Insanimedia.id – Mencermati dinamika komunikasi politik antara warga negara dengan pemerintahnya yang terlalu dinamis, untuk menghindari kata tidak stabil, melahirkan suatu teka-teki konseptual. Apakah yang terjadi saat ini suatu miskomunikasi politik antara warga negara dengan pemerintahnya? Atau suatu langkah-langkah politik yang sengaja dilakukan atas realitas social yang gagal dipahami, yang disebut dengan miskomunikasi. Ada miskomunikasi tentang jawaban buruh tentang MBG tidak bermanfaat. Ada miskomunikasi atas pernyataan Presiden Prabowo tentang kabur ke Yaman. Ada juga miskomunikasi tentang orang desa tak pakai dolar.
MBG Bermanfaat Apa Tidak? “Tidak”
Miskomunikasi yang terjadi saat peringatan hari buruh (may day) jawaban ‘tidak’ atas pertanyaan Presiden Prabowo Subianto tentang manfaat program unggulan makan bergizi gratis (MBG). Lantas Presiden Prabowo melanjutkan bahwa MBG sangat bermanfaat untuk anak-anak.
Peringatan hari buruh 1 Mei 2026 di kawasan Monumen Nasional Jakarta yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Ada hal menarik dalam peringatan ini, yakni dihadiri oleh Presiden. Suatu peristiwa yang langka. Jarang presiden berkenan menghadiri peringatan hari buruh.
Hal menarik lain adalah sambutan Presiden Prabowo yang sempat menanyakan tentang apakah makan bergizi gratis (MBG) bermanfaat. “Saya bertanya kepada sauda-saudara, MBG bermanfaat atau tidak?” Terdengan para buruh yang hadir dalam peringatan tersebut secara serempak menjawab “tidaak”. Seolah tidak peduli dengan jawaban buruh, lalu Presiden Prabowo melanjutkan pidatonya, “MBG itu sangat penting untuk anak-anak kita”.
Peristiwa ini menjadi perbincangan public, terutama di media social. Lantaran jawaban “tidak” dianggap merepresentasikan pandangan masyarakat tentang MBG yang kurang manfaat. Selain itu, jawaban tersebut dianggap ‘menampar’ pimpinan Serikat Buruh yang juga ada panggung.
Ramainya perbincangan di media social memantik respon dari Ketua Serikat Buruh Andi Gani Nena Wea. Menurutnya yang menjawab pertanyaan Presiden Prabowo “MBG bermanfaat atau tidak?” dengan jawaban “Tidak” adalah mereka yang masih lajang. Sebagaimana dikutip dari Jawapos.com berikut; “teman-teman bisa melihat video tersebut diulang-ulang, kami para pimpinan konfederasi melihat, ‘oh ternyata sebagian besar lajang’. Yang tepuk tangan, yang sudah berkeluarga,’ jelasnya.”
Kabur Aja.
Dalam kesempatan lain Presiden RI Prabowo Subianto pada tanggal 29 April lalu mengungkap isu ‘kabur aja’. Dalam pernyataannya ia menyampaikan “kita dibikin apa lagi, Indonesia gelap. Matanya burem, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur. Kabur aja. Kau kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman. Silakan!” paparnya dalam sambutan. Ungkapan ini disampaikan dalam peresmian proyek hilirasasi 13 perusahaan di Cilacap, Jawa Tengah.
Pernyataan ini mengundang reaksi netizen yang cukup beragam. Tak sedikit yang memaknai bahwa pernyataan Presiden Prabowo adalah sindiran politik untuk lawan politik saat pilpres lalu. Bahkan ada yang mengaitkan dengan Anies R Baswedan yang memang memiliki garis keturunan ke Yaman. Pernyataan Presiden Prabowo tersebut menuai kontroversi di jagat media social.
Pernyataan Presiden Prabowo tersebut disampaikan berkaitan dengan kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Menurutnya, kekayaan tersebut dikelola oleh pengusaha-pengusaha yang dipandangnya tidak patriotik karena menyimpan hasilnya ke luar negeri. Padahal sudah difasilitasi oleh negara.
Hal itu diangapnya tidak patriotik. “Jangan kepandaianmu untuk menipu rakyat dan bangsa. Jangan kepandaianmu untuk menutupi korupsi dan perampokanmu. Jangan kepandaianmu kau pakai untuk memperkaya bangsa lain.” Saat ini Indonesia sudah mulai mandiri. Ia merasa heran atas narasi negatif seperti ‘Indonesia gelap’ dan ‘kabur saja’. Ia menyampaikan “Terus kita dibikin apa lagi? Indonesia gelap. Matanya buram Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur? Kabur aja. Kabur aja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman, ya? Silakan! Mau kabur ke mana?” ucapnya.
Lagi-lagi pernyataan tentang “kabur saja, mungkin ada yang mau kabur ke Yaman” menjadi sorotan netizen. Pro dan kontra muncul di media social. Analisis-analisis liarpun berseliweran di jagat media social.
Orang Desa Tak Pakai Dolar.
Dalam momen lain Presiden Prabowo menyampaikan bahwa orang desa gak pakai dolar. “Mau dollar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa gak pakai dolar.” Kalimat itu diungkapkan menanggapi naiknya nilai mata uang dollar atas rupiah, sehingga membuat pusing banyak pihak.
