LSL Dominasi Kasus Baru HIV di Kabupaten Blitar, Capai 21 Temuan Selama Semester I 2026

Penulis : Budi

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat kelompok laki-laki suka dengan laki-laki (LSL) masih menjadi penyumbang terbanyak kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang Semester I 2026. Kondisi tersebut menunjukkan penularan pada kelompok berisiko tinggi masih mendominasi di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Blitar, selama Januari hingga Juni 2026 ditemukan 74 kasus baru HIV. Dari total tersebut, kelompok LSL menyumbang 21 kasus atau menjadi kelompok dengan jumlah temuan tertinggi dibandingkan kategori risiko lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, dr Cristine, mengatakan tingginya kasus pada kelompok LSL masih menjadi tantangan dalam upaya pengendalian HIV di Kabupaten Blitar.

“Fenomena LSL di Kabupaten Blitar masih menjadi perhatian karena hingga saat ini kelompok tersebut masih mendominasi temuan kasus baru HIV,” ujarnya.

Selain kelompok LSL, Dinkes juga menemukan 15 kasus pada warga binaan pemasyarakatan, 11 kasus pada penderita tuberkulosis (TB), serta 11 kasus pada perempuan pekerja seks. Sementara itu, pelanggan pekerja seks tercatat sebanyak sembilan kasus dan populasi umum sebanyak delapan kasus.

Temuan lainnya berasal dari kelompok calon pengantin sebanyak enam kasus. Kemudian pasangan pekerja seks komersial (PSK) dan ibu hamil masing-masing menyumbang dua kasus. Adapun pasangan orang dengan HIV (ODHIV), anak ODHIV, serta penderita infeksi menular seksual (IMS) masing-masing tercatat satu hingga dua kasus.

Jika dilihat berdasarkan waktu penemuan, kasus baru HIV paling banyak muncul pada Januari dan Mei dengan masing-masing 15 kasus. Selanjutnya, April mencatat 13 kasus, Februari 11 kasus, sedangkan Maret dan Juni masing-masing mencatat 10 kasus.

Cristine mengajak masyarakat untuk tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV (ODHIV). Ia menekankan pentingnya pemeriksaan HIV secara dini, khususnya bagi kelompok yang memiliki faktor risiko, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sekaligus mencegah penularan lebih luas.

Baca Juga :  Ribuan Warga Ikuti Jalan Sehat Hari Koperasi di Purworejo

“Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula pengobatan diberikan sehingga kualitas hidup penderita tetap baik dan risiko penularan dapat ditekan,” pungkasnya.