Blitar, insanimedia.id – Persoalan sampah masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Indonesia. Namun, upaya mengatasinya tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kemauan masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah dari rumah justru menjadi kunci penting dalam menciptakan perubahan.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo saat mengunjungi Bank Sampah Karya Berseri di Perumahan GKR, RW 17, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Minggu (8/11/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Ganjar melihat langsung aktivitas warga dalam mengelola sampah rumah tangga. Mulai dari pemilahan sampah organik dan anorganik hingga pengolahan sampah organik menjadi kompos menggunakan mesin dekomposter.
Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman, termasuk sayuran dan pohon buah di lingkungan warga. Selain itu, warga juga memanfaatkan lubang biopori sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan.
Ganjar mengapresiasi inisiatif dan konsistensi warga yang telah menjalankan pengelolaan sampah secara mandiri. Menurutnya, persoalan sampah sebenarnya bisa mulai diatasi melalui kebiasaan sederhana, asalkan masyarakat memiliki kemauan untuk melakukannya.
“Ora ngel kok, iki gampang, ming butuh gelem,” ungkap Ganjar.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak harus dipandang sebagai pekerjaan yang rumit. Kemauan untuk memilah, mengolah, dan membangun kebiasaan dari lingkungan rumah menjadi langkah awal yang dapat dilakukan setiap keluarga.
Ganjar berharap praktik baik yang dilakukan warga Bank Sampah Karya Berseri dapat diketahui lebih luas dan menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain. Ia juga mendorong agar kegiatan positif semacam ini disebarluaskan melalui media maupun media sosial sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menirunya.
“Nanti kita tanggal 14 akan rame-rame memilah sampah se-Indonesia,” ujarnya, merujuk pada rencana gerakan memilah sampah secara bersama-sama pada 14 November.
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Karya Berseri, Marfuah, menjelaskan bahwa bank sampah tersebut berdiri sejak 2023. Inisiatif itu bermula dari persoalan sampah rumah tangga yang semakin banyak dan menyulitkan petugas pengangkut.
Melalui bank sampah, warga kemudian membiasakan diri memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. Sampah anorganik dikumpulkan untuk dijual setiap bulan, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos yang dimanfaatkan kembali untuk tanaman.
Kunjungan Ganjar tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi persoalan sampah. Dari lingkungan kecil seperti tingkat RW, perubahan dapat dimulai melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah secara konsisten. (riz)







