Blitar, insanimedia.id – Sekolah Rakyat Kota Blitar kembali menambah jumlah peserta didik. Sebanyak 27 siswa baru bergabung sehingga total siswa kini mencapai 216 anak, meningkat dari sebelumnya 189 siswa.
Pemkot Blitar melakukan penerimaan siswa secara bertahap sesuai dengan konsep pendidikan berbasis asrama yang diterapkan Sekolah Rakyat. Sistem tersebut memungkinkan siswa baru mengikuti proses pembelajaran tanpa harus khawatir tertinggal materi.
Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin mengatakan, pihaknya memang merancang penerimaan peserta didik secara bertahap sejak awal. Menurutnya, sistem pendidikan berasrama memiliki waktu pembelajaran yang lebih panjang dibandingkan sekolah reguler.
“Sekolah ini memang didesain untuk menerima siswa secara bertahap. Karena ini sekolah asrama, jam belajarnya lebih banyak daripada sekolah nonasrama. Jadi, meskipun masuk belakangan, tidak perlu khawatir ketinggalan pelajaran,” ujarnya.
Syauqul menjelaskan, siswa yang lebih dahulu masuk kini mulai beradaptasi dengan rutinitas kehidupan di asrama. Mereka telah menjalani aktivitas sekolah selama sekitar satu setengah bulan.
Sementara itu, siswa yang baru bergabung sekitar dua pekan juga mulai menunjukkan kemampuan beradaptasi. Mereka disebut sudah merasa nyaman dan dapat berbaur dengan teman-teman yang lebih dulu mengikuti kegiatan di sekolah.
“Teman-teman bisa melihat sendiri, anak-anak sudah terlihat nyaman karena sudah satu setengah bulan di sini. Bahkan, ada yang baru masuk dua minggu juga sudah kerasan bersama teman-temannya,” katanya.
Menurut Syauqul, perkembangan tersebut dapat menjadi gambaran bagi orang tua yang masih memiliki keraguan untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat. Terlebih, pemerintah masih membuka peluang penerimaan karena kapasitas siswa belum sepenuhnya terpenuhi.
Proses penerimaan siswa dilakukan melalui pendataan dan survei. Selain itu, pemerintah juga menerima pengajuan dari masyarakat melalui kanal pengaduan Sapa Mas Wali.
Wali Kota mengatakan, sejumlah usulan tidak hanya datang dari warga Kota Blitar, tetapi juga berasal dari masyarakat luar daerah yang ingin menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat.
Pemerintah tetap mengutamakan calon siswa dari keluarga yang membutuhkan. Namun, apabila kuota bagi warga Kota Blitar masih tersedia, Pemkot Blitar membuka peluang bagi calon siswa dari luar daerah yang memenuhi persyaratan.
“Sebagian besar ada yang mengusulkan melalui kanal Sapa Mas Wali. Bahkan, beberapa juga berasal dari luar Kota Blitar. Kami cek terlebih dahulu, dan kalau memang memungkinkan untuk masuk Sekolah Rakyat, kami perbolehkan,” jelasnya.
Pemkot Blitar juga menyiapkan dukungan sosial bagi keluarga peserta didik yang berasal dari Kota Blitar. Pemerintah akan mengecek kondisi rumah keluarga siswa untuk melihat kemungkinan pemberian bantuan melalui program bedah rumah.
Selain perbaikan tempat tinggal, pemerintah juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi keluarga siswa. Program tersebut diarahkan untuk membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga sekaligus mendukung keberlangsungan pendidikan anak.
“Bagi warga Kota Blitar yang anaknya bersekolah di sini, tolong dicek kondisi rumahnya. Nanti juga bisa difasilitasi bedah rumah dan pemberdayaan ekonomi untuk keluarganya,” pungkasnya.







