SURABAYA, insanimedia.id – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Prof. Dr. Arif Satria, menyoroti krisis integritas di kalangan akademisi sebagai ancaman serius bagi pembangunan sains dan peradaban. Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) dan Seminar Nasional ICMI Jawa Timur di Plaza Airlangga, Universitas Airlangga, Surabaya, Sabtu (4/7/2026).
Mengusung tema utama “Mengembalikan Peran Intelektual sebagai Penuntun Peradaban yang Inklusif dan Transformatif”, forum ini menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi dan moral. Prof. Arif menegaskan bahwa kecerdasan intelektual tanpa basis moralitas justru memicu destruksi, mencontohkan masih adanya fenomena plagiasi dan manipulasi data oleh kaum terdidik.
”Ada satu fondasi yang penting dalam pengembangan sains, inovasi, dan teknologi, yaitu soal integritas. Ini menjadi lebih berbahaya ketika seorang saintis tidak memilikinya. Integritas adalah fondasi yang harus segera kita jaga dan perkuat,” tegas Prof. Arif.
Sebagai solusi strategis mencetak cendekiawan berintegritas menuju visi Indonesia Emas 2045, ia menawarkan pendekatan berbasis riset. Mengutip temuan peraih Nobel Ekonomi tahun 2001, James Heckman, ia memaparkan bahwa investasi terbaik untuk kemajuan ekonomi suatu bangsa bukanlah semata pada pendidikan tinggi, melainkan pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
”Kenapa PAUD? Karena di sanalah karakter, social skill, dan soft skill dibangun. Pendidikan tinggi adalah tentang budi pekerti, sesuatu yang dalam bahasa kita adalah beradablah dahulu, kemudian berilmulah,” papar Prof. Arif.
Lebih lanjut, ia mendorong para cendekiawan untuk meneladani sifat Al-Khaliq (Maha Pencipta) melalui lahirnya inovasi-inovasi baru yang relevan dengan fenomena alam maupun sosial. Tanpa daya cipta, kemajuan peradaban akan stagnan.
Di akhir paparannya, Prof. Arif mendorong ICMI Jawa Timur untuk terus menjadi pelopor kolaborasi lintas iman. Turut hadirnya tokoh Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI), Dr. Ir. Daniel Rohi, dalam agenda tersebut menjadi wujud nyata sinergi intelektual lintas agama. Kekuatan tradisi pemikiran dan kolaborasi yang bersih dinilai krusial untuk menyelamatkan bangsa dari eksploitasi struktural di masa depan.







