Mengurai Akar Nasionalisme Religius Nahdlatul Ulama dalam Merebut Kedaulatan Indonesia

Penulis: Sulkhan Z

Insani Media

 

INSANIMEDIA.ID – Tahun 2026 menandai satu abad berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dalam perhitungan kalender Masehi, sebuah momentum kritis untuk merefleksikan kembali trajektori bangsa. Seringkali, diskursus publik masa kini hanya menempatkan NU dalam kotak sempit sebagai penjaga tradisi keagamaan atau sekadar penyeimbang kekuatan politik elektoral. Padahal, jika kita menelisik arsip sejarah secara lebih saksama, narasi yang muncul jauh lebih taktis dan heroik.

Dalam risetnya, Fahmi Ismail (2011) menyebut kontribusi NU terhadap eksistensi Republik Indonesia bukanlah sebuah kebetulan sejarah. Sebaliknya, peran tersebut adalah hasil dari konstruksi “nasionalisme religius” yang secara deliberatif melawan hegemoni kolonial sejak fase pra-kemerdekaan hingga masa revolusi fisik berdarah.

​Melawan Arus

Lahirnya NU tidak terjadi di ruang hampa. Didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur, organisasi ini diprakarsai oleh sejumlah kyai terkemuka, di antaranya K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Hasyim Asy’ari. Kelahiran NU memiliki ikatan yang tak terpisahkan dengan budaya pesantren, sebuah institusi pendidikan di mana Islam tradisional telah mengakar kuat dan dilestarikan secara turun-temurun.

​Dalam konteks kultural dan teologis inilah, NU memformulasikan dan mendeklarasikan ideologi keagamaannya sebagai ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Konsolidasi ideologi ini menjadi sangat penting karena ia membentuk karakteristik utama yang secara tegas membedakan NU dari organisasi-organisasi Muslim berhaluan modernis pada masa itu. Peneguhan identitas tradisionalis ini nyatanya menjadi fondasi yang solid bagi kaum santri untuk merumuskan sikap perlawanan mereka sendiri terhadap penjajah.

​Boikot Militer dan Kemandirian Pendidikan

Banyak yang berasumsi bahwa perlawanan hanya terjadi di medan perang. Namun, NU membuktikan bahwa perlawanan struktural sama mematikannya bagi pihak kolonial. Terlepas dari kenyataan bahwa pada masa itu NU secara murni berstatus sebagai organisasi sosial-keagamaan, mereka secara aktif dan signifikan memainkanukn peran sentral dalam menentang kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia.

Baca Juga :  Malam Minggu Kliwon, Majelis Faghfirli Gelar Pengajian Rutin di Pinggir Sumber Mbah Bawuk Kota Blitar

​Pada masa awal pergerakannya, NU menginisiasi kebijakan-kebijakan yang berani dan proaktif. Mereka secara resmi mengeluarkan larangan bagi pemuda Muslim untuk masuk ke dalam dinas militer Belanda. Langkah ini diikuti dengan larangan tegas bagi umat Islam untuk memberikan dukungan dalam bentuk apa pun kepada tentara Belanda. Di sektor pendidikan, sikap anti-kolonial ini ditunjukkan melalui langkah proaktif menolak bantuan pendanaan dari pihak Belanda yang ditawarkan untuk sekolah-sekolah madrasah milik NU. Tindakan pemboikotan dan kemandirian ini melumpuhkan upaya kooptasi penjajah terhadap institusi Islam.

​Revolusi Fisik

Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan dan Belanda mencoba kembali menancapkan kuku kolonialismenya, peran NU bertransformasi dari oposisi taktis menjadi perlawanan bersenjata. Bersama-sama dengan gerakan nasionalis lainnya, NU mengambil peran yang sangat aktif dalam proses pembentukan Negara Indonesia.

​NU berdiri di garis depan dalam peperangan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari upaya Belanda yang ingin membangun kembali kekuasaan kolonialnya. Keterlibatan ini diwujudkan melalui mobilisasi massa yang masif; tokoh-tokoh NU membentuk laskar Sabilillah yang berfungsi untuk memperkuat barisan pasukan pejuang Hizbullah. Heroisme ini mencapai puncaknya ketika para kyai bahkan ikut turun langsung berjuang bersama Jenderal Sudirman, khususnya dalam pertempuran sengit di Surabaya.

 

Fakta-fakta historis tersebut secara tak terbantahkan membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama telah memberikan kontribusi yang teramat besar bagi tegaknya bangsa dan negara Indonesia. Nasionalisme di mata NU bukanlah konsep sekuler yang diimpor dari Barat, melainkan bagian integral dari keimanan yang harus dibela dengan nyawa.

​Memasuki abad keduanya, implikasi dari sejarah ini menjadi sangat relevan. Para pembuat kebijakan dan generasi muda harus menyadari bahwa fondasi kedaulatan Indonesia dibangun di atas sintesis yang harmonis antara nilai-nilai keagamaan dan patriotisme. Sejarah NU memberikan pelajaran penting: agama, ketika dipahami secara mendalam dan berakar pada kearifan lokal (pesantren), akan menjadi kekuatan pembebasan yang paling efektif untuk melawan segala bentuk penindasan, bukan menjadi alat polarisasi yang memecah belah bangsa.

Baca Juga :  Lailatul Qadar dalam Perspektif Angka: Menyelami Keajaiban Numerik dalam Surah Al-Qadr

Referensi:

  • ​Ismail, Faisal. (2011). The Nahdlatul Ulama: Its Early History and Contribution to the Establishment of Indonesian State. Journal of Indonesian Islam, Vol. 05, No. 02, Desember 2011. UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
  • ​Zuhri, Saifuddin. (1972). K.H. Abdul Wahab Hasbullah: Bapak dan Pendiri Nahdlatul Ulama. Jakarta: Yamunu.
  • ​Dhofier, Zamakhsyari. (1982). Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.