Jangan Main-Main dengan Hidayah, Rawat dan Terus Jaga, Jangan Lengah Walau Sedetik Pun. Karena Hidayah Hanya Milik Allah SWT

Oleh: Ulul Albab Akademisi Universitas Dr. Soetomo Ketua Bidang Litbang DPP Amphuri Ketua ICMI Jatim (2021-2026)

insanimedia.id, Surabaya – Beberapa hari terakhir, media massa dan media sosial ramai memberitakan pengakuan seorang figur publik, Putri Anne, yang menyatakan telah kembali kepada agama yang pernah dianutnya sebelum memeluk Islam. Berita itu memunculkan beragam reaksi. Ada yang merasa sedih. Ada yang kecewa. Ada pula yang tergesa-gesa memberikan penilaian secara subyektif.

Fenomena seperti ini sesungguhnya bukan hanya terjadi hari ini. Sejak zaman para nabi dulu pun fenomena ini sudah terjadi, dalam berbagai versi. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukanlah, “Mengapa Putri Anne berubah?” Tetapi, “Mengapa Allah memberikan hidayah kepada sebagian orang, sementara sebagian yang lain tidak?”

Sesungguhnya, berita itu sendiri bukan berita tentang ujian iman Putri Anne. Berita itu justru sedang menguji cara kita memahami hidayah. Apakah kita memandang hidayah sebagai hasil kecerdasan? Sebagai buah lingkungan yang baik? Ataukah sebagai anugerah Allah yang harus terus dijaga?

Tentang hal ini, Al-Qur’an sudah mengajarkan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai. Tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56).

Ayat ini turun ketika Rasulullah SAW menghadapi salah satu kesedihan terbesar dalam hidup beliau. Pamannya beliau, Abu Thalib, yang sejak kecil melindungi, membela, dan mempertaruhkan kedudukannya demi keselamatan Rasulullah, tidak memperoleh hidayah hingga akhir hayatnya.

Bayangkan. Jika Rasulullah SAW, manusia paling mulia yang pernah hidup di muka bumi ini, tidak mampu memasukkan hidayah ke dalam hati orang yang beliau cintai, bagaimana mungkin kita yang hamba biasa merasa mampu menentukan siapa yang akan mendapat petunjuk dan siapa yang tidak?

Allah mengajarkan bahwa: Hidayah tidak dapat diwariskan. Tidak dapat dipaksakan. Tidak dapat dibeli. Bahkan tidak dapat diberikan oleh manusia yang paling mulia sekalipun. Hidayah adalah anugerah Allah.

Baca Juga :  Serial AI & Peradaban Islam (Episode 2) Padahal AI Tidak Bisa Bertakwa (Kecerdasan Tidak Sama dengan Kesadaran Spiritual

Al-Qur’an bahkan memperlihatkan kepada kita kisah-kisah yang jika kita renungkan dengan serius akan memberikan inspirasi yang luar biasa. Ada cerita tentang putra Nabi Nuh yang tidak beriman, meskipun dibesarkan di rumah seorang nabi. Ada cerita tentang Asiyah, istri Fir’aun, seorang wanita yang dipuji Allah karena keteguhan imannya, meskipun hidup di bawah kekuasaan penguasa yang bahkan mengaku dirinya sebagai tuhan.

Ada juga cerita tentang Nabi Ibrahim yang lahir di tengah keluarga penyembah berhala, tetapi Allah mengangkatnya menjadi bapak para nabi. Ada cerita tentang Umar bin Khattab yang ingin membunuh Rasulullah SAW, yang akhirnya dia justru menjadi salah seorang khalifah terbesar dalam sejarah. Ada cerita tentang Khalid bin Walid yang pernah memimpin pasukan Quraisy dalam Perang Uhud, namun setelah Allah membuka pintu hidayah baginya, Rasulullah SAW menjulukinya Saifullah, Pedang Allah.

Ada pula cerita tentang Wahsyi yang pernah membunuh Sayyidina Hamzah. Masa lalunya begitu kelam. Namun ketika Allah memberikan hidayah, ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan mengabdikan sisa hidupnya kepada Islam.

