MALANG, insanimedia.id – Sebanyak puluhan mahasiswa Program Studi Pendidikan IPS Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang melaksanakan Kuliah Lapang Geografi bertajuk LITHORA (Kajian Integratif Lithosfer-Hidrosfer-Antroposfer dalam Interaksi Rural Urban). Bertempat di Divisi Jasa Asa, Perum Jasa Tirta I Malang pada Selasa (23/6/2026), kegiatan ini membedah secara mendalam tata kelola air dan dilema konektivitas sosial-ekonomi di kawasan objek vital nasional (obvitnas) Bendungan Lahor.
Fokus utama kajian integratif ini menyoroti bagaimana interaksi antara bentang alam fisik (hidrosfer) beririsan langsung dengan aktivitas manusia (antroposfer) di wilayah perbatasan Kabupaten Malang dan Blitar. Manajemen ketahanan air menjadi pilar penting yang memengaruhi dinamika urbanisasi dan pemenuhan kebutuhan logistik antardaerah.
Dosen Pengampu Geografi Prodi Pendidikan IPS UNIRA Malang, Dr. Anisatu Nadhiroh, S.Pd, M.Sc, menegaskan pentingnya studi empiris ini bagi mahasiswa. “Melalui kegiatan ini mahasiswa diajak untuk mengenali tata kelola Jasa Tirta dalam manajemen objek vital nasional Bendungan Lahor, hal ini menjadi contoh studi kasus dinamika perubahan hidrosfer dan pengaruhnya terhadap kondisi sosial, ekonomi , dan konektivitas antara Rural-Urban wilayah Blitar dan Malang serta daerah sekitarnya,” ungkapnya di sela-sela pemaparan materi.
Analisis kewilayahan menunjukkan bahwa Bendungan Lahor memegang peran krusial tidak hanya sebagai infrastruktur irigasi dan pembangkit energi, tetapi juga sebagai jalur penghubung informal masyarakat lokal. Namun, statusnya sebagai obvitnas menuntut standardisasi keamanan yang ketat, sehingga menciptakan benturan kepentingan antara fungsi mitigasi bencana dan mobilitas harian warga.

Dilema regulasi ini diamini oleh pihak otoritas pengelola. Yoga Pratama Putra, S.Ak, perwakilan dari Perum Jasa Tirta I, memaparkan tantangan berat yang dihadapi di lapangan. “Pengelolaan obvitnas menghadapi tantangan pengelolaan yang cukup menantang. Satu sisi hasil investigasi menunjukkan bahwa Bendungan Lahor tidak dapat dijadikan sebagai jalan umum, namun di sisi lain jika bendungan lahor ditutup maka konektivitas wilayah serta aktivitas sosial ekonomi masyarakat sekitar terganggu. Maka kami berharap konsep pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan guna mencapai keseimbangan,” urai Yoga.
Sebagai respons terhadap dinamika tersebut, para mahasiswa tidak hanya menerima paparan data di dalam ruang sidang, melainkan juga melakukan observasi lapangan terpadu. Mereka mempresentasikan analisis spasial melalui media poster interaktif serta melakukan aksi nyata berupa penyerahan bibit pohon sebagai komitmen pelestarian daerah aliran sungai (DAS). Sinergi akademisi dan praktisi ini diharapkan mampu menstimulus rekomendasi kebijakan yang adaptif, menjaga infrastruktur hidrologis strategis tanpa mengorbankan denyut nadi perekonomian rural-urban.







