SMK Go Global Cilacap Siapkan Generasi Muda ke Pasar Kerja Dunia

Penulis : Joe Hartoyo

Insani Media

Cilacap, insanimedia.id – Pemerintah resmi memulai Program SMK Go Global di Kabupaten Cilacap sebagai langkah untuk meningkatkan kompetensi generasi muda agar mampu bersaing di pasar kerja internasional. Kick Off SMK Go Global berlangsung di Aula UPTD BLK Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Cilacap, Rabu (27/8/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan peserta pelatihan peningkatan kapasitas Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir, di antaranya Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Ariani, Kepala Disnakerin Kabupaten Cilacap Farid Rijanto, Kepala BLK Cilacap Wagino, perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cilacap, jajaran Bank Jateng, serta perwakilan P3MI di wilayah Cilacap.

Program SMK Go Global memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan pasar kerja luar negeri. Sebanyak 60 peserta di Cilacap mengikuti pelatihan teknis dan sertifikasi caregiver sebagai persiapan sebelum menjalani tahapan penempatan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Pemerintah melaksanakan Kick Off SMK Go Global secara serentak di berbagai daerah melalui konferensi video mulai pukul 13.00 WIB. Peserta di Cilacap mengikuti kegiatan tersebut sekaligus menyimak arahan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Muhtarudin.

Muhtarudin menekankan pentingnya peningkatan kompetensi CPMI agar mampu memenuhi standar tenaga kerja internasional. Menurutnya, program tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi juga membangun ekosistem vokasi yang dapat menghubungkan lulusan dengan kesempatan kerja di luar negeri.

Program SMK Go Global merupakan bagian dari direktif Presiden untuk menyiapkan 500.000 tenaga kerja. Jumlah tersebut terdiri atas 300.000 CPMI lulusan SMK dan 200.000 CPMI umum yang akan diarahkan mengisi berbagai sektor pekerjaan yang membutuhkan tenaga kerja di pasar internasional.

Sektor tersebut mencakup caregiver, welder, hospitality, nurse, truck driver, manufaktur, transportasi, pertanian, konstruksi, hingga bidang kelautan. Pemerintah memproyeksikan sejumlah negara sebagai tujuan penempatan, seperti Jepang, Korea Selatan, Jerman, Australia, Malaysia, Singapura, negara-negara Eropa, Turki, dan Taiwan.

Baca Juga :  Pemkot Blitar Relokasi Tiga TK Negeri Ditargetkan Selesai Agustus Mendatang

Pemerintah akan melaksanakan penempatan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan pasar kerja serta perkembangan geopolitik. Pemerintah juga menekankan bahwa peningkatan jumlah PMI harus berjalan bersama peningkatan kualitas dan perlindungan tenaga kerja.

Karena itu, pemerintah menempatkan pembekalan, pelatihan, sertifikasi, pemetaan kebutuhan tenaga kerja, dan proses penempatan sebagai rangkaian yang saling berkaitan. Muhtarudin juga meminta program SMK Go Global tidak berhenti setelah peserta memperoleh pelatihan dan sertifikat.

Peserta yang telah memiliki kompetensi harus memperoleh akses menuju pekerjaan yang sesuai. Pemerintah perlu memperkuat pemetaan pasar kerja internasional, kerja sama dengan negara tujuan, serta memastikan proses penempatan berjalan sesuai aturan.

Setelah mengikuti Kick Off secara daring, Kepala BP3MI Jawa Tengah Dewi Ariani memberikan pengarahan langsung kepada peserta di Cilacap. Ia meminta peserta mengikuti pelatihan dengan serius dan memanfaatkan program tersebut untuk meningkatkan keterampilan teknis sekaligus kesiapan bekerja di lingkungan internasional.

Dewi menilai pelatihan caregiver menjadi tahapan penting untuk membangun kemampuan peserta sebelum menjalani proses penempatan sebagai PMI. Ia menyebut kebutuhan tenaga kerja luar negeri harus diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja yang mempunyai keterampilan, sertifikasi, kedisiplinan, serta memahami prosedur penempatan resmi.

“Pelatihan ini harus benar-benar dimanfaatkan oleh peserta untuk meningkatkan kompetensi. Jangan hanya mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikat, tetapi harus mampu menguasai keterampilan yang diberikan sehingga ketika ada peluang kerja di negara penempatan, peserta sudah siap dan mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain.” ujar Dewi Ariani.

Dewi juga mengingatkan calon PMI agar memilih jalur resmi ketika hendak bekerja di luar negeri. Menurutnya, kompetensi menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat perlindungan calon PMI sebelum mereka ditempatkan.

Baca Juga :  Mahasiswa Semester Akhir, Jangan Asal Foto Buku untuk Skripsi, ini Alasannya

“Seperti yang saya sampaikan dalam kegiatan ini, anak-anak muda kita memiliki potensi yang besar. Tugas kita adalah membuka akses dan memberikan pembekalan yang tepat agar mereka dapat mengambil peluang kerja global. Melalui SMK Go Global, kita ingin memastikan bahwa peserta tidak hanya dilatih, tetapi benar-benar dipersiapkan sampai memiliki kompetensi dan memiliki akses menuju pekerjaan yang sesuai.” kata Dewi.

Dewi menambahkan, pemerintah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga pelatihan, institusi pendidikan, P3MI, perbankan, dan mitra kerja di negara tujuan. Kerja sama tersebut diperlukan untuk memastikan persiapan CPMI berjalan terarah dan menghasilkan manfaat bagi peserta.

Ia menegaskan aspek perlindungan tetap menjadi prioritas dalam setiap proses penempatan PMI. Pemerintah tidak hanya mengejar peningkatan jumlah tenaga kerja yang ditempatkan di luar negeri, tetapi juga memastikan calon PMI memahami hak dan kewajiban serta mendapatkan informasi yang akurat mengenai pekerjaan dan negara tujuan.

“Kita ingin setiap peserta yang nantinya bekerja ke luar negeri berangkat dengan kompetensi yang kuat, melalui proses yang resmi, mengetahui hak dan kewajibannya, serta mendapatkan perlindungan. Jadi keberhasilan program ini bukan hanya berapa banyak yang berangkat, tetapi bagaimana mereka bisa bekerja dengan aman, profesional, produktif, dan kembali ke Indonesia dengan membawa manfaat bagi dirinya dan keluarganya.” ujar Kepala BP3MI Dewi Ariani.

Dewi kembali menekankan pentingnya SMK Go Global saat memberikan keterangan setelah kegiatan. Ia menyebut program tersebut dapat memperluas akses generasi muda Indonesia terhadap peluang kerja internasional melalui mekanisme penempatan yang resmi dan mengutamakan perlindungan.

Kick Off di Cilacap menjadi langkah awal untuk mengenalkan program kepada peserta dan masyarakat. Melalui pelatihan caregiver bagi 60 peserta, pemerintah berharap dapat menyiapkan calon tenaga kerja yang memiliki keterampilan, kesiapan mental, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap budaya dan lingkungan kerja di negara tujuan.

Baca Juga :  Ratusan Pemuda Galakkan Kampanye Perlindungan Anak di Panggung Festival Anak Surabaya 2025

Pemerintah berharap integrasi pelatihan, sertifikasi, pemetaan kebutuhan pasar kerja, hingga penempatan dapat membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi generasi muda Indonesia di tingkat global. Pada saat yang sama, peningkatan kompetensi dan perlindungan PMI diharapkan berjalan seimbang sehingga penempatan tenaga kerja Indonesia memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.