Blitar, insanimedia.id – Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Jawa Timur sukses menggelar Workshop “Etika dan Kampanye Media Digital Inklusif” di Aula Bakesbangpol Kota Blitar, Rabu, 17 Juni 2026.
Agenda strategis ini dirancang khusus untuk membangun narasi ruang publik digital yang memanusiakan, bebas diskriminasi, serta ramah terhadap isu kesehatan mental.
Langkah preventif ini mendesak dilakukan mengingat ruang siber saat ini kerap beralih fungsi menjadi arena reproduksi stigma negatif bagi kelompok disabilitas psikososial.
Ketua PJS Jawa Timur, Saiful Anam, menegaskan bahwa seluruh aktivitas komunikasi di platform media digital saat ini menuntut pertanggungjawaban etis yang kuat.
”Workshop ini menjadi ruang kritis mengintegrasikan perspektif kesehatan mental demi menciptakan praktik kampanye digital yang transformatif,” tegas Saiful Anam saat memberikan pemaparan.
Pendekatan jurnalisme data mencatat sinergi lintas sektoral yang solid, mempertemukan tepat 25 peserta dari sembilan instansi dan organisasi strategis wilayah Blitar.
Unsur pemangku kebijakan publik diwakili oleh delegasi resmi dari Bakesbangpol, KPU, serta Bawaslu Kota Blitar. Ekosistem pers dan keterbukaan informasi publik diperkuat oleh jurnalis Pers Mahasiswa.
Organisasi masyarakat sipil turut mengambil peran aktif melalui kehadiran utusan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Sahabat Perempuan dan Anak (SAPUAN), dan jejaring Sekolah Filsafat Jalanan (SFJ).
Komposisi kepesertaan kehadiran pengurus PJS Jatim-Blitar yang diproyeksikan sebagai motor penggerak utama advokasi inklusif lokal.
Kepala Bakesbangpol Kota Blitar, Toto Robandiyo, menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan kolaboratif berbasis literasi siber inklusif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat ini.
”Penguatan literasi digital inklusif seperti ini adalah pondasi utama menekan diskriminasi menuju kehidupan bermasyarakat yang jauh lebih adil,” tutur Toto.
Para peserta dibekali metode psikoanalisis untuk membedah akar prasangka siber penyulut kecemasan sosial. Melalui sesi studi kasus interaktif, seluruh elemen berkomitmen memproduksi konten kampanye kreatif yang adaptif, edukatif, serta bebas dari unsur eksklusi sosial.
Upaya kolektif ini diharapkan mampu membongkar sekat ego sektoral yang selama ini memisahkan konstruksi identitas kelompok normal dengan kelompok rentan lainnya.
Melalui penguatan kompetensi digital ini, jejaring advokasi inklusi sosial di tingkat akar rumput di wilayah Blitar diharapkan akan berjalan lebih optimal.
Pada akhirnya, workshop komprehensif ini sukses melahirkan agen perubahan siber yang responsif dalam menjaga ekosistem digital Indonesia tetap sehat dan aman.







