Gladi Lapang Erupsi Gunungapi Kelud Uji Kesiapsiagaan dan RPKB Kabupaten Malang

insanimedia.id – Malang, 8 Juli-2026  Ketika status tanggap darurat ditetapkan oleh kepala daerah, waktu menjadi musuh utama. Setiap keputusan harus diambil dengan cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran dalam penanganan bencana.

Untuk memastikan hal tersebut, penyelenggaraan operasi tanggap darurat didukung oleh tiga dokumen perencanaan yang saling berkaitan. Yakni, Rencana Penanggulangan Kedaruratan Bencana (RPKB), Rencana Kontingensi (RenKon), dan Rencana Operasi (RENOPS).

RPKB berfungsi sebagai fondasi awal, berisi pedoman strategis penyelenggaraan penanggulangan kedaruratan bencana di daerah. Berdasarkan arah strategis pada RPKB, RenKon menyiapkan skenario penanganan untuk ancaman bencana tertentu dan menjadi referensi bagi pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan merespons secara cepat tanpa harus menyusun rencana dari awal.

Selanjutnya, RENOPS berfungsi sebagai pedoman operasional dalam pelaksanaan tanggap darurat yang disusun dengan mengadaptasi skenario dalam RenKon. RENOPS inilah yang menjadi dokumen kerja guna mengarahkan seluruh pelaksanaan operasi di lapangan.

Semua dokumen ini bersifat dinamis sehingga perlu terus diperbaiki dan dimutakhirkan seiring perubahan kondisi serta ketidakpastian waktu terjadinya bencana. Penyempurnaan tersebut dilakukan melalui rangkaian uji coba, simulasi, dan latihan yang berjenjang.

Drs Pangarso Suryotomo M.MB, Deputi Bidang Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menekankan, perencanaan kesiapsiagaan yang dibangun dalam bentuk RenKon sangat perlu dilakukan.

“Gladi bukan sebatas latihan, tapi untuk menguji RenKon. Tugas dan peran dalam gladi harus dihayati dengan baik. Kelak jika ada bencana yang terdampak langsung adalah masyarakat. Mereka harus dilindungi dan diselamatkan,” kata Pangarso.

Maka, baik saat dan usai gladi, harus ada kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Tujuannya, agar diketahui komunikasi darurat seperti apa yang akan ditempuh agar masyarakat tahu bahwa bencana telah terjadi, bagaimana proses evakuasi dijalankan, terutama bagi warga yang masih bersikukuh untuk bertahan di tempat tinggalnya, hingga memobilisasi komunitas relawan di area yang berisiko terdampak bencana menjadi kekuatan tersendiri dalam penanggulangan bencana.

Baca Juga :  UMNU Kebumen Dorong Ketahanan Pangan Desa Lewat Teknologi Tepat Guna

Koordinasi antarwilayah perlu ditata dengan baik pula karena terkadang dampak bencana melewati batas suatu kabupaten atau provinsi. Bencana erupsi gunung berapi kerap menutup akses suatu daerah ke beberapa daerah lainnya. Ini memengaruhi proses pengiriman dukungan peralatan logistik maupun sumber daya manusia ke titik lokasi bencana.

Untuk itulah, Pemerintah Malang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang menggelar Gladi Lapang atau Field Training Exercise (FTX). Latihan ini dilaksanakan di Selorejo Camping Ground, Desa Banturejo, Kecamatan Ngantang, pada 7-8 Juli 2026.

Melalui latihan yang melibatkan berbagai instansi dan warga lokal ini, kesiapsiagaan tidak hanya dituangkan dalam dokumen perencanaan. Tetapi juga direalisasikan dalam tindakan nyata di lapangan.

“Sinergi lintas sektor harus terus diperkuat. Jangan sampai ego sektoral menghambat proses penanganan darurat. Latihan ini adalah bentuk investasi keselamatan,” ujar Wakil Bupati Malang Dra Hj Latifah Shohib saat menghadiri kegiatan Gladi Lapang (8/7/2026).

Pada acara ini pula, Wabup Latifah menyerahkan bantuan kepada lima desa di wilayah KRB II yaitu Desa Pagersari, Pandansari, Sidodadi, Ngantru, dan Banturejo. Bantuan berupa tenda keluarga, masker medis, dan matras untuk kondisi darurat.

Alur FTX sendiri memakai skenario erupsi Gunungapi Kelud karena merepresentasikan ancaman yang berpotensi memengaruhi wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya yaitu Kecamatan Ngantang, Kasembon dan Pujon. Ketiga wilayah berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Erupsi Gunungapi Kelud. Untuk itu, memerlukan respons lintas sektor yang cepat, terkoordinasi, dan terintegrasi.

