Blitar, insanimedia.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar menemukan 19 kasus baru tuberkulosis (TBC) melalui program skrining menggunakan layanan mobile X-ray. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Sukorejo menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak, yakni delapan pasien.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati, mengatakan skrining tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat penemuan kasus TBC agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
“Ditemukan 19 kasus baru TBC. Untuk wilayah yang paling banyak ditemukan, Kecamatan Sukorejo ada delapan kasus TB baru,” ujar Silvia.
Menurutnya, pemeriksaan dengan mobile X-ray tidak hanya menyasar masyarakat yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC. Dinkes juga memprioritaskan kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar penyakit tersebut.
“Sasarannya yang memiliki kriteria bergejala, kemudian DM, ODHIV, kontak erat, dan balita dengan gizi kurang,” jelasnya.
Silvia menjelaskan, penggunaan mobile X-ray memudahkan petugas melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan foto rontgen dada. Kehadiran layanan tersebut juga mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat karena pemeriksaan dapat dilakukan langsung di wilayah sasaran.
“Manfaatnya bisa mendeteksi dini penyakit TB melalui foto rontgen dada, kemudian membawa layanan kesehatan langsung ke wilayah masyarakat sehingga memudahkan akses pelayanan,” katanya.
Setelah menjalani skrining, warga yang diduga terpapar TBC akan diarahkan mengikuti pemeriksaan lanjutan menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk memastikan keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis.
Namun, Silvia mengungkapkan tidak semua warga yang masuk kategori terduga dapat menjalani pemeriksaan TCM. Kondisi tersebut umumnya terjadi pada warga yang tidak mengalami gejala atau tidak dapat mengeluarkan dahak sebagai sampel pemeriksaan.
“Sebagian besar terduga menjalani pemeriksaan TCM. Tetapi ada yang tidak TCM apabila tidak bergejala atau tidak bisa mengeluarkan dahak,” ungkapnya.
Dinkes Kota Blitar berencana melanjutkan program skrining mobile X-ray hingga November 2026. Pemeriksaan selanjutnya akan difokuskan pada lokasi dan kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi penularan TBC, seperti lembaga pemasyarakatan, pondok pesantren, serta keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC.
“Masih ada sampai November 2026 dengan sasaran lapas, pondok pesantren, serta kontak erat atau serumah pasien TB,” pungkas Silvia.







