JAKARTA, INSANIMEDIA.ID – Jagat media sosial kembali diramaikan oleh perdebatan warganet seputar beredarnya foto sampul dan daftar isi sebuah buku berjudul Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Buku setebal 346 hingga 368 halaman yang diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House ini memicu polemik tajam, terutama mengenai keabsahan atribusi tulisan dan pemilihan judul yang dinilai sarat akan kontroversi.
Menyikapi viralnya buku tersebut, sejumlah tokoh agama Islam dan ulama terkemuka di Indonesia angkat bicara untuk memberikan klarifikasi objektif, guna meluruskan informasi yang beredar liar di masyarakat.
Tokoh pertama yang memberikan bantahan adalah ulama muda Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau yang akrab disapa Gus Kautsar. Klarifikasi ini disampaikan secara resmi melalui akun media sosial sang istri, Ning Jazilah Annahdliyah. Pihak keluarga menyesalkan pencantuman nama Gus Kautsar yang seolah mengesankan beliau menulis langsung materi tersebut. Ning Jazilah menegaskan bahwa suaminya tidak pernah menyusun naskah, tidak terlibat dalam proses penyusunan, dan tidak pernah memberikan izin penggunaan namanya.
Bantahan tegas juga datang dari cendekiawan muslim sekaligus mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Majdi. Dalam daftar isi buku, nama TGB dicatut pada halaman 241 sebagai penulis artikel berjudul “Visi Keislaman Prabowo Subianto: Moderasi, Keadilan dan Pembaharuan Dialektika Keagamaan”. Melalui media sosial pribadinya, TGB membantah klaim tersebut secara singkat dan padat.
”Saya tidak pernah kirim tulisan,” tegas TGB.
Kondisi senada dialami oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj. Namanya dimasukkan ke dalam Bagian II buku dengan tajuk bab “Berislam Nusantara Ala Prabowo Subianto” pada halaman 129. Melalui tangkapan layar percakapan pesan singkat WhatsApp yang dikonfirmasi saat ia ditanya oleh publik, Kiai Said menepis keterlibatannya.
”Tidak benar, saya tidak tahu-menahu, saya pun kaget,” ungkap Kiai Said Aqil merespons foto daftar isi tersebut.
Selain persoalan dugaan pencatutan nama secara sepihak, kritik substansial juga diarahkan pada diksi judul buku. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Abbas, menyoroti penggunaan frasa “Islam Ala Prabowo”. Menurutnya, diksi tersebut berpotensi memicu kesalahpahaman fatal serta memecah belah persatuan umat.
Kiai Anwar Abbas menjelaskan bahwa penggunaan kata “Ala” dalam pemahaman masyarakat awam dikhawatirkan dapat membangun persepsi liar, seolah-olah muncul sebuah mazhab atau aliran baru dalam ajaran Islam. Ia menyarankan agar pihak penulis dan penerbit segera mengubah judul buku ke narasi yang lebih mencerminkan isinya.
Sebagai solusi edukatif, Kiai Anwar memberikan usulan alternatif judul yang dinilainya lebih aman, proporsional, dan tidak memicu polarisasi.
”Sikap dan Pandangan Prabowo terhadap kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan dilihat dari Perspektif Ajaran Islam,” usul KH Anwar Abbas kepada pihak terkait.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Atmosphere Publishing House selaku penerbit belum merilis pernyataan resmi terkait polemik pencantuman nama para tokoh agama serta kritik dari publik atas penerbitan buku tersebut.





