalam perjalanannya ternyata memiliki faktor alergi telur. Karena tidak direkomendasikan untuk meneruskan pemberian tersebut, akhirnya program dihentikan untuk yang bersangkutan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa petugas tidak menghentikan bantuan hanya berdasarkan laporan atau keluhan penerima. Tim kesehatan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi yang dialami sebelum mengambil keputusan.
“Kita pastikan secara objektif melalui pemeriksaan kesehatan. Jadi tidak serta-merta berdasarkan pengakuan saja, tetapi memang ada rekomendasi dari tenaga medis,” tegasnya.
Dinas Kesehatan Kota Blitar terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan Program Berkah Bumil agar bantuan yang diberikan dapat mendukung pemenuhan gizi ibu hamil serta menjaga kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan.







