MALANG, insanimedia.id – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan IPS Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang menggelar Kuliah Lapang Geografi bertajuk LITHORA pada Selasa (23/6/2026). Bertempat di BMKG Stasiun Geofisika Karangkates, kegiatan ini berfokus pada integrasi fenomena litosfer, hidrosfer, dan antroposfer guna memetakan interaksi kawasan rural-urban sekaligus memperkuat literasi kebencanaan regional.
Pendekatan saintifik berbasis data lapangan ini dinilai mendesak. Berdasarkan catatan geofisika, wilayah Malang Raya memiliki kerentanan seismik tinggi karena berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif di pesisir selatan Jawa. Oleh sebab itu, penguatan edukasi di tingkat perguruan tinggi menjadi pilar penting dalam meminimalkan risiko dampak bencana di masa depan.

Dosen Pengampu Geografi di Prodi Pendidikan IPS Unira Malang, Dr. Anisatu Nadhiroh, S.Pd, M.Sc, menegaskan pentingnya transformasi model pembelajaran dari tekstual menuju kontekstual. Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai dinamika bumi tidak dapat diserap secara optimal jika hanya mengandalkan ruang perkuliahan konvensional.
”Perkuliahan lapang ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa dalam menganalisis fenomena geografi di sekitar kita,” ujar Dr. Anisatu saat memberikan sambutan di lokasi kegiatan.
Melalui LITHORA, para mahasiswa dibekali kemampuan membaca korelasi spasial. Perubahan struktur fisik bumi (litosfer) dan tata kelola air (hidrosfer) dianalisis dampak langsungnya terhadap pola adaptasi serta ketahanan sosial masyarakat (antroposfer) yang menetap di kawasan perbatasan desa-kota.
Kolaborasi Pentaheliks untuk Ketangguhan Bencana
Langkah akademis ini mendapat apresiasi penuh dari lembaga pengamatan kegempaan nasional. Kehadiran kalangan akademisi muda dianggap mampu mempercepat diseminasi informasi valid ke lapisan masyarakat terdalam, sekaligus menekan maraknya hoaks kebencanaan di media digital.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Karangkates, Ricko Kardoso, S.Tr, menyatakan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam membangun kesiapsiagaan publik yang inklusif.
”BMKG mengapresiasi kegiatan kolaborasi ini, mahasiswa turut berperan dalam menyebarluaskan edukasi kesiapsiagaan menghadapi bencana gempabumi dan tsunami kepada masyarakat luas,” kata Ricko.
Sebagai calon edukator, mahasiswa IPS memegang peran ganda. Mereka dituntut menyerap basis data ilmiah dari BMKG, lalu merumuskannya kembali menjadi materi edukasi yang mudah dipahami warga lokal. Mewakili peserta, salah satu mahasiswa bernama Rifqi menambahkan bahwa pengalaman langsung di lapangan memberikan cara pandang baru yang lebih taktis.
”Kami tidak hanya melihat instrumen seismik secara teknis, tetapi juga belajar bagaimana menerjemahkan data teknis tersebut menjadi bahasa mitigasi yang siap dibagikan kepada masyarakat,” tuturnya.







