JAKARTA, INSANIMEDIA.ID – Peringatan Haul ke-21 cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid (Cak Nur) di Jakarta menghadirkan refleksi mendalam mengenai arah perjalanan bangsa Indonesia. Dalam orasi budaya yang diselenggarakan oleh Cak Nur Society, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) Mohammad Mahfud MD menyoroti pentingnya pengawalan terhadap prinsip demokrasi dan pembatasan kekuasaan.
Mahfud menyampaikan bahwa dinamika kekuasaan politik kerap memunculkan godaan bagi setiap figur pemimpin untuk mempertahankan posisinya melampaui batas konstitusional. Menurut pandangannya, lingkungan sekitar sering kali menjadi faktor eksternal yang memperkuat dorongan tersebut.
”Ini penyakit power tends to corrupt. Siapa pun yang berkuasa itu akan digoda oleh lingkungannya untuk terus berkuasa,” ujar Mahfud dalam orasi budaya bertajuk “Meluruskan Kepemimpinan Nasional” yang disiarkan melalui kanal YouTube Cak Nur Society, Sabtu (29/8/2026).
Lebih lanjut, Mahfud menegaskan bahwa esensi negara hukum dan demokrasi tidak cukup hanya diukur dari penyelenggaraan pemilihan umum secara berkala. Jantung dari sebuah negara konstitusional yang sehat justru terletak pada komitmen tegas untuk membatasi kewenangan serta masa jabatan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif agar terhindar dari absolutisme.
Kegiatan yang sarat akan pesan moral ini turut dihadiri oleh kalangan akademisi, aktivis, serta keluarga besar mendiang Cak Nur. Melalui napak tilas pemikiran sang guru bangsa, forum tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat nalar kritis, menjaga nilai-nilai pluralisme, serta memperkuat etika bernegara demi terwujudnya masa depan Indonesia yang demokratis dan berkeadilan.





