insanimedia.id – SURABAYA – Menjelang Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dimulai Senin (12/7/2026), tapi masih sekolah tingkat SMA/SMK di sejumlah daerah di Jawa Timur kekurangan murid.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai melaporkan sebanyak 618.479 siswa SMA/SMK/SLB baik negeri maupun swasta di Jatim akan mengikuti MPLS Tahun Ajaran 2026/2027.
Namun, Aries juga mengakui hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) masih menyisakan sejumlah sekolah yang kekurangan murid karena belum memenuhi kuota.
Aries tak menyebut pasti jumlahnya tapi laporan tersebut ditemukan di beberapa kabupaten seperti Madura, Ponorogo, Situbondo, Bondowoso, Lamongan, Madiun, Magetan, dan Lumajang.
Merespons masalah tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan sistem seleksi saat ini justru memberikan peta kompetisi yang lebih adil dan kondusif, terutama bagi eksistensi sekolah swasta.
Menurutnya, sistem TKA membuat persaingan masuk sekolah negeri menjadi sangat ketat, sehingga banyak calon siswa yang belum berhasil mendapatkan kursi di sekolah negeri.
“Hari ini penerimaan parameternya sederhana tapi bukan berarti gampang. Nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) ini bukan rapor saja. Maka sebenarnya banyak juga yang tidak mendapatkan kursi di negeri,” kata Emil di Malang, Sabtu (11/6/2026).
Pemprov Jatim alokasikan anggaran untuk beasiswa sekolah swasta
Emil mengklaim bahwa Pemprov Jatim tidak membedakan pelayanan kepada sekolah swasta dan negeri. Saat ini, sekolah swasta juga sudah menjadi mitra strategis yang memiliki peran setara dengan negeri.
Pemprov telah mengucurkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) untuk bantuan pendidikan melalui Bantuan Operasional Daerah (BOP) hingga 60 persen untuk sektor swasta.
“Kita berusaha menjaga betul bahwa swasta ini punya peran positif dalam mendidik anak-anak kita bukan hanya sekolah-sekolah negeri saja. Sehingga kita memberikan BOP misalnya semacam BOS dari APBD itu juga ke swasta bahkan 60% itu sekolahnya di swasta,” bebernya.
Pemprov Jatim telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 2.100 lembaga SMA/SMK swasta dengan total kuota beasiswa mencapai 80.000 kursi.
“Sekarang katakanlah sudah tidak ada perdebatan karena nilai akademik. Tetapi kemudian tugas dari pemerintah adalah mendidik semua bukan saja yang TKA-nya bagus dan bisa diterima di negeri,” terangnya.
Petakan kompetisi antar sekolah swasta
Dengan dukungan tersebut, Pemprov menilai bahwa situasi di lapangan seharusnya jauh lebih menguntungkan bagi sekolah swasta untuk menarik minat peserta didik baru.
Namun, menanggapi adanya laporan masih ada sekolah yang kekurangan di beberapa titik, Pemprov akan melakukan evaluasi lebih detail untuk melihat apakah fenomena ini terjadi secara global atau hanya dialami oleh sekolah swasta tertentu.
Pemprov tidak menampik bahwa selain bersaing dengan sekolah negeri, kompetisi kualitas dan daya tarik antar-sesama sekolah swasta juga turut berpengaruh dalam perolehan siswa baru menjelang tahun ajaran baru ini.
“Nanti saya akan bahas kalau memang ada concern apakah ini global secara keseluruhan sekolah-sekolah swasta atau sekolah-sekolah swasta tertentu karena kompetisi diantara sekolah-sekolah swasta kan juga ada,” pungkasnya (il)







