SANTRI MENGUATKAN NEGERI: DARI RESOLUSI JIHAD MENUJU RESOLUSI PERADABAN INDONESIA EMAS

Oleh: M. Luthfillah,M.Ag. Guru Madrasah Inspiratif Nasional Kementerian Agama RI (2022) dan Ketua KMM PDM Lamongan

Lamongan, insanimedia.id Hari Santri Nasional 22 Oktober bukan sekadar peringatan historis. Ia adalah pengingat periodik tentang dari mana fondasi keindonesiaan kita berasal dan akan dibawa ke mana. Jika 22 Oktober 1945 adalah tentang Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan fisik, maka 22 Oktober 2026 dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” adalah tentang Resolusi Peradaban untuk mempertahankan kemerdekaan moral dan intelektual.

Tema ini relevan secara sosiologis. Indonesia Emas 2045 mensyaratkan bonus demografi yang produktif, namun produktivitas tanpa integritas hanya akan melahirkan korupsi yang lebih canggih. Di sinilah posisi strategis santri.

Pertama, Santri Sebagai Penjaga Nalar Keadilan. Visi Indonesia Emas mustahil tercapai tanpa keadilan hukum yang kokoh. Pesantren adalah institusi yang secara sistemik mengajarkan fikih peradilan (al-qadha) sebagai adab, bukan sekadar teori. Santri diajarkan kaidah La yahkum al-hakimu wa huwa ghadhban dan larangan hadaya al-‘ummal ghulul. Di era ketika hukum sering diperjualbelikan, inilah modal moral yang tidak bisa dihasilkan oleh pendidikan vokasi semata.

Kedua, Santri Sebagai Model Manusia Unggul yang Utuh. Sistem pendidikan pesantren yang mengintegrasikan aqliyah, qalbiyah, dan jasadiyah menghasilkan daya tahan sosial yang tinggi. Ketika dunia menghadapi krisis identitas akibat disrupsi AI, pesantren menawarkan jawaban: ilmu harus dibingkai dengan adab.

Ketiga, Santri Sebagai Perekat Sosial. Fikih Islam mengenal konsep Al-Ishlah dan At-Tahkim, yaitu penyelesaian sengketa melalui musyawarah. Dengan lebih dari 36.000 pesantren di seluruh Indonesia, santri adalah simpul-simpul kohesi sosial yang meredam konflik di akar rumput dalam bingkai hubbul wathan minal iman.

Menguatkan negeri tidak selalu harus dengan membangun ibu kota baru. Menguatkan negeri bisa dimulai dengan menguatkan cara kita berpikir adil. Dan selama berabad-abad, itulah yang telah dilakukan santri dalam diam.

Baca Juga :  Merawat Silaturrahmi, Menjaga Cahaya Ramadan

Selamat Hari Santri Nasional 2026. Dari santri, untuk negeri, menuju Indonesia Emas 2045.