Silpa Pemkot Blitar Naik, Segini Totalnya

Penulis : Budi

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Pemerintah Kota Blitar mencatat Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) Tahun Anggaran 2025 mencapai Rp61.441.803.706,99. Nilai tersebut meningkat dibandingkan Silpa Tahun Anggaran 2024 yang sebesar Rp53.450.843.127,59.

Inspektur Daerah Kota Blitar, Ratih Dewi Indarti, menyampaikan bahwa hasil audit dan laporan keuangan daerah menunjukkan adanya kenaikan Silpa pada tahun 2025 sebesar sekitar Rp7,99 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.

“Silpa Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp61,44 miliar, sedangkan Silpa Tahun Anggaran 2024 sebesar Rp53,45 miliar. Jadi terdapat kenaikan sekitar Rp7,99 miliar,” ujar Ratih, Selasa (2/6).

Ratih menjelaskan bahwa sejumlah faktor memengaruhi peningkatan Silpa tersebut, baik dari sektor pendapatan maupun pengeluaran daerah. Pemerintah Kota Blitar mencatat pelampauan target pendapatan daerah sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan Silpa pada tahun anggaran 2025.

“Faktor yang paling dominan berasal dari pelampauan pendapatan daerah, terutama penerimaan pendapatan transfer dari pemerintah pusat berupa Dana Bagi Hasil sumber daya alam serta pendapatan transfer antar daerah berupa pendapatan bagi hasil,” jelasnya.

Selain peningkatan pendapatan, pemerintah daerah juga mencatat efisiensi pada beberapa komponen belanja. Penghematan tersebut terjadi pada belanja gaji dan tunjangan pegawai, Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), belanja barang dan jasa, serta sisa penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT).

“Selain pelampauan pendapatan, terdapat penghematan belanja pada beberapa komponen anggaran yang turut berkontribusi terhadap terbentuknya Silpa pada akhir tahun anggaran,” katanya.

Ratih menambahkan bahwa realisasi penyerapan anggaran selama tahun 2025 secara umum belum mencapai tingkat optimal. Kondisi tersebut terjadi karena sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menerapkan kebijakan efisiensi dan penghematan anggaran dalam pelaksanaan program kerja.

“Secara umum penyerapan anggaran belum optimal karena adanya penghematan atau efisiensi belanja pada OPD,” pungkasnya.

Baca Juga :  Polisi Cari Identitas Pelaku Membuang Bayi dalam Tas di Sungai Brantas