Blitar, insanimedia.id— Proyek pembangunan Joko Pangon mendapat sorotan Komisi III DPRD Kota Blitar. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak), dewan menemukan sejumlah bagian pekerjaan yang dinilai masih perlu dibenahi, terutama terkait kualitas material dan ketepatan ukuran.
Anggota Komisi III DPRD Kota Blitar Totok Sugiharto mengatakan, catatan dari hasil sidak tersebut belum dapat dikategorikan sebagai temuan. Meski begitu, pihaknya meminta kontraktor segera melakukan pembenahan agar pelaksanaan proyek tetap mengacu pada spesifikasi yang telah ditentukan.
“Saya rasa bukan temuan, cuma ada beberapa yang harus diperbaiki. Kualitas bahan utamanya pasir, kita minta ambil di Brantas. Kemudian ada beberapa yang perlu diperbaiki terkait ukuran. Ukurannya harus tepat,” ujar Totok.
Selain material dan ukuran pekerjaan, Komisi III turut mencermati progres pembangunan proyek Joko Pangon. Dari hasil pengecekan di lapangan, perkembangan pekerjaan baru mencapai sekitar 6,8 persen.
Kontraktor disebut menargetkan progres meningkat menjadi 10 persen dalam waktu dekat. Dewan juga menjadwalkan pengecekan kembali pada awal Oktober untuk memastikan perkembangan pembangunan sesuai target.
“Masih 6,8 persen. Targetnya per Sabtu katanya mau mencapai 10 persen. Tapi yang penting awal Oktober nanti kita datangi lagi, setidaknya 20 sampai 25 persen ini bisa diwujudkan,” jelasnya.
Proyek Joko Pangon memiliki nilai kontrak sekitar Rp3,078 miliar setelah melalui proses lelang. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang mencapai sekitar Rp3,8 miliar.
Pekerjaan proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2 Desember mendatang. Komisi III DPRD Kota Blitar akan kembali memantau progres pembangunan untuk melihat sejauh mana target yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Totok menambahkan, kondisi cuaca juga menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi percepatan pekerjaan di lapangan.
“Ya, coba kita lihat. Mudah-mudahan tidak hujan. Kalau hujan, ya sudah,” pungkasnya.






