JAKARTA, insanimedia.id – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menyusun kepengurusan baru usai Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, menetapkan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum periode 2026-2031 pada akhir Agustus lalu.
Dari sejumlah jabatan strategis yang tengah dirampungkan, posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) menjadi yang paling banyak diperbincangkan karena dianggap krusial mendampingi Gus Kikin menjalankan roda organisasi. Gus Kikin sendiri meraih dukungan tertinggi dalam penjaringan awal dengan 472 suara dari 551 peserta muktamar, sebelum akhirnya ditetapkan secara mufakat oleh sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).
Modal legitimasi yang kuat ini turut mendorong ekspektasi publik agar barisan pendampingnya, termasuk Sekjen, disusun dengan pertimbangan matang dan representatif. Desakan pun muncul dari sejumlah tokoh NU agar kepengurusan baru dibangun secara profesional, representatif secara wilayah, dan bebas dari prasangka politik praktis.
Posisi Sekjen dinilai bukan sekadar jabatan administratif, melainkan simpul yang menerjemahkan kebijakan Ketua Umum menjadi program kerja, sekaligus menjaga komunikasi organisasi antara PBNU, PWNU, PCNU, hingga badan otonom dan lembaga di bawahnya.
Merespons harapan tersebut, dua nama paling sering disebut dalam diskursus publik sepekan terakhir adalah Muhammad Lukman Edy dan Kamaruddin Amin.
Lukman Edy dikenal sebagai Koordinator Nasional Pemenangan Gus Kikin, dengan latar belakang mantan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan mantan Sekjen PKB. Kamaruddin Amin membawa pengalaman birokrasi keagamaan sebagai mantan Sekjen Kementerian Agama sekaligus Ketua PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.
Selain keduanya, nama KH Abdul Ghofar Rozin atau Gus Rozin turut menguat dalam beberapa hari terakhir. Gus Rozin pernah menjabat Ketua RMI PBNU, asosiasi pesantren nasional, periode 2015-2021, dan kini memimpin PWNU Jawa Tengah, modal jaringan yang disebut relevan dengan kebutuhan koordinasi lintas wilayah. Meski demikian, PBNU belum mengeluarkan penetapan resmi atas ketiga nama tersebut.
Di sisi lain, Gus Kikin telah mulai membangun komunikasi dengan sejumlah tokoh untuk melengkapi jajaran pengurus, salah satunya Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asrorun Niam Sholeh, dalam pertemuan di Kantor PBNU, Jakarta, awal September lalu.
Selain Sekjen, posisi Bendahara Umum juga masih terbuka. Nama Gudfan Arif Ghofur, yang sebelumnya menjabat Plt Bendahara Umum PBNU, disebut berpeluang melanjutkan posisi tersebut, meski hingga kini belum ada keputusan resmi.
Proses penyusunan nama-nama tersebut berada di tangan sembilan anggota tim formatur yang dipimpin Rais Aam terpilih KH Miftachul Akhyar, dengan Gus Kikin sebagai sekretaris tim. Gus Kikin menargetkan struktur kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031 rampung dalam waktu sekitar sebulan sejak penutupan Muktamar. Kepastian nama Sekjen dan jajaran pengurus lengkap diperkirakan diumumkan lewat Surat Keputusan PBNU dalam waktu dekat.







