BPOB Kembangkan Wisata Jemparingan untuk Perkuat Daya Tarik Borobudur Highland

Penulis : Joe Hartoyo

Insani Media

Kulon Progo, insanimedia.id – Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) menghadirkan atraksi wisata baru bertajuk Land & Legacy Gladhen Jemparingan di Zona Otorita Borobudur Highland. Program yang diluncurkan pada 20 Juli 2026 ini menjadi bagian dari strategi BPOB dalam memperkuat pariwisata berkelanjutan sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan di kawasan Borobudur Highland yang meliputi Kabupaten Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo.

Pengembangan atraksi tersebut melanjutkan komitmen BPOB setelah sebelumnya mengembangkan wisata kebugaran (wellness tourism) Moekti Diri pada 2025. Melalui konsep baru ini, BPOB menggabungkan panorama alam Perbukitan Menoreh, nilai sejarah Perang Jawa, olahraga tradisional, dan pemberdayaan masyarakat menjadi satu paket wisata yang memiliki nilai budaya dan ekonomi.

Jemparingan merupakan seni panahan tradisional gaya Mataraman yang dilakukan dengan posisi duduk bersila. Selain melestarikan budaya, aktivitas ini juga mendukung konsep ekowisata karena dilaksanakan di kawasan hutan Borobudur Highland. Kegiatan tersebut juga mengedepankan nilai kebugaran dengan menggabungkan ketenangan pikiran, pengendalian emosi, konsentrasi, dan keterampilan fisik.

BPOB memilih tanggal 20 Juli sebagai waktu pelaksanaan kegiatan untuk memperingati dimulainya Perang Jawa pada 1825. Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan haul Pangeran Diponegoro sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan sang pahlawan nasional. Kawasan Perbukitan Menoreh sendiri memiliki hubungan erat dengan sejarah perjuangan Diponegoro karena pernah menjadi basis pertahanan dan gerilya selama Perang Jawa.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BPOB bersama para pemangku kepentingan membentuk Paseduluran Jemparing Gagak Roban di Nglinggo, Desa Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh. Komunitas tersebut menjadi bagian dari pengembangan wisata berbasis masyarakat di kawasan penyangga Borobudur Highland agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan langsung oleh warga setempat.

Atraksi ini diikuti 30 pemanah dari berbagai komunitas jemparingan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pengurus Paseduluran Jemparing Langenlastro, Agung, menyambut positif langkah BPOB dalam membuka ruang pelestarian budaya melalui sektor pariwisata.

Baca Juga :  Ramadan Bermakna, MORAZEN Yogyakarta Kembangkan Sudut Baca di SD Negeri Temon

“Sebanyak 30 peserta dari berbagai komunitas jemparingan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut. Ini momentum penting bagi kami para pelestari tradisi untuk mengenalkan olah jiwa jemparingan kepada masyarakat luas dan wisatawan dalam ekosistem kawasan yang terkelola secara profesional,” ungkap Pengurus Paseduluran Jemparing Langenlastro, Agung.

Pengembangan atraksi tersebut melibatkan berbagai pihak, antara lain Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Pemerintah Desa Wisata Nglinggo, Dukuh Nglinggo Timur, Dukuh Nglinggo Barat, Sanggar Ndalem Tanu, serta sejumlah komunitas jemparingan seperti Paseduluran Jemparing Langenlastro, Trajumas, dan Teratai Kota.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, Sutarman, menilai kolaborasi lintas sektor menjadi faktor utama dalam menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kolaborasi menjadi bagian penting dari pengembangan Land & Legacy Jemparingan sebagai atraksi wisata yang berbasis pada potensi lokal, pelestarian budaya, sejarah, dan alam, serta keterlibatan aktif masyarakat. Sinergi antara pemerintah, desa wisata, komunitas, dan pelaku budaya diharapkan dapat menciptakan atraksi wisata yang menarik, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar,” papar Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo, Sutarman.

BPOB mengembangkan berbagai destinasi tematik di Borobudur Highland untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam, edukatif, dan memiliki karakter khas. Optimalisasi potensi alam, budaya, dan sejarah kawasan diharapkan mampu meningkatkan daya tarik destinasi, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta mendorong peningkatan belanja wisata.

Pengembangan atraksi berbasis komunitas tersebut juga diproyeksikan memperkuat ekosistem pariwisata di Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo melalui penciptaan peluang usaha bagi pelaku UMKM, sektor akomodasi, serta penyerapan tenaga kerja.

Direktur Destinasi Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Borobudur, Neysa Amelia, menegaskan BPOB akan terus mengembangkan destinasi wisata yang berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  MORAZEN Yogyakarta Ajak Wisatawan Nikmati Fun Run di Alam Kulon Progo

“Melalui pengembangan atraksi yang mengangkat kekayaan alam, budaya, dan sejarah, BPOB terus berkomitmen mendorong terwujudnya kawasan pariwisata Borobudur yang berkelanjutan, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami ingin memastikan Borobudur Highland berkembang sebagai pusat wisata berkualitas tinggi yang menjaga warisan leluhur sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal secara adil,” pungkas Direktur Destinasi Pariwisata BPOB, Neysa Amelia.

Melalui penggabungan nilai sejarah Perang Jawa, keindahan Perbukitan Menoreh, dan partisipasi masyarakat lokal, BPOB optimistis Land & Legacy Gladhen Jemparingan akan menjadi ikon wisata budaya baru yang mampu meningkatkan daya saing pariwisata Borobudur di tingkat nasional maupun internasional.