Purworejo, insanimedia.id – Tiga siswa SMAN 7 Purworejo berhasil membawa pulang medali emas dari ajang internasional di Malaysia. Mereka memanfaatkan daun yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar sebagai bahan utama inovasi ecoprint.
Ketiga siswa tersebut yakni Vania Anindita Nabila Maharani (17), Khumaira Azalia Fatikhah (17), dan Dewa Nasywa Puteri Surya Negara (18). Ketiganya merupakan siswa kelas XII SMAN 7 Purworejo.
Tim tersebut meraih Gold Medal dalam Virtual International Breakthrough Invention, Innovation & Design Exhibition (VI-BiiDE) 2026 yang digelar Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Mereka membawa karya berjudul “Ecoprint Qastra as an Eco-Friendly Innovation in Supporting SDGs”.
Tim SMAN 7 Purworejo mengikuti kompetisi kategori Social Science (SS) bersama peserta dari sejumlah negara. Mereka akhirnya meraih medali emas sekaligus menempati posisi pertama pada kategori tersebut.
Panitia kemudian menyerahkan penghargaan dalam Grand Closing & Award Ceremony VI-BiiDE 2026 pada 27 Agustus 2026 di Dewan Titiwangsa, UiTM Pahang, Malaysia.
Karya Ecoprint Qastra memanfaatkan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Tim mengolah daun dari berbagai jenis tanaman menjadi motif alami pada produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mengedepankan aspek ramah lingkungan.
Khumaira Azalia Fatikhah mengatakan tim sengaja memilih bahan yang mudah ditemukan agar inovasi tersebut memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
“Kami coba memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar, kemudian kami olah dengan biaya murah dan rendah, namun bisa bernilai jual tinggi,” ucap Khumaira Azalia Fatikhah.
Menurut Aira, sapaan Khumaira Azalia Fatikhah, keberadaan beragam tanaman di Indonesia memberikan keuntungan dalam pengembangan ecoprint. Tim memanfaatkan daun dari berbagai tanaman untuk menghasilkan motif yang berbeda pada produk.
Keberagaman tumbuhan tersebut juga menjadi salah satu hal yang menarik perhatian saat mereka mempresentasikan inovasi di hadapan peserta dan juri kompetisi.
“Dari ecoprint itu masih sangat jarang di luar negeri. Motifnya dari daun di Indonesia itu banyak, sementara di luar negeri sedikit,” katanya.
Para peserta juga mendapat pertanyaan mengenai kemudahan memperoleh bahan baku ecoprint. Tim kemudian menjelaskan bahwa mereka dapat menemukan bahan tersebut dengan mudah di Indonesia.
“Kami sempat ditanya, ini kira-kira untuk daun mudah didapat tidak. Kami jawab mudah di Indonesia karena banyak di kebun-kebun, bahkan di semak-semak yang jarang dimanfaatkan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuat tim semakin melihat potensi kekayaan flora Indonesia sebagai sumber bahan inovasi. Mereka juga berusaha menggabungkan nilai lingkungan, ekonomi, dan sosial melalui karya yang dikembangkan.
“Bagi kami, ecoprint bukan hanya persoalan menghasilkan motif yang menarik. Ada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial yang coba mereka satukan dalam karya tersebut,” ucapnya.
Dewa Nasywa Puteri Surya Negara menambahkan, kompetisi VI-BiiDE 2026 menjadi pengalaman internasional kedua bagi tim SMAN 7 Purworejo. Sebelumnya, mereka juga mengikuti kompetisi serupa dan berhasil memperoleh prestasi di tingkat internasional.
“Keberhasilan VI-BiiDE 2026 ini capaian kedua bagi kami yang semakin memperkuat pengalaman kami dalam membawa inovasi sekolah ke tingkat internasional,” katanya.
Dewa menjelaskan, tim tahun ini tetap mengangkat peran teknologi dan kreativitas untuk menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun, ketiga siswa menghadapi tantangan dalam mempersiapkan kompetisi karena mereka sudah memasuki kelas XII. Pada waktu bersamaan, mereka harus mempersiapkan berbagai agenda akademik, termasuk Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Awalnya kami mantap maju, tapi di pertengahan karena sudah kelas XII ada TKA. Kalau misalnya lolos, diundang ke sana dan tabrakan dengan jadwal TKA bagaimana,” ujarnya.
Setelah berkonsultasi dengan pihak sekolah, ketiganya memilih tetap mengikuti kompetisi. Mereka mengambil keputusan tersebut setelah abstrak karya dinyatakan lolos dan mempertimbangkan kesempatan yang sudah diperoleh.
“Keputusan ini akhirnya terjawab, kami berujung pada penghargaan tertinggi ini. Terimakasih kepada bapak ibu guru. Menurut kami ini tradisi baik, semoga setelah kami lulus, ada yang meneruskannya,” harapannya.
Kepala SMAN 7 Purworejo Hari Peni S. Pamedar, S.Si., M.Pd., M.Eng mengapresiasi pencapaian ketiga siswanya. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya membawa pulang medali, tetapi juga mengharumkan nama sekolah di tingkat internasional.
“Kami apresiasi ketiganya dan memperkenalkan capaian tersebut kepada warga sekolah dalam upacara. Apresiasi, membawa nama besar sekolah, nama baik sekolah di kancah internasional. Mereka luar biasa,” ungkapnya.
Hari Peni menjelaskan, keikutsertaan siswa dalam kompetisi tersebut sekaligus menjadi penerapan pembelajaran berbasis STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics.
Sekolah terlebih dahulu melakukan seleksi internal sebelum menentukan siswa yang mengikuti kompetisi. Proses tersebut mempertimbangkan kemampuan akademik, keterampilan, dan kesiapan siswa.
“Kami tawarkan kepada anak-anak yang mampu secara akademik, keterampilan, dan finansial, karena kegiatan ini 100 persen kegiatan mandiri dari siswa dengan dukungan orang tua,” tegasnya.
Ketiga siswa tersebut berasal dari kelas XII IPA. Latar belakang pembelajaran IPA mendukung karakter kompetisi yang membutuhkan kemampuan riset, kreativitas, pengembangan produk, serta keterampilan presentasi.
Prestasi tersebut sekaligus mendorong SMAN 7 Purworejo untuk terus memberikan ruang kepada siswa dalam mengembangkan kemampuan STEM. Sekolah juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengikuti berbagai kompetisi pada tingkat yang lebih luas.
Dukungan orang tua turut membantu siswa mengikuti kompetisi internasional tersebut. Antusiasme siswa lain juga cukup tinggi, meski sekolah tetap menerapkan proses seleksi bagi peserta yang akan mengikuti ajang internasional.
Bagi ketiga siswa, medali emas di Malaysia tidak sekadar menjadi penghargaan. Prestasi itu menjadi pengalaman yang menunjukkan bahwa gagasan sederhana dari lingkungan sekitar dapat berkembang menjadi karya inovatif dan mendapat apresiasi di tingkat internasional.
“Manfaat lain yang mereka rasakan tentu ada, terutama dalam perjalanan menuju perguruan tinggi. Yang jelas ini kebanggaan bagi anak-anak dan sekolah,” tandasnya.
Daun yang selama ini mudah ditemukan di halaman, kebun, maupun semak-semak akhirnya menjadi bahan penting dalam karya tiga siswa SMAN 7 Purworejo. Mereka membuktikan bahwa kekayaan alam sekitar dapat diolah menjadi inovasi bernilai hingga mampu bersaing di panggung internasional.