Pernyataan itu disampaikan saat memberikan sambutan di acara peresmian 1000 koperasi merah putih Kabupaten Nganjuk, Propinsi Jawa Timur. Di salam sambutannya Presiden Prabowo menyampaikan eksistensi koperasi merah putih yang secara fisik ada dan menjadi kebanggaan. Menyusun konsep, system, bangunan, tenaga kerja, dan juga sarana koperasi telah siap. “Saya kira, ini prestasi bagi bangsa Indonesia.” Berdirinya koperasi merah putih adalah sebuah prestasi. Demikian juga keberhasilan dalam swa sembada beras adalah prestasi. Sehingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tidak menjadi masalah. Apalagi secara riil orang desa tidak belanja pakai dollar. Kepercayaan terhadap keberhasilan Indonesia ini diungkap juga secara jelas. Dalam kalimat lain Presiden Prabowo menyampaikan “percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat, orang mau ngomong apa, Indonesia kuat, percaya pada kekuatan kita, percaya pada rakyat kita, semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat.”
Presiden Prabowo juga merasa bangga karena keberhasilan dalam penguatan pangan. “Kita swasembada pangan, perjuangan yang tidak ringan. Kita negara ratusan juta. 287 juta rakyat kita. Menjamin pangan 287 juta bukan pekerjaan ringan.” Presiden Prabowo juga menyampaikan keberhasilan Indonesia, tentang swasembada pangan, pengelolaan asset besar, dan seterusnya, termasuk program makan bergizi gratis (MBG) yang dipandang memutar ekonomi masyarakat.
Konteks Komunikasi
Pakar ilmu Komunikasi Deddy Mulyana mengemukakan bahwa komunikasi itu berada dalam konteks. Teks atau pesan komunikasi terikat konteks. Sehingga memaknai pesan komunikasi harus menyertakan konteksnya. Tanpa menyertakan konteks komunikasi dalam memaknai pesan, maka akan menimbulkan miskomunikasi.
Jawaban “tidak” dari para buruh saat may day, harus dimaknai sebagai bagian dari aspirasi buruh. Maka jawaban “tidak” dari para buruh bukanlah suatu aib bagi serikat buruh sehingga harus diklarifikasi. Jawaban “tidak” cukup dimaknai sebagai bahan evaluasi. Apakah betul MBG tidak memberikan manfaat? Tentu, jawaban tergantung dari hasil evaluasi.
Pernyataan “kabur saja” juga harus dimaknai sesuai dengan konteksnya. Yakni para pengusaha ‘nakal’ yang tidak mau memarkir uangnya di dalam negeri. Pernyataan itu tidak ada kaitannya dengan kubu politik, jika dimaknai sesuai dengan konteks sambutan dan dirangkai sebagai bagian dari seluruh isi sambutan. Ketika pernyataan “kabur saja” dan “mungkin ada yang mau kabur ke Yaman” dikeluarkan dari konteks pidato presiden, tentu bisa dimaknai beraneka ragam. Dalam konteks luas, pernyataan tersebut berkaitan dan dapat dikaitkan dengan berbagai isu lain, misal secara historis bisa dikaitan dengan isu anti Arab.
Tak terkecuali pernyataan “orang desa tak pakai dollar” harus dimaknai sesuai konteksnya. Konteksnya adalah mengemukakan capaian pemerintah dalam menjalankan programnya. Swasembada beras, MBG, dan koperasi yang menjadi agen ekonomi desa dipandang sebagai sebuah prestasi pemerintah, sehingga ekonomi bangsa tidak goyah meskipun nilai mata uang rupiah menurun atas dolar. Konteksnya adalah menunjukkan kemandirian bangsa yang telah dicapai. Apakah kemandirian itu riil atau hanya klaim saja? Itu permasalahan lain.
Harus diakui juga bahwa teks “orang desa tak pakai dollar” memiliki referensi yang luas. Meskipun konteks pernyataan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kemandirian yang telah dicapai, tetapi public tidak akan memaknai dalam konteks sempit. Publik hampir pasti memaknai pernyataan tersebut dengan konteks sosio-ekonomi yang menempatkan dollar sebagai alat tukar utama dalam system perdagangan global. Sehingga pernyataan tersebut dipandang absurd oleh public. Karena dalam konteks sosio-ekonomi dollar menjadi mata uang utama dalam perdagangan global yang memengaruhi harga semua barang, baik langsung maupun tak langsung.
Independensi Teks
Ramainya tanggapan di media social terkait dengan statemen presiden yang diambil dari pidato presiden menunjukkan bahwa teks yang sudah dilepaskan dan diterima oleh public akan dimaknai secara beragam. Pembaca, tentu termasuk pendengar dan pemirsa, bebas memaknai teks yang diterimanya. Dalam buku The Death of The Author yang ditulis oleh Roland Barthes dan juga dikutip dan dipublikasikan dalam buku “Hidup Matinya Sang Pengarang“ disampaikan bahwa teks pesan atau karya yang telah dipublikasikan akan dimaknai sepenuhnya oleh penerima pesan. Sang pengarang atau penyampai pesan tak punya kuasa untuk mencampuri pemaknaan pembaca. Ketika pembaca mampu memaknai teks pesan secara utuh, termasuk konteksnya, maka besar peluangnya untuk mampu memaknai pesan dari pembuatnya secara utuh. Tetapi jika tidak mampu memahami konteks pesan, maka sangat mungkin pesan itu akan dimaknai secara parsial.
Pembaca bebas memaknai teks. Pembaca bisa memaknai pernyataan sesuai teks dengan meninggalkan konteks. Pembaca bisa juga memaknai teks dengan konteks sempit atau bahkan memperluas konteks dari teks yang dibacanya.
Bagaimana menurut anda?