FTX merupakan puncak dari tahapan yang saling melengkapi dalam membangun dan menguji kesiapsiagaan Pemerintah Malang dalam menghadapi keadaan darurat bencana. Dimulai dari pertama kali RPKB Kabupaten Malang disusun dan diuji di atas meja diskusi melalui Tabletop Exercise (TTX) pada November 2025.

Baca Juga :  Pendidikan Berkualitas & Revolusi Metode Belajar untuk Generasi Emas

Kemudian berlanjut dengan Gladi Posko atau Command Post Exercise (CPX) pada 2 Juli 2026 lalu. Pada tahap ini, RenKon diuji melalui simulasi sistem komando penanganan darurat. Kini, FTX menjadi babak penutup yang menguji apakah rencana yang telah disusun di atas kertas benar-benar bisa dijalankan oleh personel di lapangan, ketika di bawah tekanan dalam waktu yang mendesak.

Wujud aksi dalam FTX kali ini antara lain: evakuasi mandiri warga terdampak, evakuasi masal dari titik kumpul ke titik pengungsian, penyelamatan korban terperosok jurang oleh tim vertical rescue, pencarian dan penyelamatan korban reruntuhan bangunan oleh tim penolong gabungan dari Tim Reaksi Cepat Kabupaten Malang, serta pertolongan pertama gawat darurat kepada warga terdampak disabilitas dan yang terluka saat melakukan evakuasi mandiri.

 

Selain itu, ada juga aksi bagaimana manajemen distribusi logistik ke daerah terisolir yang menggunakan metode tension line. Metode ini biasa dipakai oleh tim vertical rescue untuk menyeberangkan korban ke daerah aman.

Tak ketinggalan, ditunjukkan bagaimana pencarian dan pertolongan serta evakuasi korban tercebur di air, pelayanan dasar kesehatan darurat berupa rumah sakit lapangan di wilayah titik pengungsian, pelayanan dasar dapur umum, serta pelayanan dasar pendidikan berupa sekolah darurat di titik pengungsian.

Di masa transisi hingga pemulihan, wujud aksi berupa pemulihan awal sarana dan prasarana vital berupa pembersihan jalan dari materi erupsi, pembukaan akses dasar transportasi akibat erupsi, dan pemulihan dasar akses listrik.

“Gladi telah berlangsung dengan baik dan lancar. Meski begitu, koordinasi dan kinerja setiap organisasi perangkat daerah yang terlibat penanggulangan bencana tetap perlu ditingkatkan,” saran Purwoto, Kalaksa BPBD Kabupaten Malang.

Urusan kemanusiaan dan kebencanaan memang menjadi tanggung jawab bersama yang melintasi batas-batas wilayah. Sesuai dengan paradigma modern, penanggulangan bencana tidak bertumpu pada pemerintah atau BPBD semata, tetapi perlu bergerak bersama dalam bingkai kolaborasi multipihak.

Baca Juga :  Dewan Pendidikan Purworejo 2025–2030 Resmi Dilantik, Tegaskan Komitmen Tuntaskan Anak tidak Bersekolah

Maka, Gladi Lapang melibatkan berbagai unsur pentahelix. Mulai dari organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang, TNI-Polri, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kota Malang, BPBD Kota Batu, organisasi relawan, dunia usaha, akademisi, media, hingga masyarakat.

Pelaksanaan Gladi Lapang ini adalah bentuk kerja sama antara BPBD Kabupaten Malang dengan Pemerintah Australia melalui program penguatan ketangguhan bencana.

“Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana terbesar. Maka, kegiatan penanggulangan bencana penting bagi negara ini. Selain itu, Indonesia merupakan negara yang penting bagi Australia,” ucap Deswanto Marbun, Head of Subnational Program SIAP SIAGA.

Selanjutnya, hasil simulasi akan dijadikan bahan evaluasi untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor di lingkungan Pemerintah Malang dan daerah sekitarnya. Terutama dalam menyamakan persepsi, mengasah keterampilan, dan mempererat jejaring komunikasi antarinstansi dalam menentukan jalur evakuasi, titik pengungsian, serta mekanisme distribusi logistik.

Melalui sinergi ini, budaya sadar bencana mulai ditanamkan dalam diri masyarakat. Semua untuk membentuk masyarakat tangguh, mandiri dan tahu ke mana harus melangkah, apa yang harus dievakuasi dan mampu saling menyelamatkan satu sama lain. Ketangguhan sebuah daerah dimulai dari ketangguhan komunitas terkecilnya di tingkat desa. (il)