Semua kisah itu mengajarkan bahwa Hidayah tidak mengikuti logika manusia. Hidayah juga tidak diwariskan oleh keturunan. Juga tidak dijamin oleh kedekatan dengan orang saleh. Tidak dibatasi oleh masa lalu yang kelam. Dan tidak ditentukan oleh penilaian manusia. Tetapi hidayah adalah cahaya yang Allah letakkan ke dalam hati siapa pun yang Dia kehendaki.

Lalu, apakah manusia hanya menunggu datangnya hidayah? Tentu tidak. Islam mengajarkan keseimbangan yang sangat indah antara anugerah Allah dan ikhtiar manusia. Karena itulah, setiap hari, berkali-kali dalam sholat kita membaca, “Ihdinash shiraathal mustaqiim… (Tunjukilah kami jalan yang lurus.)”

Menariknya, doa ini bukan dibaca oleh orang yang belum mengenal Islam. Justru dibaca oleh orang-orang yang telah beriman. Dan dilantunkan setiap sholat. Mengapa? Karena hidayah bukan hanya berarti menemukan jalan yang benar, tetapi juga tetap bertahan di atas jalan itu hingga akhir kehidupan.

Baca Juga :  Karbala dalam Cahaya Ahlus Sunnah: Seri Refleksi Muharram

Inilah yang sering kita lupakan. Banyak orang mampu memulai perjalanan menuju Allah. Tetapi tidak semua mampu menjaganya hingga akhir. Para ulama mengatakan, istiqamah sering kali lebih berat daripada hijrah. Memulai adalah satu perkara, tetapi bertahan adalah perkara yang lain.

Karena itu, seorang mukmin tidak pernah merasa aman terhadap imannya sendiri. Ia tidak sibuk menghakimi perjalanan spiritual orang lain. Sebaliknya, ia lebih sering memeriksa hatinya sendiri. Masihkah aku mencintai Al-Qur’an? Masihkah shalatku menghadirkan kekhusyukan? Masihkah aku merasakan nikmatnya berdoa?

Inilah pelajaran terbesar yang dapat kita petik dari setiap kisah perpindahan keyakinan (iman). Bukan agar kita mudah menghakimi. Juga bukan agar kita merasa lebih suci. Tetapi agar kita semakin sering menengadahkan tangan seraya berdoa: “Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinik… (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.)”

Sebab sesungguhnya tidak ada seorang pun yang mampu menjamin dirinya akan tetap beriman hingga akhir hayat. Yang dapat kita lakukan hanyalah terus belajar, memperbaiki akhlak, menjaga amal saleh, memperbanyak doa, dan memohon agar Allah senantiasa membimbing langkah kita.

Bukankah Al-Qur’an sendiri mengajarkan doa yang begitu indah? “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami. Karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8).

Di situlah letak kebijaksanaan orang-orang yang oleh Allah disebut sebagai Ulul Albab. Ketika banyak orang sibuk membicarakan perubahan hidup seseorang, mereka memilih merenungkan perubahan yang sedang terjadi di dalam hatinya sendiri. Kenapa? Karena iman bukanlah soal keputusan yang pernah diambil pada suatu hari. Iman adalah perjalanan panjang yang harus dijaga setiap hari, hingga Allah memanggil kita kembali kepada-Nya.

Baca Juga :  Bisikan Indah dari Allah Buat Siapa Saja, Termasuk Yang Sedang Punya Banyak Masalah

Mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Mengapa seseorang kehilangan hidayah?” Tetapi, “Apa yang harus saya lakukan hari ini agar Allah tidak mencabut hidayah dari hati saya?” Sebab iman bukan hanya dijaga oleh ilmu, tetapi juga oleh doa, keikhlasan, amal saleh, dan kerendahan hati. Orang yang paling takut kehilangan hidayah justru bukan orang yang lemah imannya, melainkan orang yang paling memahami betapa berharganya hidayah itu.