Hijrah: Gerbang Revolusi Peradaban Dunia

oleh : Ropingi el Ishaq, Dosen Dakwah dan Komunikasi UIN Syekh Wasil Kediri

Insani Media

insanimedia.id – Hari ini umat Islam memasuki tahun baru 1448 H. Artinya, 1448 tahun yang lalu terjadi peristiwa besar, yakni hijrahnya Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah. Hitungan tahun ini ditetapkan sebagai hitungan tahun umat Islam oleh Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, untuk mengingat terjadinya peristiwa besar dalam dakwah Islamiyah.

Hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah bukan sekedar perpindahan tempat dari satu kota ke kota lain. Perpindahan ini mengandung makna yang mendalam. Baik latar belakang perpindahan maupun konskeunsi selanjutnya. Baik bagi para sahabat nabi maupun bagi umat Islam secara keseluruhan. Baik umat Islam pada masa Nabi Muhammad maupun sesudahnya.

 

Militansi Umat Islam di Makkah.

Selama dakwah di Makkah, Nabi Muhammad Saw. tidak mendapatkan banyak pengikut. Ancaman, tekanan, dan bahkan serangan secara fisik kepada muhammad dan para sahabat dari kafir quraisy menjadi salah satu faktor utama orang takut mengikuti jalan Muhammad Saw.. Mereka yang menyambut dakwahnya hanyalah orang-orang yang secara sosial tidak memiliki posisi strategis seperti para budak dan rakyat biasa. Relatif sedikit para kaum bangsawanatau setidaknya kelompok yang terpandang mau menerima dakwah muhammad. Karena, jika mereka yang mengikuti agama Nabi Muhammad Saw. akan menghadapi tekanan dan juga mendapatkan hambatan secara ekonomi, dan tentu politik. Pendek kata resiko sosial dan politik menjadi pertimbangan kaum bangsawan Makkah, sehingga mereka tidak serta-merta menyambut dakwah Nabi Muhammad Saw..

Mengapa banyak tantangan yang dihadapi oleh Nabi Muhammad semasa dakwah di Makkah? Pertama, Nabi Muhammad Saw. mengajarkan nilai-nilai tauhid. Pada saat itu nilai-nilai tauhid sudah mulai ditinggalkan. Para tokoh masyarakat dan agama lebih memilih untuk menjalankan tradisi warisan nenek moyang, ketimbang mengikuti ajaran agama yang hanif alias lurus. Agama juga menjadi alat bagi kelompok bangsawantertentu untuk mendapatkan posisi strategis di tengah masyarakat.

Orang-orang Quraisy tidak menjalankan ajaran agama secara lurus (hanif). Mereka meninggalkan nilai tauhid. Mereka mencampurkan ajaran agama Ibrahim dengan tradisi yang dikembangkan oleh para tokoh agama pada saat itu. Lebih dari itu, agama dan tradisi menjadi alat untuk meraih dan meneguhkan status sosial di tengah masyarakat. Mereka menentang dakwah Nabi Muhammad Saw. karena mereka tidak sepakat dengan ajaran tauhid.

Baca Juga :  Mengapa Korupsi Seolah Berita Biasa Bagi Indonesia

Kedua, ajaran tauhid dan penentangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Quraisy atas dakwah Nabi Muhammad Saw. pada akhirnya membentuk sikap militan bagi umat Islam di mekkah pada saat itu. Mereka murni menerima konsep tauhid yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad Saw. berdasarkan kesadaran diri tentang ketuhanan. Mereka menerima dakwah Nabi Muhammad Saw. tidak bermotif kedudukan, wanita, dan juga harta.

Bahkan, mereka yang bergabung dengan dakwah Nabi Muhammad Saw. harus siap dan rela mempertaruhkan hidupnya. Rakyat biasa dan budak yang menerima dakwah Nabi Muhammad harus siap menghadapi ancaman fisik. Para tokoh masyarakat ataupun pengusaha harus siap menghadapi pemboikotan dagang jika menerima dakwah Nabi Muhammad Saw.. (QS. al-Anfal (8): 30).

Motif Hijrah.

Hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat dari Makkah ke Madinah dilatarbelakangi sikap permusuhan kafir Quraisy yang kian kuat. (QS. al-Baqarah (2): 218). Menguatnya permusuhan kafir Quraisy terhadap umat Islam menjadi salah satu proses seleksi spiritual untuk memilih siapa yang layak menjadi pengikut Nabi Muhammad Saw. untuk membangun peradaban baru di kota Madinah.

Hijrahnya Nabi Muhammad Saw. ke Madinah adalah demi untuk menjaga dan mendakwahkan Islam. Untuk itu, motif lillaahi ta’ala menjadi syarat mutlak mengikuti hijrah. Hijrah semata-mata karena Allah. Bukan karena harta, bukan karena wanita, dan biukan pula karena menginginkan kedudukan. Dan motif itu hanya dimiliki oleh umat Islam yang militan. Meskipun ada juga yang tidak memiliki militansi keislaman tetapi ikut berhijrah. Maka, Nabi Muhammad Saw. dengan kalimat yang indah memberikan peringatan.

