Jakarta, insanimedia.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sejak awal berdirinya dikenal sebagai organisasi kader yang tidak hanya mencetak pemimpin intelektual, tetapi juga membangun jejaring persaudaraan yang kuat di antara para anggotanya. Tradisi saling membantu, saling menguatkan, dan saling mendorong sesama kader untuk berkembang merupakan salah satu nilai yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan utama organisasi tersebut. Namun, menurut Arif Rosyid Hasan, nilai itu kini perlahan mulai memudar di tengah kehidupan organisasi yang semakin dipengaruhi oleh rivalitas dan kepentingan kelompok.
Arif Rosyid menilai bahwa salah satu tokoh yang masih konsisten menunjukkan tradisi tersebut adalah Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Baginya, apa yang dilakukan Bahlil selama ini bukanlah bentuk pemanfaatan organisasi untuk kepentingan pribadi, melainkan manifestasi dari semangat kaderisasi yang selama ini menjadi ciri khas HMI.
Menurut Arif, terdapat kesalahpahaman yang berkembang di tengah publik maupun sebagian kader HMI ketika melihat banyak alumni atau kader HMI yang kemudian memperoleh kesempatan untuk berkiprah di berbagai posisi strategis. Tidak sedikit yang kemudian menuduh bahwa hal tersebut merupakan bentuk praktik kedekatan personal atau bahkan upaya “menjual organisasi” demi kepentingan tertentu.
Padahal, menurutnya, tuduhan tersebut tidak berdasar jika melihat realitas yang terjadi. Banyak kader HMI yang mendapatkan kesempatan menduduki posisi penting justru karena memiliki kapasitas, pengalaman, dan kompetensi yang telah teruji. Kehadiran jejaring alumni atau senior hanya berfungsi sebagai jembatan yang membuka akses dan peluang, sementara proses seleksi dan penilaian tetap dilakukan secara profesional.
“Yang sering dilupakan adalah bahwa membantu membuka jalan bagi kader yang berkualitas bukanlah tindakan yang salah. Dalam tradisi HMI, hal itu justru merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang senior terhadap kader-kader yang memiliki kemampuan,” ujar Arif.
Ia menegaskan bahwa Bahlil Lahadalia merupakan contoh nyata bagaimana seorang kader yang telah mencapai posisi penting tidak melupakan akar organisasinya. Sebagai mantan aktivis HMI yang berhasil menembus berbagai posisi strategis di tingkat nasional, Bahlil dinilai tetap menunjukkan perhatian terhadap pengembangan kader-kader muda.
Dalam pandangan Arif, perhatian tersebut tidak boleh dimaknai sebagai bentuk favoritisme. Sebaliknya, hal itu merupakan upaya memastikan bahwa kader-kader yang memiliki kualitas memperoleh kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka di ruang publik maupun pemerintahan.
“Kalau ada kader HMI yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan integritas, lalu diberikan kesempatan untuk mengikuti proses seleksi atau menempati posisi tertentu secara profesional, mengapa itu harus dipersoalkan? Bukankah itu justru tujuan kaderisasi?” katanya.
Arif mengingatkan bahwa sejarah HMI dipenuhi oleh contoh-contoh kader senior yang membantu membuka jalan bagi generasi berikutnya. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak masa awal organisasi dan menjadi salah satu faktor yang membuat alumni HMI mampu hadir di berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat sipil.
Menurutnya, tradisi tersebut bukanlah bentuk eksklusivitas organisasi, melainkan bagian dari proses regenerasi kepemimpinan. Setiap organisasi besar di dunia memiliki jaringan kader dan alumni yang saling mendukung satu sama lain selama tetap berada dalam koridor profesionalisme dan etika.
Karena itu, Arif menilai kritik yang menyebut Bahlil “menjual HMI” tidak hanya keliru, tetapi juga mengabaikan nilai dasar yang selama ini diajarkan dalam proses kaderisasi. Baginya, yang perlu dikritisi bukanlah adanya dukungan terhadap sesama kader, melainkan apabila dukungan tersebut mengabaikan kompetensi dan integritas.
“Selama yang diberikan kesempatan adalah orang-orang yang memang layak dan mampu, maka itu tidak bertentangan dengan prinsip profesionalisme. Yang salah adalah jika jabatan diberikan semata-mata karena kedekatan tanpa mempertimbangkan kualitas,” tegasnya.
Lebih jauh, Arif mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi HMI saat ini. Ia melihat munculnya kecenderungan sebagian kader yang lebih fokus pada persaingan internal dibandingkan membangun solidaritas dan kerja sama. Akibatnya, semangat kolektif yang dahulu menjadi ciri khas organisasi mulai terkikis.
Padahal, menurutnya, salah satu kekuatan terbesar HMI adalah kemampuan para kadernya untuk tumbuh bersama dan saling mendorong satu sama lain mencapai posisi terbaik. Tradisi itu yang dahulu melahirkan banyak tokoh nasional dari berbagai generasi.
“Yang mulai hilang hari ini adalah kebanggaan melihat sesama kader berhasil. Kita terlalu sering melihat keberhasilan kader lain sebagai ancaman, bukan sebagai prestasi bersama yang patut diapresiasi,” kata Arif.
Ia menambahkan bahwa kaderisasi yang sehat seharusnya menghasilkan ekosistem yang memungkinkan kader terbaik tampil di berbagai bidang. Ketika seorang kader berhasil mencapai posisi penting, keberhasilan tersebut semestinya menjadi inspirasi bagi kader lain untuk meningkatkan kapasitas diri, bukan menjadi alasan untuk saling menjatuhkan.
Dalam konteks itulah Arif menilai sosok Bahlil layak diapresiasi. Terlepas dari berbagai perdebatan politik yang menyertainya, Bahlil dinilai tetap menunjukkan komitmen untuk membuka ruang bagi kader-kader muda yang memiliki potensi. Langkah tersebut dianggap sejalan dengan semangat HMI sebagai organisasi pencetak pemimpin umat dan bangsa.
Bagi Arif, masa depan HMI tidak hanya ditentukan oleh kualitas forum-forum diskusi atau pelatihan kader yang diselenggarakan, tetapi juga oleh kemampuan organisasi mempertahankan nilai persaudaraan dan solidaritas antar kader. Tanpa nilai tersebut, proses kaderisasi berisiko kehilangan makna substantifnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh kader HMI untuk kembali menghidupkan tradisi saling menguatkan yang selama ini menjadi identitas organisasi. Menurutnya, perbedaan pandangan politik maupun pilihan organisasi tidak boleh menghilangkan semangat persaudaraan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
“HMI besar bukan karena kader-kadernya saling menjatuhkan. HMI besar karena kader-kadernya saling mengangkat, saling menguatkan, dan saling membuka jalan untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan negara. Nilai itulah yang masih dicontohkan Kanda Bahlil dan yang perlu kita hidupkan kembali hari ini,” pungkas Arif Rosyid Hasan.







