insanimedia.id, Surabaya- Kapan terakhir kali Anda pergi ke gunung? Mungkin untuk menikmati udara yang sejuk. Menginap di hotel dengan pemandangan pegunungan. Berfoto dengan latar belakang awan pegunungan. Atau mendaki hingga ke puncaknya sebagai tantangan dan kebanggaan. Namun pernahkah kita saat berada di pegunungan itu kita memandangi gunung, lalu bertanya, “Ya Allah, untuk apa Engkau menciptakan gunung?”
Setiap orang berkesempatan melihat gunung. Tentu dengan cara pandang yang berbeda. Wisatawan memandang gunung untuk menikmati keindahannya. Ilmuwan memandang gunung sebagai obyek untuk mempelajari proses terbentuknya atau kandungan di dalamnya. Tetapi orang-orang yang Ulul Albab memandang gunung sebagai ayat Allah. Mereka tidak berhenti pada kekaguman terhadap ciptaannya, tetapi melanjutkannya menjadi kekaguman kepada Sang Penciptanya.
Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan gunung. “Tidakkah mereka memperhatikan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan?” (QS. Al-Ghasyiyah: 19). Ayat ini disamping mengajarkan geografi, juga mengajarkan cara berpikir. Allah mendidik manusia agar tidak hanya melihat bentuk gunung, tetapi memahami hikmah di balik keberadaannya.
Semakin berkembang ilmu pengetahuan tentang gunung, semakin kita menyadari bahwa gunung bukan sekedar tumpukan batu raksasa. Gunung adalah salah satu sistem penyangga kehidupan yang paling penting di bumi. Di dalam gunung tersimpan lapisan batuan yang menyimpan sejarah bumi. Lereng-lerengnya menjadi rumah bagi ribuan jenis tumbuhan dan satwa.
Hutan pegunungan menghasilkan oksigen, menyerap karbon, menjaga keseimbangan iklim, serta menjadi daerah tangkapan hujan yang menyimpan air di dalam tanah. Dari sanalah lahir mata air, mengalir menjadi sungai, mengairi sawah, memenuhi waduk, lalu sampai ke rumah-rumah kita sebagai air minum. Dengan kata lain, segelas air yang kita minum hari ini mungkin memulai perjalanannya dari sebuah hutan di lereng gunung.
Karena itu, ketika Al-Qur’an menyebut gunung sebagai “awtaad” (pasak-pasak), sesungguhnya Allah sedang mengingatkan bahwa gunung memiliki fungsi penting dalam keteraturan bumi. Banyak mufasir memaknai ayat ini sebagai penegasan bahwa gunung berperan dalam menjaga kestabilan bumi dan kehidupan di atasnya. Ilmu geologi modern juga menunjukkan bahwa pegunungan memiliki struktur yang memanjang jauh ke bawah permukaan bumi, sehingga bagian yang tampak hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan strukturnya.
Namun pesan utama ayat ini bukanlah menjadikan Al-Qur’an sebagai buku Pelajaran geologi saja, tetapi mengajak manusia merenungkan kebijaksanaan Allah dalam penciptaan alam.
Sayangnya, manusia modern sering memandang gunung hanya sebagai objek eksploitasi. Hutan ditebang tanpa kendali. Lereng digali tanpa perhitungan. Tambang dibuka tanpa memikirkan daya dukung lingkungan. Jalan dibelah tanpa memperhatikan keseimbangan ekosistem.
Ketika gunung mulai gundul, maka mata air lama-lama akan mengering. Ketika pepohonan hilang, maka tanah kehilangan kemampuannya menyerap air. Hujan yang mestinya menjadi rahmat berubah menjadi banjir dan longsor. Sungai dipenuhi lumpur. Sawah kehilangan irigasi. Desa-desa kehilangan sumber kehidupan. Lalu dengan gampanagnya kita menyebutnya sebagai bencana alam. Padahal yang terjadi sesungguhnya bukan sekedar bencana alam, tetapi akibat dari kerusakan yang dibuat manusia sendiri.
Bukankah Allah telah mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41). Dan Allah juga berfirman, “Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat-ayat ini terasa semakin relevan pada zaman ketika kerusakan lingkungan sering kali berakar pada keserakahan manusia. Dalam perspektif Islam, menjaga alam bukan sekadar menyintai lingkungan, tetapi bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi.
Gunung juga tidak hanya mengajarkan ilmu tentang bumi. Ia juga mengajarkan ilmu tentang kehidupan. Perhatikanlah. Gunung menjulang tinggi, tetapi tidak pernah sombong. Ia berdiri kokoh, tetapi tidak pernah memamerkan kekuatannya. Ia diam, tetapi dari diamnya lahir mata air yang menghidupi jutaan makhluk. Ia tidak mencari tepuk tangan, tetapi manfaatnya dirasakan oleh semua.
Bukankah demikian pula seharusnya kita sebagai seorang mukmin? Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin besar kedudukannya, semakin luas manfaatnya. Semakin bertambah usianya, semakin banyak kesejukan yang ia hadirkan bagi orang lain.
Gunung juga mengajarkan bahwa sesuatu yang paling penting sering kali tidak tampak oleh mata. Sebagian besar struktur gunung justru berada di bawah permukaan bumi. Begitu pula kehidupan manusia. Yang menopang seseorang bukanlah gelar yang terpampang di depan namanya. Bukan pula jabatan yang ia duduki. Tetapi fondasi yang tidak terlihat, yaitu: keimanan, kejujuran, keikhlasan, integritas, dan akhlak. Fondasi itulah yang membuat seseorang tetap teguh ketika badai kehidupan datang menerpa.
Barangkali inilah pelajaran terdalam yang ingin Allah ajarkan melalui gunung. Allah tidak menciptakan gunung hanya sekedar untuk menjadi latar belakang foto liburan. Tetapi gunung adalah sekolah kehidupan. Ia mengajarkan keteguhan tanpa kesombongan, manfaat tanpa riuh pujian, dan kekokohan yang lahir dari fondasi yang kuat.
Maka, lain kali ketika Anda memandang gunung, jangan hanya berkata, “Subhanallah… Indah sekali.” Tetapi juga cobalah tenang dan khusyuk sejenak. Renungkanlah. Mungkin Allah sedang mengajak Anda memahami bahwa gunung bukan hanya ciptaan yang indah untuk dipandang, tetapi amanah yang harus dijaga. Sebab ketika gunung tetap lestari, mata air akan terus mengalir, pepohonan akan tetap menghijau, kehidupan akan terus bertumbuh, dan manusia akan terus belajar membaca tanda-tanda kebesaran-Nya






