Kediri, insanimedia.id – Merespon maraknya isu sosial yang melibatkan identitas anak sekolah mulai insiden kekerasan, pelecehan seksual hingga percobaan menghilangkan nyawa sendiri membuat anggota komisi A DPRD Kota Kediri Imam Zarkasyi.
Pada momentum Hari Pendidikan Nasional pria yang juga menjabat sebagai ketua Fraksi Partai Golkar tersebut kemudian mengajak 120 orang guru di Kota Kediri untuk urun rembug bersama sama diajak mencari solusi konkret atas dinamika persoalan ini melalui acara sarasehan yang digelar di kantor Kecamatan Mojoroto.
Dikatakan Imam Zarkasyi penyelenggaraan kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rasa keprihatinan mendalam terhadap rentetan peristiwa yang terjadi belakangan ini, mulai dari kasus bunuh diri siswa, kekerasan seksual, hingga penganiayaan anak di lingkungan domestik.
Menurutnya bahwa seharusnya sinyal-sinyal peringatan tersebut bisa terbaca lebih awal oleh lingkungan terdekat, terutama guru sebagai pihak yang paling banyak berinteraksi dengan siswa.
“Kita ingin bareng-bareng cari solusi supaya hal-hal seperti ini bisa ditekan sekecil mungkin. Pendidikan bukan hanya urusan pemerintah, masyarakat pun harus terlibat aktif. Istilahnya, kita harus turun tangan, ojo urun angan tok (jangan hanya menyumbang pikiran saja),” terangnya
Dalam kesempatan itu hadir sebagai narasumber, Dr. Ahmad Khoirul Mustamir, M.Pd.I., Ketua Program Studi Pascasarjana Universitas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo, menyoroti ketimpangan antara kemajuan teknologi dan penguatan karakter anak.
Ia menilai berbagai kasus negatif yang terjadi merupakan imbas dari lemahnya penanaman norma di tengah derasnya arus informasi. “Kecepatan teknologi itu harus diimbangi dengan percepatan penanaman nilai. Sarasehan seperti ini penting untuk kembali meningkatkan semangat pengembangan nilai di sekolah,” terang Dr. Khoirul.
Ia menyarankan agar pertemuan semacam ini tidak hanya dilakukan seremonial saat Hardiknas saja, tetapi dilakukan secara berjangka dan berkelanjutan karena masalah pendidikan selalu berkembang dari waktu ke waktu, termasuk isu kesetaraan gender.
Disamping aspek moral, sarasehan ini juga membahas pentingnya peningkatan kompetensi guru. Dr. Khoirul mengingatkan agar para pendidik tidak terjebak dalam “ego” yang merasa sudah cukup ilmu, padahal objek yang dihadapi adalah manusia yang terus berkembang.
“Di Kota Kediri peran guru sudah lumayan bagus sebagai ujung tombak, tapi kompetensi tetap harus diasah terus. Manusia itu belajar seumur hidup,” tambahnya.
Dari sisi akademisi, pihaknya juga mendorong perlunya keberpihakan melalui kebijakan strategis untuk menyelesaikan masalah krusial, seperti kesejahteraan guru Madin, status P3K paruh waktu, dan lainnya. Kebijakan yang baik menurutnya harus lahir dari sumbangsih pikiran bersama, bukan keputusan sepihak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan tercipta lingkungan yang ramah pendidikan, di mana sekolah, orang tua, dan pemerintah bersinergi menekan angka kekerasan serta meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.