Dari Umar, bahwa Rasulullah (SAW.) bersabda, “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.” (HR. Bukhari).

Baca Juga :  Enam Asosiasi Haji-Umroh Jatim Bersatu Menyongsong Era Baru

Motif karena Allah semata menjadi dasar utama dalam hijrah. Motif tersebut dibutuhkan karena dalam perjalanan hijrah ke Madinah menghadapi tantangan yang luar biasa berat. Perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah dibayang-bayangi serangan kafir Quraisy. Para sahabat relatif kesulitan membawa harta benda, sehingga kebanyakan tidak sempat membawanya, kecuali hanya membawa sedikit bekal. Bahkan sebagian tidak Bersama keluarga. Di tempat hijrah tidak memiliki tempat tinggal. Tantangan itu hanya dapat dihadapi dengan pijakan nilai tauhid yang kuat.

Membangun Peradaban Baru

Di Madinah Nabi Muhammad Saw. membangun kekuatan baru untuk medakwahkan Islam. Para sahabat muhajirin yang militan dan sahabat ansor yang menerima kedatangan nabi dengan penuh kasih menjadi kekuatan baru untuk membangun peradaban Islam. Secara substansial peradaban baru yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabat di Madinah untuk menegakkan beberapa nilai dasar peradaban manusia. Pertama, nilai-nilai tauhid yang bersifat sakral dan perenial. Tauhid menjadi nilai dasar dalam peradaban Islam yang tak tergantikan oleh nilai apapun dan sampai kapanpun. Nilai kemanusiaan, kesetaraan, keadilan, kasih sayang, saling menghormati dan menghargai, lahir dari nilai tauhid.

Kedua, sistem social, politik, ekonomi, dan budaya yang berbasis tauhid. Islam dibangun di atas nilai tauhid. Sejak nabi berdakwah di Makkah, tauhid menjadi nilai dasar bagi umat Islam. Berlandas nilai tauhid Nabi Muhammad Saw. membangun sistem social, politik, ekonomi, dan budaya di Madinah. Ketimpangan social antara muhajirin dan ansor diikat oleh nilai ukhuwah Islamiyah. Kondisi masyarakat yang multi keyakinan, ada Yahudi, Nasrani, dan juga Majuzi diikat oleh Nabi Muhammad Saw. dengan kesepakatan bersama yang diberi nama Piagam Madinah.

Ketiga, akhlaq al karimah. Nabi Muhammad Saw. senantiasa memberikan tauladan. Perilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai tauhid menjadi kunci dalam peradaban Islam. Bagaimana Nabi Muhammad Saw. memberikan contoh dalam ibadah mahdlah (ibadah langsung) dalam bentuk shalat, puasa, dzikir, dan sebagainya. Demikian juga dalam aktifitas muamalat, bagaimana bertransaksi jual-beli, hutang-piutang, pinjam-meminjam, menyampaikan amanah, memenuhi tugas dan tanggung-jawab dalam keluarga serta tetangga. Tak terkecuali bagaimana umat Islam harus menjalankan amanah politik ummat.

Baca Juga :  Bisikan Indah dari Allah Buat Siapa Saja, Termasuk Yang Sedang Punya Banyak Masalah

Melalui akhlaq ini, masyarakat Madinah berkembang menjadi masyarakat yang solid, saling menyayangi, saling melindungi, saling menjaga antara satu dengan yang lain. Aturan yang ada dihormati dan dijalankan. Tidak ada rekayasa hukum, yang ada taat hukum. Rakyat dan pemimpin takut melanggar norma dan aturan yang ada, bukan karena takut dihukum, tetapi takut melanggar norma Allah. Pemimpin bukan takut didemo, tetapi takut terhadap siksaan Allah.

Madinah yang dulunya bernama Yasrib dijuluki dengan Madinah al-Munawwarah, kota yang beradab dan modern. Dalam konteks yang lebih luas, kepemimpinan Muhammad Saw. membawa ummat Islam menjadi umat yang terbaik, disegani, dan dihormati. (QS. ar-Rum (30). Di masa sahabat, Umat Islam mampu menaklukkan Persia dan Roma, Imperium besar yang tak terkalahkan oleh bangsa manapun. Ummat Islam menjadi sebaik-baik umat. (QS. Ali Imran (3): 110).

Mari kita jadikan peringatan tahun baru Islam 1448 H ini momen untuk merevolusi diri menuju al-din al-Islam secara total (kaffah). Mari meneguhkan diri pada nilai tauhid, membangun system social, politik  ekonomi, dan budaya berbasis tauhid, serta memperbaiki akhlaq diri, keluarga dan sesama sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.. Hijrah menjadi gerbang revolusi menuju peradaban dunia yang membawa rahmat bagi seluruh alam secara nyata. Bukan hanya slogan. Bukan pula pencitraan.

 

Selamat tahun baru 1448 hijriyah.