Mengenal Sutiani, Anak Keluarga Sederhana yang Kini Jadi Petani Kopi Perempuan

Penulis: Tim Redaksi

BLITAR, insanimedia.id– Hamparan kebun kopi robusta di Desa Sumberurip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, menjadi saksi perjalanan hidup Sutiani. Perempuan petani itu tumbuh dari keluarga sederhana yang sejak lama menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

Sejak kecil, Sutiani Irawan terbiasa hidup dalam keterbatasan ekonomi. Orang tuanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak menentu, bergantung pada musim panen dan harga hasil bumi. Kondisi tersebut membuat Sutiani sudah akrab dengan kerasnya kehidupan desa sejak usia muda.

Untuk membantu keluarga, ia ikut bekerja di sawah dan kebun selepas sekolah. Dari pengalaman itulah Sutiani belajar bahwa bertani bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga tentang ketekunan dan kesabaran.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, Sutiani justru menjadi salah satu sosok perempuan penggerak petani kopi robusta di desanya. Hampir setiap hari ia turun langsung ke kebun untuk merawat tanaman kopi miliknya.

“Kalau kita cinta sama tanaman itu, sama juga seperti kita mencintai diri sendiri,” ujar. Selasa (12/6/2026).

Baginya, tanaman kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan harapan hidup keluarga. Karena itu, ia merawat setiap pohon dengan penuh perhatian.
Di tengah dominasi laki-laki di sektor pertanian, Sutiani membuktikan perempuan juga mampu mengambil peran penting di kebun.

“Walaupun kita perempuan, selagi kita bisa dan mampu kenapa tidak? Jadi bukan hanya peran laki-laki saja di petani. Perempuan juga harus ikut maju,” katanya.

Menurutnya, perempuan memiliki ketelitian lebih dalam merawat tanaman. Mulai menentukan jadwal pemupukan hingga penyemprotan dilakukan secara detail.

“Perempuan itu lebih jeli. Tahu waktunya pemupukan, waktunya semprot dan lainnya itu lebih teliti. Kalau laki-laki biasanya garis besarnya saja,” tuturnya.

Baca Juga :  Polres Blitar Tanggani Bullying di Salah Satu SMP di Kecamatan Doko, Blitar

Kecintaan Sutiani terhadap pertanian tumbuh dari kehidupan yang serba sederhana. Ia mengaku selalu merawat tanaman dengan hati, sebagaimana dirinya menjaga keluarga.

“Kita bergerak dari hati. Itu selalu saya lakukan, sama kopi, sama padi juga begitu,” ujarnya.

Saat ini kopi robusta menjadi komoditas utama warga Desa Sumberurip. Harga kopi sempat melonjak saat panen raya tahun lalu hingga mencapai Rp70 ribu per kilogram sebelum turun dan bertahan di angka Rp54 ribu per kilogram.

“Panen raya tahun lalu sekitar bulan tujuh sampai delapan sempat Rp70 ribu per kilogram, lalu turun jadi Rp54 ribu sampai sekarang,” kata Sutiani.

Menurutnya, wilayah Desa Sumberurip lebih cocok ditanami kopi robusta dibanding arabika karena faktor ketinggian wilayah.

“Kalau arabika itu hidupnya di daerah yang lebih tinggi seperti Telogo Gentong. Harganya memang lebih mahal, bisa Rp90 ribu sampai Rp100 ribu lebih per kilogram,” jelasnya.

Perkembangan kopi robusta di Desa Sumberurip terus meningkat dalam empat tahun terakhir setelah banyak petani beralih dari tanaman cengkeh akibat serangan virus.

Kepala Dusun Sumbermanggis, Sunarto (52), mengatakan desa sangat mendukung perkembangan kelompok petani kopi, termasuk kelompok petani perempuan yang kini semakin aktif.
“Pihak desa sangat mendukung dan bangga karena ada perwakilan kelompok petani wanita yang terus berkembang,” kata Sunarto.

Saat ini terdapat sembilan kelompok tani di Desa Sumberurip dengan jumlah petani kopi mencapai sekitar 1.500 hingga 2.000 orang. Bahkan kopi robusta dari desa tersebut disebut menjadi salah satu yang terbaik di Kabupaten Blitar.

Dari keluarga miskin di lereng pegunungan, Sutiani kini menjelma menjadi simbol ketangguhan perempuan desa. Di tangannya, kopi bukan hanya hasil kebun, tetapi juga jalan perjuangan untuk mengubah kehidupan keluarga menjadi lebih baik.