BLITAR, insanimedia.id – Institusi pendidikan berbasis pesantren kembali membuktikan relevansinya dalam peta persaingan sains regional. Dua santri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Mambaus Sholihin berhasil membawa pulang medali dalam ajang Blitar Olympiad of Science (BIOS) 2026 tingkat Se-Karisidenan Kediri yang berlangsung pada Minggu (10/5/2026).
Pencapaian ini mempertegas tren positif integrasi kurikulum diniyah dan sains di lingkungan pesantren. Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh PT Pateron Edukasi Indonesia tersebut, delegasi SMP Mambaus Sholihin bersaing ketat dengan ratusan peserta dari berbagai sekolah umum dan madrasah di wilayah Blitar dan sekitarnya.
Di bidang Matematika, M. Syay’if Kadir sukses mengamankan Medali Perak. Syay’if mencatatkan skor akumulatif sebesar 360 poin, yang menempatkannya di peringkat kelima dari total peserta yang lolos ke babak final. Ketajaman analisis numerik menjadi kunci keberhasilannya dalam menyelesaikan soal-soal kompleks di tingkat SMP tersebut.
Sementara itu, pada bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Muhammad Azka Ramadhan berhasil menyabet Medali Perunggu. Azka meraih skor 420 poin dan menempati peringkat ketujuh. Perbedaan bobot penilaian pada tiap kategori membuat persaingan di bidang IPA tercatat sangat kompetitif tahun ini.
Kepala SMP Mambaus Sholihin, Choirul Anam, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan manifestasi dari kerja keras kolaboratif antara santri, guru pembina, dan dukungan wali santri.
“Ini bukti santri pondok tidak hanya bisa mengaji tetapi juga unggul di bidang sains. Terima kasih atas kerja keras ananda berdua, guru pembina, dan doa wali santri,” ujar Choirul saat ditemui di lingkungan sekolah, Selasa (12/5/2026).
Keberhasilan ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai prestasi seremonial, tetapi menjadi katalisator bagi santri lainnya. Pihak sekolah menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan umum adalah mitra strategis bagi penguatan ilmu agama dalam menghadapi tantangan zaman.
Salah satu guru pembina olimpiade menambahkan bahwa persiapan intensif dilakukan dengan memanfaatkan media digital dan literatur terkini.
”Kami mengombinasikan pendalaman materi konvensional dengan simulasi berbasis perangkat digital agar santri terbiasa dengan pola soal olimpiade yang dinamis,” ungkapnya.







