Malam 1 Suro, Ratusan Warga Napak Tilas Jugo-Gunung Kawi, Ini Maknanya

Penulis : Rizma N.A.

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Ratusan warga mengikuti kegiatan Napak Tilas Malam 1 Suro 1960 Dal yang berlangsung dari Dusun Sanggrahan, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata masyarakat dalam menjaga dan melestarikan tradisi warisan leluhur.

Sebanyak lebih dari 500 peserta ambil bagian dalam agenda tahunan tersebut. Mereka menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer dari kawasan Padepokan Eyang Djoego di Desa Jugo menuju Pesarean Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kabupaten Malang.

Panitia memulai perjalanan napak tilas sekitar pukul 15.00 WIB. Para peserta melintasi sejumlah wilayah, mulai Desa Jugo di Kecamatan Kesamben, Pagerwojo, Tapakrejo, Bumirejo, Kalimanis di Kecamatan Doko, Ampelgading di Kecamatan Selorejo, Sumberdem di Kecamatan Wonosari, hingga tiba di Desa Wonosari sebagai titik akhir perjalanan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Setiyana, memberangkatkan para peserta sebelum perjalanan dimulai. Masyarakat rutin menggelar kegiatan tersebut setiap tahun untuk menyambut datangnya Tahun Baru Jawa atau 1 Suro.

Bupati Blitar yang diwakili Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Blitar, Achmad Choliq, menyampaikan bahwa napak tilas tidak hanya bermakna sebagai perjalanan menempuh jarak puluhan kilometer. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana masyarakat untuk menjaga, merawat, dan menghormati warisan budaya yang telah ditinggalkan para leluhur.

Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut menunjukkan bahwa nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas masih melekat kuat dalam kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan napak tilas, masyarakat juga mengajak generasi muda untuk mengenal akar budaya sekaligus menghargai perjuangan para pendahulu.

Selain menyambut Malam 1 Suro, kegiatan itu menjadi ajang mempererat hubungan antarwarga dari berbagai daerah yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Jawa. Kebersamaan yang terjalin selama perjalanan memperkuat semangat masyarakat untuk terus menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga :  Padepokan Sehat Medika Gelar Kirap Budaya, Peringati HUT Mbah Suman ke-70

Dengan berjalan bersama menempuh jarak puluhan kilometer, para peserta menunjukkan komitmen untuk terus nguri-uri budaya leluhur. Hingga saat ini, tradisi napak tilas dari Jugo menuju Gunung Kawi tetap terjaga dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dilestarikan. (riz)