Kampus, Industri, dan Pemerintah Bersama Membangun Ekosistem Pekerjaan yang Bermutu

Oleh Ulul Albab Pendiri Kampus Kehidupan

SURABAYA, INSANIMEDIA.ID – Pengakuan Menteri Ketenagakerjaan tentang ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri sebagaimana banyak diberitakan media, harus dibaca sebagai PR bersama. Masalah ini terlalu besar jika hanya dibebankan kepada wisudawan. Ketika lulusan sulit memperoleh pekerjaan, yang perlu diperiksa bukan hanya kemampuan mereka, tetapi juga mutu pembelajaran, keterlibatan industri, dan arah kebijakan penciptaan kerja.

Perguruan tinggi harus berani berbenah. Mahasiswa tidak cukup dilatih menjawab ujian; mereka perlu dibiasakan membaca persoalan, bekerja dalam tim, mengolah informasi, dan menghasilkan solusi. Setiap lulusan idealnya membawa tiga bekal: ijazah, portofolio, dan pengalaman menyelesaikan masalah nyata. Pusat karier pun jangan sekadar menyebarkan lowongan, tetapi mendampingi transisi mahasiswa menuju dunia profesional.

Industri juga tidak boleh hanya menuntut lulusan siap pakai. Jika posisi pemula selalu mensyaratkan pengalaman, siapa yang menyediakan pengalaman pertama? Industri perlu terlibat dalam perancangan proyek pembelajaran, menyediakan magang bermutu, memberi pembimbing, membuka posisi pemula yang masuk akal, dan melatih tenaga yang telah direkrut. Talenta tidak selalu ditemukan dalam keadaan jadi; ia sering tumbuh karena diberi kesempatan.

Wisudawan (lulusan perguruan tinggi) itu sendiri jangan lagi menunggu keadaan sempurna. Mereka dapat memulai dengan memetakan kompetensi, menyusun portofolio, mengerjakan proyek kecil, memperluas jejaring, dan meminta umpan balik. Dosen serta akademisi perlu hadir sebagai penghubung pengetahuan dengan kenyataan: membawa persoalan masyarakat dan industri ke ruang belajar, sekaligus menjaga agar pendidikan tidak kehilangan karakter, etika, dan orientasi pengabdian yang menjadi dasar kemajuan bangsa bersama.

Sementara itu, pemerintah tidak cukup menjawab persoalan melalui program pemagangan saja. Magang hanyalah jembatan. Pemerintah harus menyediakan peta kebutuhan kompetensi, menghubungkan kebijakan pendidikan dengan investasi, melindungi peserta magang, memberi insentif kepada perusahaan yang melatih pekerja muda, dan memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan pekerjaan yang layak.

Baca Juga :  Reshuffle Kabinet Prabowo: Antara Konsolidasi Politik dan Efektivitas Pemerintahan

Sudah waktunya ketiganya berjalan bersama. Kampus menyiapkan pengetahuan, industri menyediakan ruang praktik, pemerintah membangun data dan insentif. Ijazah memang diterbitkan