Romy Soekarno Anggota Komisi II DPR RI Ajak Gen Z Kawal Demokrasi Digital

Penulis : Rizma N.A

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Generasi Z tidak cukup hanya aktif menggunakan media sosial. Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong anak muda menjadi pemilih kritis, mandiri, dan melek digital untuk ikut mengawal kualitas demokrasi Indonesia menuju Pemilu 2029.

Romy menyampaikan pesan tersebut saat menghadiri Sosialisasi Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2026 di Hotel Santika, Minggu (20/9/2026). Ia menilai perkembangan teknologi digital membuat generasi muda memiliki peran strategis dalam menghadapi berbagai tantangan demokrasi.

Romy mengatakan pendidikan pemilih bagi Gen Z perlu menyentuh sejumlah persoalan yang berkembang di ruang digital. Beberapa di antaranya meliputi digitalisasi pemilu, penyebaran hoaks, aktivitas buzzer, politik uang, hingga penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Gen Z ini sangat nyambung ketika saya bicara digitalisasi pemilu, bagaimana itu hoaks, bagaimana itu buzzer. Saya memberikan arahan bagaimana mereka menjadi pemilih yang berjiwa merdeka,” kata Romy.

Romy meminta Gen Z membangun “jiwa merdeka” ketika menentukan pilihan politik. Ia menekankan pentingnya kemampuan generasi muda menyaring informasi dan mengambil keputusan berdasarkan kesadaran sendiri tanpa mudah terpengaruh kepentingan tertentu.

Menurut Romy, pendidikan pemilih tidak boleh berhenti pada pemahaman mengenai teknis pelaksanaan pemilu. Generasi muda juga perlu mempelajari rekam jejak calon serta memahami dampak dari pilihan politik yang mereka ambil.

Ia juga mengingatkan generasi muda mengenai dampak politik uang yang tidak hanya terjadi saat proses pemilu berlangsung, tetapi dapat menimbulkan konsekuensi dalam jangka panjang.

Dalam kesempatan tersebut, Romy turut menyampaikan gagasan mengenai e-operating system yang dapat menjadi semacam “Kawah Candradimuka” bagi Gen Z. Konsep itu dapat digunakan untuk memperkenalkan sekaligus menyimulasikan pemilu berbasis teknologi, termasuk memahami mekanisme e-voting.

Selain menjadi pemilih yang kritis, Romy mendorong Gen Z membantu masyarakat yang belum memiliki pemahaman memadai tentang teknologi digital. Menurutnya, generasi muda dapat berperan sebagai penghubung literasi teknologi bagi masyarakat di berbagai sektor.

Baca Juga :  Diterima Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati, Guru Madrasah Tagih Janji Kesetaraan PPPK dan TPG Bulanan

“Yang ekonomi menengah ke bawah atau yang tidak mengerti teknologi, kalianlah yang harus bertugas untuk membicarakan kepada mereka,” ujarnya.

Romy juga meminta Gen Z tidak menjadi konsumen pasif di tengah derasnya arus informasi digital. Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk mengenali hoaks, memahami pola kerja buzzer, serta memperluas wawasan mengenai sejarah, geopolitik, teknologi, dan perkembangan AI.

Romy berharap Pendidikan Pemilih Berkelanjutan 2026 dapat memperkuat kapasitas generasi muda dalam menghadapi tantangan demokrasi digital. Ia mendorong Gen Z tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memanfaatkannya secara kritis untuk menjaga kualitas demokrasi Indonesia menuju Pemilu 2029.