Panen Padi di Desa Popoh, KabupatenBlitar Tembus 10,8 Ton per Hektare, Harga Gabah Rp7.800 per Kilogram

Penulis : Budi

Insani Media

Blitar, insanimedia.id – Petani di Desa Popoh, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar, meraih hasil panen padi yang menggembirakan. Di tengah cuaca panas berkepanjangan yang melanda Jawa Timur, produktivitas padi di wilayah tersebut mencapai 10,8 ton per hektare. Petani juga menikmati harga gabah yang cukup tinggi, yakni Rp7.800 per kilogram.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tugu Makmur Desa Popoh, Suyadi, menyebut kelancaran irigasi menjadi faktor utama yang mendukung peningkatan hasil panen. Ketersediaan air yang mencukupi membuat tanaman padi tetap tumbuh optimal meskipun wilayah tersebut menghadapi musim kemarau.

“Dampak negatifnya tidak ada karena air sangat lancar, tapi dampak positifnya luar biasa. Hasilnya dalam hitungan kami satu hektarnya mencapai 10 ton 80 kilogram. Ini hasil yang luar biasa,” ujar Suyadi.

Selain memperoleh hasil panen melimpah, petani juga mendapatkan keuntungan dari harga gabah yang mencapai Rp7.800 per kilogram. Berdasarkan perhitungan kasar, hasil panen sebanyak 10,08 ton per hektare dengan harga tersebut menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp78 juta dalam satu kali panen.

“Dengan harga Rp7.800, kami hitung itu sudah mendapatkan uang kurang lebih Rp78 juta per hektar. Kami harap kondisi seperti ini tidak hanya pada musim ini saja, tapi ada keberlanjutan. Karena petani merupakan penyangga ekonomi negara,” imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Selopuro, Astono, menjelaskan bahwa intensitas sinar matahari selama musim kemarau dapat membantu meningkatkan proses fotosintesis tanaman padi. Namun, petani harus memastikan kebutuhan air di lahan persawahan tetap terpenuhi agar tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan bulir secara optimal.

“Meski ada dampak El Nino, cuaca panas yang panjang ini karena air di sini mencukupi, justru membuat produksi padi lebih meningkat. Penyinaran matari yang cukup sangat bagus untuk pembuahan,” terang Astono.

Baca Juga :  Bawaslu Kabupaten Blitar Buat Surat Undangan Masih Cacat Formil, Kok Bisa

Astono menambahkan, keberhasilan petani meningkatkan produktivitas juga didukung penerapan agen hayati untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Petani mulai memanfaatkan mikroorganisme dan jamur antagonis sebagai alternatif pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Penggunaan agen hayati tersebut membantu menekan serangan hama sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sintetis. Langkah ini juga mendukung pemeliharaan keseimbangan ekosistem lahan pertanian dan mengurangi risiko gagal panen.

“Kelompok tani di sini sudah bisa menggunakan agen hayati untuk mengendalikan hama penyakit. Langkah ini penting untuk menjaga ekosistem lahan tetap seimbang dan menekan risiko gagal panen,” pungkasnya.